"Karakter yang paling menonjol dari Al-Qur'an ini – yakni simfoni yang tidak tertirukan," Arthur J. Arbery 1)
# Kamis 6 Maret Hari ini adalah arbain hari kedua. Pagi ini, ba'da shubuh, jemaah laki-laki kafilah kami akan mengunjungi Raudah dengan diantar pak Ustadz. Saya tidak ikut, walaupun sangat ingin ke sana walaupun hanya sejenak, dan berziarah ke makam Nabi SAW. Namun hari ini saya belum punya rencana untuk ke sana. Yang terpikir oleh saya ialah bagaimana saya dapat melaksanakan arbain tanpa terputus. Karena itu seusai shalat shubuh saya langsung pulang ke pemondokan dengan Kur. Sesudah agak siangan Kur mendatangi mas Andi menanyakan apakah mas Andi atau mbak Dewi punya payung yang bisa saya gunakan ke Masjid Nabawi. Mas Andi mengatakan bahwa mereka berdua sudah tidak punya lagi, tetapi akan membelikannya kalau menemukan orang yang menjualnya. Kur akhirnya mendapat payung pinjaman dari bu Aisyah. Berjalan dengan menggunakan payung ke Masjid sangat membantu kondisi saya tidak menjadi semakin merosot. Kami tiba di Masjid jam 11.30, satu jam menjelang waktu dzuhur. Saya memilih tempat yang adem di bagian belakang di antara pintu Raja Fahd dengan pintu Badar dengan pertimbangkan tempat itu relatif dekat ke toilet, sehingga kalau ingin buang air kecil atau memberbarui wudhuk saya mudah melakukannya. Untuk mengisi waktu, saya mengambil sebuah Al-Qur'an ukuran standar, dan membacanya dari awal dengan suara saya yang setengah berbisik dan sengau dengan nada yang monoton. Kalau saya merasa napas saya agak sesak, saya segera menghirup Atrovent inhaler. Mula-mula saya membaca agak tersendat-sendat karena beberapa jenis huruf dan tanda baca Al-Qur'an cetakan Saudi agak berbeda dengan Al Qur'an terbitan Indonesia. Eh, sampai azan dzuhur terdengar, saya dapat membaca Surrah Al-Baqarah sampai dengan halaman 5. Suara saya mengaji waktu itu mirip suara sebuah robot. Walaupun minum air masih tetap sulit dan setiap minum air saya langsung batuk-batuk, ketika menghentikan pembacaan guna mempersiapkan diri untuk shalat, perasaan saya terasa lebih nyaman. Selesai shalat dzuhur, saya merasa agak letih, lalu membaringkan diri dan kemudian jatuh tidur. Saya tertidur nyenyak hampir dua jam. Setelah terbangun dengan terbirit saya berjalan setengah berlari ke toilet memperbarui wudhuk. Tetapi alamaak, di setiap pintu WC terdapat empat sampai jemaah antri menunggu kesempatan. Kemudian saya turun dengan eskalator ke toilet yang terletak di lantai paling bawah. Apa boleh buat, terpaksa pula awak mengambil tempat di belakang salah satu antrian. Selesai shalat ashar saya keluar Masjid dan menunggu Kur di depan toko mas "Medina". Dari sana kami menuju ke Restoran Indonesia di lantai dasar Hotel Bahaudin, di sebelah Restoran Indonesia tempat saya makan kemarin. Kari daging dan sambal yang disediakan Restoran membangkitkan selera makan saya. Sayurannya saya "sharing" dengan Kur. Walaupun tidak mampu menghabiskan nasi satu piring, saya makan hampir setengahnya. Kalau agak seret saya mendorongnya dengan meneguk jus jeruk. Saya juga berhasil menghabiskan hampir setengah botol air kemasan dalam botol 600 cc. Setibanya kembali di Masjid dan selesai shalat tahiyatul Masjid dua rakaat, saya kembali melanjutkan membaca Al-Qur'an. Sampai waktu shalat maghrib tiba saya dapat menyelesaikan membaca lima halaman lagi, suatu hal yang sangat menyenangkan dan membuat badan dan perasaan saya semakin nyaman. Merasa agak susah membaca sambil membungkuk, saya mengambil rehal lipat dari kayu berukir yang tersandar di sisi rak Al-Qur'an dan menaruh Kitab Suci itu di atasnya. Seusai shalat maghrib saya kembali beristirahat dengan merebahkan badan, menunggu tibanya waktu isya. Halaman terakhir yang saya baca saya catat di balik kartu nama saya yang ada di dalam dompet 2) Selesai shalat dan berdo'a saya langsung keluar dan kembali menunggu Kur di depan toko mas "Medina" untuk pulang bersama. Dinginnya tiupan angin malam merasuk sampai ke tulang. Begitu bertemu saya ceritakan "prestasi" saya membaca Al-Qur'an hari itu. Kur senang dan tertawa. Ya tertawa, karena dia sendiri saat sudah hampir menyelesaikan 20 juz, atau hampir 400 halaman. Kami pulang dengan berpegangan tangan, lalu membeli 2 pot teh susu panas di depot Pepsi Cola dan menyeruputnya sambil berjalan. Di perjalanan Kur menceritakan pengalamannya masuk ke Raudah siang tadi. "Seru," katanya 3). "Pintu ada tiga, nggak tahu yang mau dibuka yang mana, sehingga di setiap pintu ada jemaah yang antri. Begitu pintu di buka, jemaah langsung menyerbu, sehingga askar perempuan yang menjaganya ikut terdorong." "Tetapi askarnya baik-baik," lanjut Kur. "Ketika mama hendak keluar, askarnya menyuruh mama shalat lagi." "Siti Rachma 4), ushali, ushali" ujar Kur menirukan omongan askar tersebut. Dan Kur tidak lupa mengingatkan saya agar jangan ke Raudah dulu. Kur melepaskan tangannya untuk membeli pisang ambon dan telur ayam rebus yang masih panas tiga biji dua riyal buat sarapan saya besok pagi dari seorang PKL yang berjualan di atas di trotoar pemisah. (bersambung) --------------- 1) Ahli Bahasa Arab Inggris, penulis "The Koran Interpreted" (1955), dikutip dari Taufik Adnan Amal (2001). 2) Sayang sekali kartu nama saya yang saya gunakan mencatat sampai halaman berapa saya membaca Al-Qur'an setiap hari selama menjalani arbain di Masjid Nabawi hilang bersama dengan dompet saya yang terjatuh dari kantung baju Pakistan saya yang kantungnya "cetek" sebelum Jumatan di Masjid dekat rumah saya, Jumat 1 Mei 2003 yang lalu. 3) Pintu dan waktu masuk jemaah perempuan dan jemaah laki-laki berbeda. Jemaah perempuan hanya bisa masuk Raudah tetapi tidak dapat ke dekan makam Rasulullah. Ulama-ulama Saudi melarang perempuan menziari kuburan. 4) Nama sapaan buat perempuan Indonesia di Saudi. -- . Posting yang berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini dan kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur dan Lokasi pada setiap posting - Hapus footer dan seluruh bagian tidak perlu dalam melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat e-mail baru, tidak me-reply e-mail lama dan mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali serta ingin mengubah konfigurasi/setting-an keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.
