Minang Saisuak #01 : Randai RANDAI adalah salah satu seni pertunjukan Minangkabau yang terkenal. Para peneliti Barat menyebutnya folk theatre atau open-air-theatre of Minangkabau. Menurut A.A. Navis (1984:276) “Randai yang terlihat seperti sekarang, dengan penampilan unsur lakon, lahir semenjak siswa Sekolah Raja (Kweekschool) di Bukittinggi pada tahun 1924 mengangkat certa “Cindur Mata” ke pentas sandiwara dengan menggunakan bahasa Minangbau.” (lihat juga Taufik Abdullah 1970).
Foto ini, yang dibuat C. Nieuwenhuis, merekam bentuk randai yang lebih sederhana: tampaknya hanya terdiri dari tarian perkelahian (vechtkunst) dan musik, dengan penampil semuanya laki-laki. Pertunjukan ini diadakan di Padang Panjang pada tahun 1890, diadakan di depan sebuah gedung pemerintah kolonial (soalnya kelihatan bendera Belanda berkibar tuh). Wah, para penontonnya kelihatan sangat antusias. Sebagai teater rakyat yang unik dan tak ada duanya di dunia, randai perlu kita lestarikan dan terus kita apresiasi, boleh saja kita sesuaikan dengan perkembangan zaman. VCD randai, seperti yang telah diproduksi oleh Tanama Record, Minang Record dan beberapa perusahaan rekaman lainnya di Sumatra Barat, misalnya, kenapa tidak? Ayo! Mari kita lestarikan randai. Suryadi – Leiden, Belanda (Sumber foto: KITLV Leiden). (Singgalang, Minggu, 6 Juni 2010) http://niadilova.blogdetik.com/2010/06/11/406/ ------- Minang Saisuak #02 : Bus Umum BUS UMUM adalah moda transportasi yang penting sejak dulu, apalagi bagi orang Minangkabau yang suka merantau. Kita tentu masih ingat kalason oto Gumarang yang mendayu-dayu di tahun 70-an, seolah ucapan selamat tinggal dari para lelaki Minang yang bertolak ke rantau kepada sanak famili dan kekasihnya yang ditinggalkan di ranah bundo. Dapat bepergian dengan bus pada masa dulu, seperti dapat dikesan dalam foto ini, sangat membanggakan hati, sama seprti naik Alva Romeo, Rolls-Royce atau Limousine sekarang. Kendaraan auto pertama kali diperkenalkan di Indonesia sekitar 1898 (De Locomotief, 17/6/1898). Foto koleksi F.H.J. Bal ini merekam bus umum trayek Padang Panjang – Batu Sangkar (Fort van der Capellen) sekitar 1935. Plat nomornya masih BB tuh. Rupanya dulu para penumpang bus tampil agak ‘parlente’ juga: pakai jas putih atau warna lain, dikombinasikan dengan pantalon putih atau sarawa jao. Sayang sekali jarang ada museum yang merekam sejarah transportasi di Indonesia. Bus seperti ini sudah tinggal kenangan saja. Dengan foto ini, sedikit banyaknya kita dibawa ke masa lampau sejarah transportasi di negeri kita, khususnya di Minangkabau. (Sumber foto: KITLV Leiden). Suryadi – Leiden, Belanda. (Singgalang, Minggu, 13 Juni 2010) http://niadilova.blogdetik.com/2010/06/14/minang-saisuak-02-bus-umum/ -- . Posting yang berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini dan kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur dan Lokasi pada setiap posting - Hapus footer dan seluruh bagian tidak perlu dalam melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat e-mail baru, tidak me-reply e-mail lama dan mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali serta ingin mengubah konfigurasi/setting-an keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.
