Berziarah Ke Tempat-Tempat Bersejarah, Menarik tetapi Membuat Kesehatan Kembali Merosot (A)
Sabtu 15 Februari Sesuai dengan pemberitahuan dari pimpinan kafilah kemarin petang, jam 7 pagi kami berkumpul di bukit Marwah seusai melakukan shalat shubuh dan shalat dhuha di Masjidil Haram guna melakukan ziarah ke tempat-tempat bersejarah di sekitar Masjidil Haram. Kegiatan tersebut merupakan salah satu kegiatan ziarah guna mengisi waktu luang di Makkah sebelum berangkat untuk berziarah ke Madinah dan melakukan arbain di Masjid Nabawi. Keberangkatan ke Madinah dijadwalkan tanggal 4 Maret, artinya 17 hari lagi dari hari ini. Menjelang saat keberangkatan itu, kami akan melakukan thawaf wada 1), karena dari Madinah kami akan langsung ke Jeddah dan kembali ke Tanah Air. Hari Senin 17 Februari lusa, kami kembali dijadwalkan akan berziarah ke beberapa tempat di sekitar Makkah, seperti Jabbal Tsur, Wadi Fatimah dan Hudaibiyah. Kepada para jemaah yang ingin melakukan umrah sunnah pada hari Senin itu, dipersilakan membawa pakaian ihram dengan bermiqat di Hudaibiyah. Pada saat rombongan berangkat dari Marwah, matahari sudah mulai tinggi dan menggigit. Dengan dipandu ustadz pembimbing kami berjalan dengan berbaris, mula-mula ke rumah kelahiran Nabi yang hanya dapat kami lihat dari luar, karena jemaah sama sekali tidak diperbolehkan masuk ke halamannya. Begitu melihat rumah kelahiran Nabi tersebut saya tidak dapat menahan tangis saya. Perjalanan kemudian dilanjutkan ke kaki Jabbal Nur di mana terletak Gua Hira, tempat Muhammad al-Amien banyak melakukan perenungan dan tempat beliau menerima wahyu pertama kali, seperti yang terekam dalam Surrah Al-`Alaq, yang ayat pertamanya diawali dengan kata-kata Iqra'! (Bacalah). Sewaktu mengikuti bimbingan manasik haji, semangat saya untuk naik ke gua yang sangat bersejarah tersebut sangat menggebu-gebu. Namun setelah melihat kondisi lapangan yang sebenarnya—hatta sekalipun saya tidak dalam keadaan kurang sehat seperti hari ini—nyali saya pasti tetap ciut melihat tinggi dan terjalnya jalan ke gua yang sangat bersejarah tersebut. Lalu terbayang oleh saya, betapa beratnya perjalanan yang harus dilakukan perempuan yang sangat utama, Ummul Mukminin Chadijah r.a. setiap mengantar makanan dan minuman kepada suaminya tercinta yang sedang bertaffakur di tempat tersebut. Sehabis melaksanakan thawaf ifadlah dan sa'i haji shubuh kemarin, kesehatan saya belum banyak membaik. Sesak napas karena asma memang sudah mulai berkurang,. Tetapi selera makan yang hilang sejak di Mina belum membaik. Sekarang muncul gejala yang kadang-kadang timbul sewaktu masih di Tanah Air, yaitu sensitivitas yang berlebihan dari bagian tertentu di pangkal kerongkongan saya terhadap air dan cairan yang merangsang, sehingga setiap minum terbatuk-batuk berkepanjangan, yang tidak jarang menyebabkan makanan yang sudah saya telan keluar kembali. Kafilah kami melanjutkan ziarah ke pekuburan Ma'lah tempat dimakamkannya jemaah haji yang wafat di Makkah. Di sana pula beistirahat dengan tenang jasad perempuan yang sangat utama Ummul Mukminin Chadijah r.a.. Dari sana kami melanjutkan perjalanan ke Masjid Jin, tempat di mana sejumlah jin menemui Rasulullah SAW dan berikrar masuk Islam. Berjalan kaki di bawah terik matahari yang mulai naik, menyebabkan langkah saya terasa semakin berat. Karena itu pada saat acara "berkeliling"—yang oleh sebagian jemaah diplesetkan menjadi "bertawaf"—di Pasar Seng, tempat sebagian besar jemaah haji Indonesia menghabiskan riyal dan dollar cadangan yang mereka bawa dari Tanah Air guna membeli oleh-oleh, kami segera memisahkan dan masuk ke warung baso Mang Udin yang terkenal itu untuk sarapan. Makan dengan sop sayur dengan sambal cabe segar, yang konon didapat dari awak pesawat Garuda, menerbitkan selera saya. Tetapi karena setiap kali kuah sop menyentuh pangkal kerongkongan saya, saya langsung batuk-batuk yang diikuti oleh sesak napas dan rasa sakit di dada, saya terpaksa menghentikan makan saya. Apalagi setelah saya melihat sepasang suami isteri asal Indonesia yang masih muda dan membawa anaknya yang semula duduk semeja dengan kami pindah ke meja lain. Melihat kondisi saya, makan Kur ikut-ikutan tidak benar. Lalu Kur cepat-cepat menyelesaikan makannya dan membayar makanan yang kami makan di kasir. Karena kami tetap belum tahu di mana tempat menunggu "angkot" yang ke arah pemondokan kami, kami mencoba menawar taksi. Sopirnya minta 30 riyal. Karena kami rasa terlalu mahal, kami memutuskan untuk berjalan kaki saja pelan-pelan. Di tempat-tempat tertentu saya berhenti guna beristirahat dan minum air zam-zam yang selalu saya bawa di dalam termos, yang saya lakukan dengan susah payah. Setiba di pemondokan saya langsung beristirahat dan semua shalat wajib juga saya lalukan di pemondokan saja. (bersambung) --------------- 1) Thawaf Wada hanya diwajibkan bagi jemaah haji yang sehat dan perempuan yang tidak sedang dalam keadaan haid. Setelah melakukan thawaf wada, jemaah tidak diperbolehkan lagi berada di Masjidil Haram—terkecuali pada saat hendak meningalkan Masjid bertepatan dengan jatuhnya waktu shalat wajib—dan harus segera meninggalkan Kota Makkah. -- . Posting yang berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini dan kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur dan Lokasi pada setiap posting - Hapus footer dan seluruh bagian tidak perlu dalam melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat e-mail baru, tidak me-reply e-mail lama dan mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali serta ingin mengubah konfigurasi/setting-an keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.
