Merasa kondisi badan saya semakin membaik, ketika makan dengan  Kur sehabis 
shalat ashar, saya mengatakan bahwa saya bermaksud akan ke Raudah hari Senin 
pagi. Tadinya saya rencanakan di hari Selasa pagi, tetapi saya majukan, karena 
hari Selasa itu kafilah kami kembali akan mengunjungi beberapa tempat di 
sekitar Madinah. 

Sehabis shalat ashar, kami kembali makan siang di basemen Hotel Bahaudin. 
Mengikuti selera makan yang semakin membaik, saya mulai dapat menghabiskan nasi 
satu piring.

Setelah selesai makan Kur terbatuk-batuk dan berlari kecil menuju toilet. 
Tetapi terlambat, sehingga pakaian dalamnya basah kena pipisnya. Tadinya saya 
kira kenanya hanya sedikit sehingga saya sarankan untuk mensucikannya dengan 
dibasahi air saja. Ternyata tidak, malahan merembes ke pakaian luarnya, 
sehingga mau tak mau Kur harus pulang ke pemondokan untuk mandi dan berganti 
pakaian.

Tidak kuat untuk mengantar ke pemondokan, saya sangat mencemaskan Kur yang 
terpaksa pulang sendirian. Saya sangat khawatir terjadi apa-apa pada dirinya, 
karena di perempatan jalan lingkar kota yang memotong jalan persis sebelum 
pemondokan kami, mobil-mobil yang lewat biasanya melaju kencang dan jarang ada 
yang mau mengurangi kecepatannya, walaupun pengemudinya melihat ada orang yang 
akan atau sedang menyeberang.

Perasaan khawatir itu tetap menganggu pikiran saya setelah kembali ke Masjid, 
sehingga saya tidak bisa melanjutkan pembacaan Al-Qur'an seperti biasa. Saya 
terus menerus berdoa agar Allah SWT melindungi isteri saya.

Mendekati saat shalat maghrib pikiran saya kembali agak tenang, sehingga saya 
dapat melaksanakan shalat maghrib dengan tuma'ninah. Sehabis shalat maghrib, 
udara di ruang terbuka terasa dingin karena seperti hari-hari sebelumnya pada 
jam tersebut, atap fiberglasnya sudah diturunkan melalui ruang kontrol dan 
merapat dengan apik ke tiang-tiang penyangganya. Saya kembali pindah ke saf di 
barisan belakang, memperbarui wudhuk ke toilet dan bersiap-siap untuk 
melaksanakan shalat isya. Tempat "favorit" saya di saf bagian belakang ialah di 
antara "lorong" (bagian yang tidak berlapis karpet) pintu Raja Fahd dan Pintu 
Badar.

Selesai shalat isya saya segera keluar masjid, dan begitu melihat Kur menunggu 
di tempat pertemuan kami yang biasa, saya tidak bisa menyembunyikan rasa  suka 
cita saya dan langsung mengatakan kepadanya betapa saya sangat menkhawatirkan 
dirinya. Kur menceritakan bahwa dari pemondokan dia diantar oleh Surya, yang 
tadinya belum akan berangkat ke Masjid, tetapi menyegerakannya ketika melihat 
Kur akan berangkat sendirian.

Di perjalanan pulang Kur menceritakan bahwa di Masjid  dia tadi duduk 
berdekatan dengan jemaah haji India yang kemudian memeluknya dan memberinya 
gelang yang dikenakannya saat itu. Kur juga menceritakan tentang jemaah haji 
Afganistan yang setiap hari berpuasa karena bekal mereka yang sangat terbatas. 
Karena itu besok Kur akan membawa makanan ke Masjid bagi mereka.

Kur yang siang tadi  masih  ke  Raudah menjelang waktu ashar, menceritakan 
bahwa dia bertemu dengan jemaah haji yang besok akan melakukan "Raudah Wada" 
karena akan kembali Tanah Air.

Raudah Wada?

Tercengang saya mendengar istilah itu. "Tercengang" dan "kagum" terhadap 
"kreativitas"  para jemaah haji, terutama para ustadz/ustadzah pembimbing, 
menciptakan istilah dan kegiatan-kegiatan yang tidak jelas juntrungannya, atau 
memberikan penekanan yang berlebihan, kurang proporsional, terhadap keutamaan 
dan keijabahan berdoa di depan Ka'bah dan Raudah, sehingga di tempat yang 
terakhir ini, jemaah selalu penuh sesak, dorong mendorong, sikut menyikut, 
tetapi melewati begitu saya saat-saat berwukuf di Arafah untuk berdoa, mengadu 
dan bermunajat kepada Allah SWT yang sangat aman dan nashnya kuat 2). Di 
Raudah, berdesak-desakan lebih berisiko tinggi karena tempatnya sangat terbatas.

Hal ini sering  mimbulkan kesan, seakan-akan Islam mengajarkan penganutnya 
melakukan penyiksaan dirinya guna mencapai keutamaan. Karena itu tidak 
mengherankan kalau ada orang-orang di luar Islam atau orang-orang "Islam KTP" 
yang beranggapan bahwa melakukan ibadah haji adalah pekerjaan "bodoh". Sudah 
mengeluarkan uang banyak sering celaka pula.

Pada hal secara prinsip peribadatan dalam Islam mudah dan tidak memberatkan. 
Padahal ibadah haji—meminjam Ali Shariati"—adalah "evolusi manusia menuju 
Allah". Dengan kata lain, perjalanan haji, walaupun bertumpu pada 
aktivitas-aktivitas fisik, pada hakekatnya lebih merupakan perjalan rohani 
ketimbang ragawi.

Dan ibadah haji, puasa Ramadhan dan ibadah-ibadah lainnya sama sekali bukan 
wahana untuk penyiksaan diri.

"……Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran 
bagimu….."(Al-Qur'an, S 2:185) 

Karena itu salah satu ketentuan fikih berbunyi: "Mencegah kemudaratan lebih 
didahulukan dari pada meraih kemanfaatan"

Tetapi apalah awak ini.

(bersambung) 

------------------
2)      Keutamaan berdo'a di Arafah ini ditegaskan dalam Hadis Nabi saw sebagai 
berikut: "Do'a paling afdal adalah do'a di hari Arafah," dan "Tidak ada hari 
yang paling banyak Allah menentukan pembebasan hamba-Nya dari neraka kecuali 
hari Arafah."  


-- 
.
Posting yang berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan di tempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini dan kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur dan Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer dan seluruh bagian tidak perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat e-mail baru, tidak me-reply e-mail lama dan 
mengganti subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin mengubah konfigurasi/setting-an 
keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.

Kirim email ke