Sabtu 1 Maret

Pagi ini jam 9 pagi, kafilah kami mengadakan acara siraman rohani di aula yang 
ada di depan kamar tidur kami. Seperti biasa, karena kondisi kesehatan saya 
belum sepenuhnya pulih, saya mandi agak siangan, yaitu sekitar jam delapanan. 
Begitu keluar kamar mandi, alamaak…… sejumlah jemaah perempuan termasuk dokter 
Iva sudah hadir dan duduk bersandar ke dinding Aula di antara kamar mandi 
dengan pintu kamar tidur kami, sehingga dengan perasaan malu saya harus lewat 
dengan hanya menggenakan kaus kutang dan lilitan handuk di depan mereka yang 
tertawa melihat saya lewat.

Penceramah pada acara siraman rohani itu kembali Ustadz "Z" pemandu kami waktu 
berziarah ke tempat-tempat bersejarah di sekitar Makkah beberapa waktu yang 
lalu, yang kalau berbicara selalu menyusun kalimatnya dengan baik sehingga enak 
kedengarannya. 

Beliau banyak menceritakan khasiat air zam-zam, termasuk pengalaman pribadinya, 
yaitu ketika beliau bimbang apakah akan pulang ke Tanah Air atau menetap di 
Saudi setelah kuliahnya di sana selesai.  Beliau lalu minum air zam-zam dan 
berdoa, tidak lama kemudian ketika sedang tidur, beliau mendengar suara yang 
mengatakan agar beliau tetap berada di Saudi. "Alhamdulillah, berkat menetap di 
Saudi saya bisa menghajikan beberapa keluarga saya di Tanah Air," pak Ustadz 
"Z" mengakhiri pengalaman pribadinya.

Sangat boleh jadi yang diceritakan pak Ustadz "Z" tersebut adalah sesuatu yang 
sesungguhnya terjadi. Tetapi karena setelah ziarah ke Hudaibiyah  
"kredibilitas" beliau sudah agak turun di mata saya, saya tidak begitu antusias 
mendengarkannya. Namun ketika pak Ustadz "Z" mengatakan: "Jangan sesekali 
memasak air zam-zam," saya agak "ngeper" juga. Pasalnya, karena suster Enny 
menyarankan agar saya minum air hangat guna memperlancar sekresi lendir dari 
paru-paru saya, saya minta Kur agar memasak air zam-zam terlebih dulu dan 
memasukkannya ke dalam termos, sehingga saya selalu dapat minum air zam-zam 
yang hangat. "Ah masak," saya belum pernah belum pernah menemukan hadisnya," 
saya membatin menenangkan hati saya sendiri.

Sesudah  pak Ustadz "Z" selesai berceramah,  pak Ketua Kafilah mengumumkan 
bahwa kloter kami akan berangkat ke Madinah hari Selasa tanggal 4 Maret sehabis 
maghrib. Jemaah yang akan melakukan thawaf wada disarankan untuk melaksanakan 
pada hari Selasa itu ba'da dzuhur atau selambat-lambatnya ba'da ashar. Jemaah 
yang sakit dan berusia lanjut akan diajak Ketua Kafilah ke Masjidil Haram 
melaksanakan thawaf "simbolis" pada hari Senin pagi.

Beliau juga mengumumkan agar para jemaah menggunakan jasa katering selama di 
Madinah nanti supaya jemaah dapat berkosentrasi untuk beribadah. Juga 
disampaikan sebuah kabar gembira, bahwa selama tiga hari mendatang kafilah kami 
akan dapat konsumsi cuma-cuma dari seorang pengusaha Indonesia yang baru 
memenangkan sebuah tender di Saudi.

Ketika seorang jemaah menanyakan apakah benar kafilah kami akan memperoleh 
pemondokan yang berjarak 200 meter dari Masjid Nabawi, suatu hal yang masuk 
akal juga mengingat sebagian besar jemaah haji sudah pulang ke tanah airnya 
masing-masing sehingga sudah banyak pemondokan yang kosong, pak Ketua Kafilah 
menjawab bahwa beliau belum bisa memastikan, karena ini adalah pertama kalinya 
kafilah haji Yayasan  yang dipimpinnya masuk kloter terakhir 1).

Menurut jumhur ulama, thawaf wada tidak diwajibkan bagi jemaah yang sakit atau  
lanjut usia serta jemaah perempuan yang sedang haid.  Sekalipun kondisi fisik 
saya belum pulih benar dan kalau berbicara antara terdengar dengan tidak, namun 
karena secara rohani merasa sehat, saya memutuskan akan melakukan sendiri 
thawaf wada secara lengkap.

Semalam saya memberitahu Kur "strategi"  saya  dalam menyiapkan diri saya 
secara fisik untuk dapat melakukan thawaf perpisahan tersebut dengan baik. 
Petang nanti kami akan shalat maghrib di Masjidil Haram pulang dan perginya 
menggunakan angkot. Minggu besok, kami perginya naik angkot tapi pulangnya 
berjalan kaki guna melatih/mengembalikan kekuatan kaki agar saya mampu 
berthawaf sebanyak tujuh putaran. Lusa hari terakhir, kami akan kembali pulang 
dan pergi naik angkot agar tidak memboroskan tenaga. Sedangkan thawafnya 
sendiri akan kami lakukan sebelum atau sesudah shubuh, karena kalau di bawah 
terik matahari sesudah waktu dzuhur atau ashar, melakukan satu putaranpun saya 
belum tentu akan kuat.

Petangnya satu jam sebelum maghrib kami sudah tiba di Masjidil Haram. Kami 
masuk dari pintu Raja Fahd dan langsung ke saf terdepan sehingga kami dapat 
melihar Ka'bah dengan jelas. Walaupun tetap penuh, Masjid sudah tidak sepadat 
seperti sebelumnya karena sebagian besar jemaah sudah kembali ke tanah airnya 
masing-masing.

Keadaan tersebut memungkinkan para askar untuk mengatur pengelompokan jemaah 
dengan lebih tertib, laki-laki dengan laki-laki dan perempuan dengan perempuan. 
 Tetapi kemudian datang rombongan askar pria yang mengubah lagi pengelompokan 
yang sudah diatur sebelumnya oleh seorang askar perempuan. Akibatnya setelah 
selesai shalat saya tidak berhasil menemukan Kur di tempat semula dan 
sebaliknya Kur tentunya juga tidak dapat menemukan saya di tempat semula karena 
sudah berpindah tempat. Saya sangat khawatir Kur kehilangan orientasi sehingga 
keluar di pintu yang salah yang dapat menyebabkan dia tersesat.

Dalam keadaan bingung di tengah kerumunan jemaah yang berjalan dengan 
tersendat-sendat ke arah pintu Masjid, saya berdoa kepada Allah agar Ia 
mengirimkan malaikat-Nya untuk menuntun kami berdua agar bisa bertemu.

Tidak lama kemudian seseorang menepuk punggung saya yang ternyata adalah Kur. 
Saya langsung memegang tangannya erat-erat dengan perasaan lega dan bahagia. 
Kur yang mengkhawatirkan saya karena sendal jepit saya ada di dalam tasnya dan 
mengetahui saya tidak mengantungi uang pecahan satu riyalan untuk membayar 
angkot pulang,  menceritakan, begitu tidak menemukan saya di tempat saya 
semula, dia juga langsung berdoa kepada Allah agar kami segera dapat 
dipertemukan

Selebihnya senja itu adalah adalah senja yang sangat menyenangkan, karena saya 
sudah dapat mendengar kembali suara azan dan suara Imam Masjidil Haram 
menjaharkan bacaan shalat yang sudah sangat saya rindukan. 

----------------
1)      Penentuan dan penyewaan pemondokan jemaah haji di Tanah Suci menjadi 
wewenang petugas yang ditunjuk Menteri Agama dan penentuan kloter mana dapat di 
mana—teorinya—berdasarkan undian.


-- 
.
Posting yang berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan di tempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini dan kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur dan Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer dan seluruh bagian tidak perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat e-mail baru, tidak me-reply e-mail lama dan 
mengganti subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin mengubah konfigurasi/setting-an 
keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.

Kirim email ke