Sekitar jam setengah enam petang, satu jam lagi menjelang waktu maghrib, saya 
merasa lapar. Saya lalu keluar Masjid mencari dan secara intuitif menemukan 
rumah makan Indonesia di basemen Hotel Andalus yang terletak di seberang jalan 
di samping Timur  Masjid. Saya mengambil nasi, gulai ikan patin, gado-gado 
seharga 11 riyal, tetapi yang habis saya makan hanya gulai ikan patin dan 
beberapa sendok nasi. Air kemasan hanya sedikit yang berhasil saya minum. 
Gado-gado nyaris tak tersentuh, karena tiba-tiba saya mendengar suara azan 
maghrib. Walaupun di Masjid Nabawi jarak waktu antara azan dengan iqamat agak 
lama, yaitu sekitar 10 – 15 menit, saya sudah tidak mungkin masuk kembali ke 
Masjid karena halaman Masjid dan sebagian jalan di depan Hotel Andalus yang di 
dekat pagar Masjid sudah penuh dengan jemaah. Karena itu saya terpaksa 
bergabung dengan para jemaah yang menyusun saf-saf di jalan di depan hotel 
tersebut.

Ketika itu untuk pertama kali nya saya mendengar suara imam Masjid Nabawi 
menjaharkan bacaan shalat yang iramanya agak berbeda dengan imam Masjidil 
Haram, tetapi sama-sama memukau dan mengikat hati dan pikiran untuk menyimak 
Kalam Illahi yang dilafaz kannya.

Seuasai shalat, berzikir dan berdoa, saya kembali masuk ke Masjid yang mulai 
ditinggalkan sebagian jemaah dengan  perasaan yang mulai agak nyaman. Di Masjid 
saya kembali berzikir dan berdoa. Kemudian saya berkata lirih dengan air mata 
belinang: "Ya Nabi, aku sekarang berada di Masjidmu untuk memenuhi suruhanmu." 
"Mereka sudah memperindah Masjidmu, tetapi sekalipun tidak,  aku tetap sangat  
berbahagia berada di sini."

Setelah itu saya berfikir tentang rencana besok dan hari-hari selanjutnya. Agar 
dapat  menghemat tenaga saya saya pikir sebaiknya kami tetap berada di Masjid 
dari waktu shalat  dzuhur sampai selesai isya, dan keluar untuk makan sesudah 
shalat ashar.

Ketika saya katakan rencana itu dalam perjalanan pulang, Kur menyatakan 
persetujuannya. Saya juga minta Kur mengusahakan payung untuk digunakan 
melindungi saya dari terik matahari ketika berangkat ke Masjid untuk melakukan 
shalat dzuhur agar saya tidak terlalu letih kepanasan di perjalanan, karena 
saat itu kami sudah tidak mempunyainya lagi. Payung pemberian dari bank tempat 
kami menabung, yang satu tertinggal di "angkot" oleh saya ketika masih di 
Makkah dan yang satu lagi ketelisut entah di mana.

Dalam perjalanan pulang itu kami kembali agak tegang, karena saya mengganggap 
Kur kurang menanggapi dengan semestinya cerita saya mengenai buruknya kondisi 
saya di Masjid siang tadi.

"Mama baru tahu kalau papa benar-benar mati," ujar saya dengan gusar, yang 
kemudian saya sadari, bahwa kata-kata tersebut tidak sepantasnya saya ucapkan.

Lagi pula kalau "hitung-hitungan" benaran, tampaknya Kur  lebih bisa hidup 
tanpa saya dari pada saya tanpa dia. Tetapi Kur tidak terlalu menanggapi dan 
hanya melepaskan tangannya dari pegangan saya ketika hendak membeli pisang 
ambon dari PKL yang memenuhi kedua trotorar di sebelah kiri jalan ke arah 
pemondokan.

Kami tiba di pemondokan sekitar jam sembilan malam, dan setelah beristirahat 
sejenak kami makan nasi boks kiriman katering di mana saya tetap hanya mampu 
menghabiskan beberapa sendok nasi. Sehabis makan kami 
berbincang-bincang-bincang dengan teman-teman mengenai pengalaman siang tadi. 
Mbak Etty menceritakan pengalamannya ketika masuk ke Raudah dan mengajak Kur 
besok siang ke sana.

Kami baru bisa merebahkan diri di tempat tidur lewat jam sepuluh malam

Malamnya saya agak susah tidur, sehingga tahu ketika pak Tukiman, pensiunan 
Departemen Pertanian yang baik hati dan suka humor dan masih sangat sehat itu, 
bangun untuk bertahajud.

Sekitar jam tiga pagi kami terbangun, sarapan ringan dan bersiap-siap untuk 
berangkat ke Masjid Nabawi guna melaksanakan shalat shubuh.


(bersambung) 


-- 
.
Posting yang berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan di tempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini dan kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur dan Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer dan seluruh bagian tidak perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat e-mail baru, tidak me-reply e-mail lama dan 
mengganti subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin mengubah konfigurasi/setting-an 
keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.

Kirim email ke