Assalaamu'alaikum wa rahmatullahi wa barakaatuhu
Amanah
Amanah sedang prihatin. Dia disia-siakan orang. Semakin banyak saja orang yang
tidak perduli dengannya. Padahal dia berusaha akrab di mana-mana. Di rumah
tangga, di lebuh, di lepau, di surau, di pasar, pokoknya di mana saja. Padahal
Amanah tidak pernah menyulitkan siapa-siapa. Dia hanya mengajak setiap orang
berbuat apa adanya. Berbuat tidak berlebih-lebihan dan tidak
berkurang-kurangan. Tapi entah kenapa, akhir-akhir ini semakin banyak
orang tidak perduli dan bahkan mencemoohnya. Di rumah tangga, baik istri maupun
suami sama-sama mengabaikan si Amanah. Begitu pula anak-anak. Dan bahkan si
pembantu. Semua...... tidak satupun yang memperdulikan. Si istri pergi
kemana dia suka, berbuat sekehendak hatinya tanpa mau mengajak-ajak si Amanah.
Dibiarkannya Amanah terabaikan. Padahal yang diharapkan si Amanah hanyalah
sekedar penjagaan sang istri atas martabat dirinya dan keluarganya. Agar dia
memelihara betul kehormatan dirinya dan kehormatan rumah tangga suaminya. Suami
demikian pula. Di rumah si Amanah di 'cuek'kannya, di kantorpun begitu pula.
Ketika di rumah si Amanah menginginkan agar dia, sang suami memelihara dirinya
dan keluarganya dari ancaman siksa api neraka, si suami itu tersenyum sinis.
Boro-boro mengawasi anak-anak atau istrinya dari mematuhi perintah Allah dan
menjauhi larangan Allah, dia sendiripun hampir-hampir tidak peduli dengan
perintah-perintah itu, dengan larangan-larangan itu. Dan ternyata dunia ini,
hidup ini begitu indah berbunga-bunga. Dunia gemerlapan dan riuh rendah.
Siangnya yang begitu memukau dengan nyamannya bau parfum, baik yang melengket
di tubuhnya setelah dia menyemprotnya dengan semprotan lembut, maupun yang
mendekat menjauh ke dirinya ketika dia berada di tempat menggeluti
hari-harinya. Bau parfum sekretaris dan orang-orang yang berurusan dengannya.
Begitu pula malamnya dibawah sorotan lampu temaram dan hentakan musik durjana.
Semuanya enak-enak saja tuh!? Tanpa dia perlu
mengurus si Amanah.
Anak-anak?!
Huh, ngapain juga mengurusi Amanah. Sekolah bisa cabut suka-suka. Bisa kabur
kemana-mana. Toh duit dari
‘bokap’ mengalir saja. ‘Nyokap’ gak pernah nanya-nanya. Aman kok. Mau merokok
kek, mau merokok lintingan kek, mau minum kek….. Noo problem… Pokoknya enjoy
saja. Pernah memang sekali waktu ditahan polisi karena tertangkap ketika dia
mengendarai
motor ugal-ugalan. Bukan saja sekedar ugal-ugalan, tapi juga sedikit mabok.
Tapi masih cukup sadar untuk menelepon ‘bokap’. Dan ternyata beres dah. Amanah
bingung dan dan nelangsa karena polisi itupun tidak perduli dengannya.
Di
rumah, sang pembantu cepat menyesuaikan diri. Bukan untuk bekerja dengan tekun
dan hati-hati. Urusan pekerjaan hampir tidak ada masalah. Semua bisa
diselesaikannya
dengan baik. Rumah selalu rapi dan bersih. Tidak banyak pekerjaan yang mesti
dikerjakannya karena di rumah ini banyak yang bekerja. Ada tukang kebun yang
mengurusi kebun. Ada penjaga bayi (bahasa
kerennya baby sitter) meski sang bayi sudah duduk di kelas dua SD. Ada tukang
masak karena dulu, tuan dan nyonya tidak mau memakan masakan sembarangan. Harus
yang dimasak tukang masak yang jagoan itu. Mungkin karena banyak kesempatan
untuk leha-leha, jadilah sang pembantu berpacaran dengan petugas Satpam.
Tukang kebun bersukaan
dengan si baby sitter. Semuanya asyik-asyik dan aman-aman saja. Tiada ada aral
melintang. Tiada ada sebarang kesulitan. Semua yang ikut berteduh di rumah itu
happy. Kecuali si Amanah.
Bagaimana
keadaan di luar rumah? Adakah yang perduli dengan Amanah? Entahlah. Tapi yang
tidak perduli banyak. Di jalan raya sudah kita sebut. Pengendara maupun penjaga
ketertiban berkendara serba ada yang tidak suka kepada Amanah. Di pinggir
jalan, dengan ukurannya pula Amanah tak digubris oleh tukang parkir. Begitu
juga di pasar. Begitu juga di toko dan di kedai. Banyak saja yang tidak
perduli.
Begitu
juga di sekolah, di perguruan tinggi… Masya Allah. Ada saja…, selalu saja
terdengar orang-orang
yang menyepelekan Amanah. Yang bahkan merasa terganggu kalau Amanah
disebut-sebut. Mereka merasa seakan-akan keprofesionalan mereka terusik kalau
harus mempertimbangkan pula keikutsertaan Amanah.
Yang
paling memilukan adalah ketika terjadi musibah besar. Terjadi bencana yang
banyak menelan korban nyawa maupun yang
terluka di samping rusaknya harta benda. Banyak bantuan datang untuk mengurangi
derita dan nestapa. Lalu ada pekerja dan petugas yang ikut turun tangan
menyingsingkan
lengan baju untuk menolong. Sayangnya ada beberapa tangan yang seyogiyanya
terpercaya, ternyata tega pula mengabaikan si Amanah
Malangnian nasib Amanah……. Begitulah keadaan si Amanah……
Wassalamu'alaikum
Muhammad Dafiq Saib Sutan Lembang Alam
Suku : Koto, Nagari asal : Koto Tuo - Balai Gurah, Bukit Tinggi
Lahir : Zulqaidah 1370H,
Jatibening - Bekasi
--
.
Posting yang berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan di tempat
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
1. E-mail besar dari 200KB;
2. E-mail attachment, tawarkan di sini dan kirim melalui jalur pribadi;
3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur dan Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer dan seluruh bagian tidak perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat e-mail baru, tidak me-reply e-mail lama dan
mengganti subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin mengubah konfigurasi/setting-an
keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.