Minggu 2 Maret Pagi tadi pak Erman, Ketua Regu kami, datang menjenguk dan menanyakan apakah kami ada masalah dengan persiapan keberangkatan ke Madinah. Kur mengatakan kami perlu bantuan untuk mengepak koper, dan pak Erman mengatakan akan mengirim pak Tukiman dan mas Juliansyah untuk membantu.
Petangnya kembali kami sudah berada di Masjidil Haram satu jam sebelum waktu maghrib. Sebelum berpisah menuju kelompok masing-masing, kami berjanji akan saling tunggu di pintu Raja Fahd. Saya berhasil mendapatkan tempat yang menyenangkan untuk shalat dan langsung dapat melihat ke Ka'bah. Pada perjalanan pulang, karena sudah cukup lama tidak berjalan kaki, jarak sekitar satu kilometer dari Masjidil Haram ke pemondokan saya tempuh dengan "ngos-ngosan". Tetapi agar Kur tidak merasa cemas saya usahakan agar hal tidak terlalu terlihat olehnya. Di tengah perjalanan kami mampir ke sebuah Depot makanan dan minuman guna beristirhat dan minum teh susu panas (teh celup Lipton diseduh dalam satu pot kecil air mendidih dicampur dengan "creamer" cair Carnation dan sedikit gula pasir), yang merupakan minuman favorit para jemaah haji. Saya minum dengan sesekali terbatuk-batuk. Ketika sedang minum itu pak Ketua Kafilah lewat dan melihat dan menjambangi kami. Lalu saya dan beliau berjabatan tangan dengan hangat. Di pemondokan kami bertemu kembali dengan pak Ketua Kafilah yang menanyakan apakah saya ingin bergabung dengan jemaah yang akan dibawanya melakukan thawaf wada "simbolis" keesokan harinya, yang saya jawab bahwa saya berniat akan melakukan thawaf wada sungguhan Selasa shubuh. Mendengar jawaban saya itu, wajah beliau terlihat gembira. Senin 3 Maret Petang itu adalah shalat maghrib kami yang terakhir di Masjidil Haram. Seperti biasa, "angkot" yang kami tumpangi berhenti di terowongan bawah tanah dan dari sini para penumpang naik ke atas dengan menggunakan eskalator, yang pintu keluarnya tidak jauh dari pintu gerbang Masjid. Begitu sampai di atas dan melihat ke arah Masjidil Haram, saya tidak kuasa menahan air mata, dan berjalan menuju pintu Masjid dengan air mata bercucuran. Setelah pulang ke pemondokan kami membahas rencana besok pagi dan memutuskan bahwa kami akan melakukan thawaf wada sebelum waktu shubuh, karena jika sesudah shubuh kami khawatir jemaah yang berthawaf terlalu padat. Latihan berjalan kaki dari Masjidil Haram ke pemondokan kami sejauh lebih dari satu kilometer sehari sebelumnya, mempertebal keyakinan saya bahwa saya akan mampu menyelesaikan thawaf sebanyak tujuh putaran dengan baik. Namun agar tidak membuat Kur cemas saya katakan bahwa kalau saya hanya kuat melakukan satu putaran, maka saya hanya akan berthawaf satu putaran saja. (bersambung) -- . Posting yang berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini dan kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur dan Lokasi pada setiap posting - Hapus footer dan seluruh bagian tidak perlu dalam melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat e-mail baru, tidak me-reply e-mail lama dan mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali serta ingin mengubah konfigurasi/setting-an keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.
