Rabu, 5 Maret Siang

Jam 11 lebih sedikit saya, Kur, pak Tukiman, bu Juminem, mas Juliansyah dan 
mbak Etty berangkat ke Masjid Nabawi untuk melakukan shalat dhuhur sebagai 
shalat wajib pertama dari rangkaian Arbain yang akan kami laksanakan di masjid 
tersebut selama sembilan hari ke depan.

Kota Madinah yang terletak di ketinggian 660 m di atas permukaan laut berbentuk 
semacam piring terbuka karena dikelilingi bukit-bukit berbaris, berangin yang 
mempengaruhi cuaca kota. Kalau yang bertiup angin panas, cuaca kota menjadi 
panas dan sebaliknya.

Hari ini cuaca terasa panas dan matahari sangat terik. Untuk melindungi diri 
dari terik matahari tersebut, selama perjalanan saya berusaha untuk selalu 
berjalan di bawah pepohonan yang terletak di trotoar pemisah jalan mobil dengan 
jalur bagi pejalan kaki. Tetapi letak antara pohon yang satu dengan yang lain 
agak berjauhan dan semakin dekat ke Masjid Nabawi, pepohonan tersebut semakin 
jarang.

Berjalan dalam situasi demikian dalam keadaan letih karena kecapekan dan kurang 
tidur di perjalanan tadi malam, sangat menguras daya tahun saya sehingga 
setelah sampai di gerbang masjid saya merasa hampir kehabisan  tenaga.

Di Masjid Nabawi ruang dan pintu masuk jemaah laki-laki dan perempuan berbeda.  
Kur dan saya berpisah di pintu pagar dan berjanji akan bertemu setelah selesai 
shalat di depan toko perhiasan Medina yang  terletak di deretan pertokoan di 
depan bagian Timur Masjid, tempat yang terdekat dari pintu pagar Masjid yang 
paling kiri dari depan.

Kelompok saya dan kelompok Kur kemudian menghampiri dan memasuki Masjid yang 
sangat indah dan anggun itu.  Mula-mula kami bertiga: saya, pak Tukiman, dan 
mas Juliansyah, menempati saf di bawah ruang terbuka yang bertutup fiberglas. 
Tetapi karena di sana agak panas karena hangatnya cahaya matahari dapat 
menembus tutup fiberglas tersebut yang membuat saya tambah kehabisan tenaga, 
saya pindah ke saf di bagian belakang yang lebih sejuk.

Selesai melaksanakan shalat sunat tahiyatul masjid,  saya merasakan badan saya 
sangat letih sekali, sedemikian rupa, sehingga untuk pertama kalinya selama 
berada di Tanah Suci saya sempat berujar dalam hati, kalau Allah berkehendak 
memanggil saya keharibaan-Nya saat itu di sana, saya sudah siap. Namun seusai 
shalat, sesudah dengan susah payah dan terbatuk-batuk berhasil meminum beberapa 
teguk air zam-zam  yang  saya bawa dalam botol yang saya kantongi di saku baju 
Pakistan saya, rasa letih agak sedikit berkurang.

Selesai shalat kami bertemu di tempat yang ditetapkan. Karena teman-teman ada 
keperluan lain, Kur dan saya pulang lebih dulu. Berjalan tertatih-tatih di 
bawah terik matahari, kami berdua bersilang pendapat karena berbeda orientasi 
mengenai arah jalan pulang ke pemondokan. Saya merasa bahwa dari pemondokan ke 
Masjid  jalannya lurus saja, sedangkan Kur merasa berbelok. Tetapi tidak ingat 
berbelok di mana.

Karena yakin dengan orientasi saya, saya memutuskan untuk berjalan terus. Kur 
segera melepaskan tangannya dari pegangan tangan saya. Saya tahu bahwa ini 
pertanda bahwa sang belahan jiwa sedang "tidak berkenan di hati". Kami terus 
berjalan tanpa berbicara. Tidak lama kemudian kami bertemu dengan sebuah 
perempatan. Saya ingat, kami tadi melewati perempatan, tetapi tidak pasti 
apakah hanya satu ataukah dua perempatan. Karena itu saya terus berjalan. 
Ketika lewat di bangunan pertokoan yang terletak persis sesudah perempatan 
tersebut, kami bertemu dengan petugas jemaah haji Malaysia sedang 
membagi-bagikan nasi beriani dalam boks kepada orang yang lewat. Kami juga 
diberi seorang satu.

Setelah itu kami terus berjalan. Kur yang berjalan di belakang saya semakin 
menujukkan wajah tidak senang.  Akhirnya setelah berjalan terengah-engah kami 
menemukan perempatan kedua. Tetapi jalanan kok semakin sepi? Kemudian saya 
sadar bahwa kami sudah "kebablasan". 

"Tu, papa salah kan?" ujar Kur dengan nada gusar. Akhirnya kami putuskan untuk 
berbalik arah. Namun karena sudah merasa kehabisan tenaga, saya terpaksa duduk 
dulu di tepi jalan guna mengatur nafas.

"Papa capek benar," jawab saya dengan suara parau dan setengah berbisik, karena 
suara saya kembali hilang.

Ketika ada dua orang pria penduduk setempat yang lewat, saya bertanya dalam 
Bahasa Inggris di mana daerah Doha sembari menujukkan kartu pengenal kami yang 
baru, saya tidak dapat menangkap jawabannya dengan jelas.

Setelah rasa capek agak berkurang saya bangkit dan mengajak Kur berjalan ke 
arah kami datang tadi. Dan ketika kembali melewati bangunan pertokoan tempat 
kami menerima pemberian makanan dari petugas jemaah haji Malaysia tadi, kami 
bertemu dengan pak Tukiman c.s.  Alamaak, rupanya pemondokan kami berada di 
salah satu deretan bangunan di sana, namun karena hati kami berdua saling 
diliputi rasa kesal, kami tidak melihatnya. Apalagi pintu lobbynya yang sangat 
sempit itu kecil, tidak seperti pemondokan kami di Makkah. Setelah itu suasana 
hati antara kami berdua kembali cair karena ternyata kami sama-sama salah 1). 

Karena merasa tidak kuat untuk berjalan bolak balik antara pemondokan dan 
Masjid, Kur dan saya memutuskan, setelah shalat ashar kami berdua tetap di 
Masjid sampai selesai shalat isya.

Sebelum berangkat kembali ke Masjid, kami makan nasi boks yang dikirim catering 
2), tetapi saya hanya mampu makan beberapa suap nasi saja. Nasi briyani dengan 
ayam singgang pemberian jemaah haji Malaysia, tidak tersentuh sama sekali.

Kembali berjalan di bawah terik matahari, sesampai di Masjid kondisi fisik saya 
semakin menurun, terburuk selama di Tanah Suci, sehingga kembali terpikir tadi 
oleh saya, kalau Allah berkehendak memanggil saya saat itu di sana, saya sudah 
siap. Seusai shalat ashar setelah terbatuk-batuk ketika mencoba meminum lagi 
air zam-zam, saya merebahkan diri dengan setengah putus asa—pertama kali sejak 
saya berada di Tanah Suci—dengan tangan saya masih memegang botol.

Tidak lama kemudian, seorang jemaah haji Turki yang duduk di belakang saya 
menganjurkan saya untuk mencoba minum air zam-zam kembali. Dengan sisa-sisa 
keberanian saya mencoba minum kembali, satu teguk, dua teguk dan seterusnya, 
sehingga saya menghabiskan sepertiga isi botol, atau sekitar 200 cc. 
Alhamdulillah setelah itu badan saya terasa agak segar, dan saya bisa 
beristirahat dengan agak tenang, walaupun kadang-kadang masih batuk-batuk.

Saya mulai menghitung-hitung, hari ini tanggal 5 Maret, jadi kepulangan ke 
Tanah Air tinggal delapan hari lagi. Dengan kondisi kesehatan seperti saat itu 
hampir dipastikan bahwa saya akan masuk rumah sakit setiba di Tanah Air, dan 
hampir dipastikan pula saya tidak akan bisa masuk kantor pada tanggal 19 Maret  
2) sesuai dengan izin cuti saya dari kantor.

(bersambung) 

---------------         
1)      Setelah melihat kembali peta kota Madinah yang saya peroleh sebelumnya 
dari Telekomsel, jalan yang menghubungkan pemondokan kami dengan Masjid Nabawi 
saya ketahui bernama Jalan Abi Thar Al Ghiffar.

2)      Sesuai dengan saran pak Ketua Kafilah, selama di Madinah kami 
berlangganan katering  masakan Indonesia seharga 15 riyal perorang perhari 
dibayar di muka dengan 3 kali makan sehari terdiri dari  nasi boks dengan menu 
3 macam: ayam/ikan teri belado/telor, sayuran dan sambal, buah dan air kemasan. 
 

3)      Organisasi Riset Internasional yang mempekerjakan saya waktu ini, 
sesuai dengan peraturan ketenagakerjaan yang berlaku,  memberikan cuti dalam 
tanggungan perusahan (gaji dibayar penuh selama cuti) selama 44 hari kalender 
kepada staf yang menunaikan ibadah haji dan memenuhi syarat untuk 
memperolehnya, baik yang menggunakan ONH biasa ataupun ONH plus.


-- 
.
Posting yang berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan di tempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini dan kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur dan Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer dan seluruh bagian tidak perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat e-mail baru, tidak me-reply e-mail lama dan 
mengganti subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin mengubah konfigurasi/setting-an 
keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.

Kirim email ke