Luar biasa Laporan Perjalananan Haji Bapak Darwin dan Ibu. Saya kira tulisan ini bermanfaat buat siapapun yang akan menunaikan ibadah haji.
Kalau boleh tahu Pak Darwin ado babarapo pertanyaan ambo Pak: 1. Baa caranyo Bapak manulis ko, apokah di buku ketek, communicator, atau laptop, atau salain itu? 2. Bilo Apak manuliskannyo malam, atau on the spot, siang, atau abih subuah? Di hotel atau di rumah satalah pulang ka Indonesia? 3. Andai manulih saat itu juo apokah waktu ibadah normal Bapak indak bakurang? Mohon ijin Pak Darwin, tulisan Bapak akan ambo file dalam judul "URANG MINANG NAIAK HAJI". Tarimo kasih sabalunnyo Pak. Samoga tulisan ko manjadi amalan Bapak satiok dibaco dek urang. Wassalam, Sent from my BlackBerry®Bold powered by ZulTan, L, 49+, Bogor -----Original Message----- From: "Darwin" <[email protected]> Sender: [email protected] Date: Sat, 26 Jun 2010 18:19:45 To: <[email protected]> Reply-To: [email protected] Subject: [...@ntau-net] [21] Arbain Hari Pertama yang Sangat Berat (B) Sekitar jam setengah enam petang, satu jam lagi menjelang waktu maghrib, saya merasa lapar. Saya lalu keluar Masjid mencari dan secara intuitif menemukan rumah makan Indonesia di basemen Hotel Andalus yang terletak di seberang jalan di samping Timur Masjid. Saya mengambil nasi, gulai ikan patin, gado-gado seharga 11 riyal, tetapi yang habis saya makan hanya gulai ikan patin dan beberapa sendok nasi. Air kemasan hanya sedikit yang berhasil saya minum. Gado-gado nyaris tak tersentuh, karena tiba-tiba saya mendengar suara azan maghrib. Walaupun di Masjid Nabawi jarak waktu antara azan dengan iqamat agak lama, yaitu sekitar 10 – 15 menit, saya sudah tidak mungkin masuk kembali ke Masjid karena halaman Masjid dan sebagian jalan di depan Hotel Andalus yang di dekat pagar Masjid sudah penuh dengan jemaah. Karena itu saya terpaksa bergabung dengan para jemaah yang menyusun saf-saf di jalan di depan hotel tersebut. Ketika itu untuk pertama kali nya saya mendengar suara imam Masjid Nabawi menjaharkan bacaan shalat yang iramanya agak berbeda dengan imam Masjidil Haram, tetapi sama-sama memukau dan mengikat hati dan pikiran untuk menyimak Kalam Illahi yang dilafaz kannya. Seuasai shalat, berzikir dan berdoa, saya kembali masuk ke Masjid yang mulai ditinggalkan sebagian jemaah dengan perasaan yang mulai agak nyaman. Di Masjid saya kembali berzikir dan berdoa. Kemudian saya berkata lirih dengan air mata belinang: "Ya Nabi, aku sekarang berada di Masjidmu untuk memenuhi suruhanmu." "Mereka sudah memperindah Masjidmu, tetapi sekalipun tidak, aku tetap sangat berbahagia berada di sini." Setelah itu saya berfikir tentang rencana besok dan hari-hari selanjutnya. Agar dapat menghemat tenaga saya saya pikir sebaiknya kami tetap berada di Masjid dari waktu shalat dzuhur sampai selesai isya, dan keluar untuk makan sesudah shalat ashar. Ketika saya katakan rencana itu dalam perjalanan pulang, Kur menyatakan persetujuannya. Saya juga minta Kur mengusahakan payung untuk digunakan melindungi saya dari terik matahari ketika berangkat ke Masjid untuk melakukan shalat dzuhur agar saya tidak terlalu letih kepanasan di perjalanan, karena saat itu kami sudah tidak mempunyainya lagi. Payung pemberian dari bank tempat kami menabung, yang satu tertinggal di "angkot" oleh saya ketika masih di Makkah dan yang satu lagi ketelisut entah di mana. Dalam perjalanan pulang itu kami kembali agak tegang, karena saya mengganggap Kur kurang menanggapi dengan semestinya cerita saya mengenai buruknya kondisi saya di Masjid siang tadi. "Mama baru tahu kalau papa benar-benar mati," ujar saya dengan gusar, yang kemudian saya sadari, bahwa kata-kata tersebut tidak sepantasnya saya ucapkan. Lagi pula kalau "hitung-hitungan" benaran, tampaknya Kur lebih bisa hidup tanpa saya dari pada saya tanpa dia. Tetapi Kur tidak terlalu menanggapi dan hanya melepaskan tangannya dari pegangan saya ketika hendak membeli pisang ambon dari PKL yang memenuhi kedua trotorar di sebelah kiri jalan ke arah pemondokan. Kami tiba di pemondokan sekitar jam sembilan malam, dan setelah beristirahat sejenak kami makan nasi boks kiriman katering di mana saya tetap hanya mampu menghabiskan beberapa sendok nasi. Sehabis makan kami berbincang-bincang-bincang dengan teman-teman mengenai pengalaman siang tadi. Mbak Etty menceritakan pengalamannya ketika masuk ke Raudah dan mengajak Kur besok siang ke sana. Kami baru bisa merebahkan diri di tempat tidur lewat jam sepuluh malam Malamnya saya agak susah tidur, sehingga tahu ketika pak Tukiman, pensiunan Departemen Pertanian yang baik hati dan suka humor dan masih sangat sehat itu, bangun untuk bertahajud. Sekitar jam tiga pagi kami terbangun, sarapan ringan dan bersiap-siap untuk berangkat ke Masjid Nabawi guna melaksanakan shalat shubuh. (bersambung) -- . Posting yang berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini dan kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur dan Lokasi pada setiap posting - Hapus footer dan seluruh bagian tidak perlu dalam melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat e-mail baru, tidak me-reply e-mail lama dan mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali serta ingin mengubah konfigurasi/setting-an keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe. -- . Posting yang berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini dan kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur dan Lokasi pada setiap posting - Hapus footer dan seluruh bagian tidak perlu dalam melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat e-mail baru, tidak me-reply e-mail lama dan mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali serta ingin mengubah konfigurasi/setting-an keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.
