Selasa, 4 Maret, siang Setibanya di pemondokan Kur segera berkemas dan memasukkan pakaian dan lain-lain ke dalam koper dan handbag. Kebetulan koper kami tidak terlalu "gemuk" karena kami tidak banyak membeli oleh-oleh. Kami memang tidak banyak membawa uang ekstra, hanya USD500 lebih sedikit, yang sebagian digunakan Kur untuk membeli liontin mas dengan relief kubah masjid dan gelang mas ukiran perajin dari Bangla Desh yang sangat indah, dan beberapa perhiasan perak bagi kedua anak gadis kami. Tas tangan yang dibeli Kur ketika kami lewat di Pasar Seng pagi tadi, digunakan Kur untuk membawa air zam-zam, baik yang dikumpulkan Kur sendiri ke dalam jerigen berukuran 5 liter maupun yang tiap malam diantarkan ke kamar kami oleh pak Chaidir, yang ketika itu masih tersisa sebanyak 10 botol bekas air kemasan berukuran 600 cc, cukup untuk kebutuhan saya selama sembilan hari di Madinah.
Selesai berbenah-benah Kur turun ke lobby untuk menelepon ke rumah memberitahukan bahwa kami akan berangkat ke Madinah petang nanti. Selasa, 4 Maret, malam Jam delapan malam kami semua sudah berada di atas bus yang akan membawa kami ke Madinah Al Munawarah yang berjarak 450 km dari Makkah. Tetapi karena berbagai hal, termasuk pengembalian paspor kami oleh pihak maktab yang cukup memakan waktu, rombongan kami baru dapat meninggalkan Makkah sekitar jam sepuluh malam. Bus sebelumnya juga sempat berhenti di depan salah satu pemondokan jemaah haji Indonesia karena ada beberapa jemaah haji perempuan, termasuk Kur, yang ingin pipis karena tidak sempat melakukannya di pemondokan kami sebelum berangkat tadi. Kur kemudian menceritakan kepada saya bahwa WC-nya agak kotor. Di malam selarut itu, beberapa ruas jalan di dalam kota Makkah masih ada yang macet, sehingga jalan bus kami menjadi tersendat-sendat. Ketika hendak berangkat ada perasaan "aral" di dalam hati saya, yaitu kecemasan tentang beratnya perjalanan darat yang akan kami tempuh. Apalagi saya memang kurang suka dan sebelumnya sangat jarang sekali menggunakan bus jika bepergian jarak jauh. Hal itu menyebabkan saya selalu gelisah dan susah tidur, sampai bus kami berhenti di sebuah tempat peristirahatan penumpang. Di sana Kur membeli dua pot teh susu panas, yang selain terasa nikmat juga menghangatkan perut yang menyebabkan badan dan perasaan saya untuk sementara terasa lebih nyaman, sehingga setelah bus berjalan kembali, saya bisa tidur nyenyak sebentar sampai bus kembali behenti di sebuah tempat peristirahatan menjelang shubuh. Di tempat ini ada toilet, tempat berwudhuk dan mushola, tetapi karena jemaah yang akan menggunakannya terlalu berjubel, ketika tiba waktu shubuh saya dan Kur hanya bertayamun dan shalat di atas bus saja. Menjelang masuk Kota Madinah bus kami berhenti beberapa kali, di mana kami menerima konsumsi, air zam-zam dalam botol plastik 2 liter pemberian Pemerintah Kerajaan Saudi Arabia, bertemu dengan pengurus Maktab kami di Madinah kepada siapa kami menyerahkan paspor dan menerima tanda pengenal baru, dan menerima "sumbangan" sajadah dari Menteri Agama RI. Ketika menerima sajadah tersebut saya agak "sewot" dan mengatakan dengan suara saya yang masih parau kepada Kur, bahwa saya tidak ingin menggunakan sajadah tersebut. "Memangnya kenapa?", tanya Kur yang terlihat senang, karena di sajadah yang berkualitas sedang itu ada cap "Menteri Agama Republik Indonesia Prof Dr Said Agil Husin Al Munawar MA", dan langsung menuliskan nama kami masing-masing di bagian belakang kedua sajadah pembagian kami itu. "Ini dari uang uang pribadi Pak Menteri, dari dana setoran haji jemaah atau dari APBN, artinya dari uang pembayar pajak?", kata saya dengan nada tinggi. "Tetapi dibayar dengan dana dari manapun, masih ada keperluan lain yang lebih penting. Lagi pula setiap jemaah kan rata-rata sudah punya sajadah atau mampu membeli sajadah," lanjut saya berapi-api. Karena saya lihat Kur tidak berminat untuk menanggapinya lagi, saya berhenti "ngoceh". Lalu "otak Padang" saya menghitung, kalau satu sajadah berharga Rp 7.500, maka dana yang diperlukan untuk itu berarti 200.000 kali Rp 7.500=Rp 1,5 miliar. Wah, bukan uang sedikit. Lalu saya ingat fasilitas yang ada di RS Haji Indonesia di Makkah. Lalu saya ingat cerita seorang tamu pak Erman ketika kami masih di Makkah, seorang pengusaha muda Haji Plus yang nginapnya di Hilton, yang dengan lancar bercerita tentang "pembancakan" uang setoran haji jemaah oleh pihak-pihak tertentu di Republik tercinta ini, sementara pak Menteri Agama sudah berbicara tentang "kenaikan ONH tahun depan", padahal ONH yang dibebankan kepada jemaah haji Indonesia sudah terhitung mahal, misalnya dibandingkan dengan Malaysia yang pengelolaan perjalanan hajinya dilakukan oleh sebuah organisasi swasta (Tabung Haji), tetapi tidak memperoleh fasilitas, termasuk pemondokan sebaik yang diperoleh jemaah haji Malaysia, tentang 2.000 jemaah haji plus pengguna jasa maskapai penerbangan "Indonesian Airlines" yang terlantar di sana sini, siapa "orang kuat" di belakang maskapai penerbangan tersebut yang menyebabkan Menteri Perhubungan dan Menteri Agama tidak berani untuk tidak menandatangani surat izin operasi bagi maskapai tersebut untuk penerbangan haji, sementara di TV pak Menteri Agama dengan enteng menyalahkan dan akan menindak Biro Perjalanan haji terkait. Atau barangkali saya saja yang resek, atau punya sentimen berlebihan sama pak Menteri Agama. (bersambung) -- . Posting yang berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini dan kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur dan Lokasi pada setiap posting - Hapus footer dan seluruh bagian tidak perlu dalam melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat e-mail baru, tidak me-reply e-mail lama dan mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali serta ingin mengubah konfigurasi/setting-an keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.
