Kemudian muncullah Hamengku Buwono I yang memang jaya di medan laga terhadap 
VOC, tetapi sayang kalah diplomasi di pertemuan perdamaian Giyanti, sehingga 
beliau tidak mendapatkan kemenangan yang mutlak. Padahal seharusnya bisa. 
Selanjutnya sebagai penguasa beliau tetap memakai memakai gelar Senopati 
Ingalogo Kalifatulah Sayidin Panotogomo. Ialah penguasa mutlak yang 
kedudukannya lebih tinggi dari hukum. Meskipun sampai wafat beliau tetap 
dicintai rakyat karena sifatnya yang adil dan integritas moralnya yang tinggi, 
tetapi ketatanegaraannya, kerajaan yang beliau wariskan tidak banyak berbeda 
dengan ketatanegaraan raja-raja Mataram Senopati sebelumnya, yakni kekuasaan 
raja yang tidak terbatas. Dengan ketatanegaraan dan tata hukum semacam itu, 
maka penggantinya adalah Sultan Hamengkubuwono II, dengan gampang ditaklukkan 
oleh Raffles dalam tempo 3 hari saja.

Sejak saat itu kedudukan penguasa-penguasa pibumi di Jawa, dari Anyer sampai 
Panarukan, tak ubahnya seperti mandor penjajahan bangsa asing belaka. Adapun 
kerajaan di Deli, Indragiri, Palembang dan kerajaan-kerajaan Kalimantan yang 
para penguasanya berkedudukan lebih tinggi dari hukum, sudah lama pula 
ditundukkan oleh penjajah bangsa asing yakni sejak pertengahan abad 17.

Di daerah-daerah yang kuat hukum adatnya, seperti Aceh, Batak, Bangka dan 
Minangkabau misalnya baru bisa ditundukkan oleh penjajah asing pada abad 19. 
Setelah ada pemerintahan "Nederland Indie" yang lebih modern budaya politiknya 
karena sudah dilengkapi dengan pengetahuan humaniora, kerjasama moneter yang 
lebih baik dengan Bank di Inggris, dan persenjataan yang lebih baik di darat 
dan di laut. Di laut dioperasikan kapal-kapal Schooner, dan canon-canon yang 
lebih modern, dan juga senapan-senapan yang bisa disokong.

Toh Bali, Sulawesi Selatan, Toraja, Ternate dan Tidore masih terus bisa melawan 
dan bertahan sampa abad ke-20. Berkat kekuasaan lembaga adat mereka, yang 
menyebabkab sumber daya manusianya dinamis dan kuat. Ketika seorang Bugis Wajo 
ditanyai oleh orang, kenapa banyak orang bugis sukses dan mendapat posisi 
penting di tanah rantauan orang Bugis akan menjawab,

"Merdeka orang Wajo, hanya hukum yang aku pertuan"

Ketika akhirnya mereka bisa ditaklukan oleh penjajah; Tanah Bugis tahun 1905, 
tanah Toraja tahun 1910, dan Bali pada tahun 1910. Sempurnalah penjajahan 
bangsa asing di tanah air kita. Apa lagi setelah pada tahun 1938 Sultan Ternate 
dan Tidore menandatangani Korte Verklaring dan lange Verklaring yang berarti 
kekalahan mutlak terhadap pihak penjajah asing.

Jadi sebetulnya mitos yang disebarkan oleh para elit politik zaman tahun 1928 
dan 1945 bahwa kita dijajah Belanda 3,5 abad, itu tidak berdasarkan kenyataan 
yang historis. Sebab kerajaan Belanda usianya kalah tua dengan kerajaan Jogja. 
Sampai sekarang usia kerajaan Belanda belum sampai 3,5 abad. Ya itulah nasib 
bangsa yang bicara presentence saja, mereka tidak begitu ingat tentang masa 
lalu, dan kurang paham memprediksi masa depan. Sehingga dengan demikian ada 
kesalahan pengertian sejarah, apalagi pihak Belanda waktu itu secara sadar 
meniadakan sekolah sejarah, sekolah pertanian, sekolah politik, sosiologi dan 
antropologi. Jadi "amnesia sejarah" memang bisa saja terjadi. Sebab ternyata 
Sulawesi Selatan dan Bali hanya dijajah 35 tahun saja.

Namun harus dicatat disini bahwa semua kemenangan Nederland Indie di Abad ke-20 
itu adalah akibat dari kemudahan-kemudahan yang diberikan oleh Terusan Suez. 
Adanya kapal-kapal uap yang mereka miliki sehingga angkatan laut mereka tanpa 
tertandingi di Asia Tenggara, dan persenjataan mereka yang jauh melebihi 
kekuatan persenjataan para pejuang pribumi, karena mereka memiliki metraliur, 
dynamit dan canon-canon modern yang lebih portable. Lebih jauh lagi, adalah 
kenyataan blokade angkatan laut Belanda terhadap daerah-daerah yang belum 
menyerah memang terasa berat dan melelahkan bagi daya tahan orang-orang pribumi.

Malahan ada lagi faktor lain ialah kemantapan pemerintahan Hindia Belanda di 
dalam menjalankan operasi-operasi penjajahan yang terencana itu, mereka berani 
menghadapi inflasi dan defisit di budget mereka. Sebagai lumrahnya Negara yang 
membangun dan berjuang, Belanda pun tidak ragu-ragu menghadapi defisit, tidak 
buru-buru mengejar balance budget, karena defisit ini pada akhirnya nanti 
merangsang daya beli dan daya produksi, dan toh akhirnya bisa kembali balance, 
dengan kekuatan ekonomi yang riil dan nyata. Tapi pemerintah kita sekarang 
takut pada defisit, menjalankan balance budget, karena control dari IMF dan 
World Bank.

Tetapi toh harus diakui bahwa daulat hukum adat ternyata sangat ampuh sebagai 
sumber daya tahan dan daya hidup suatu bangsa. Inilah contoh kegunaan positif 
dari tradisi.
Setelah kemenangan terhadap daerah-daerah adat itu, pemerintah Nederland Indie 
yang sangat ahli dan paham dalam ilmu-ilmu humaniora, memanfaatkan ilmu itu 
untuk rencana-rencana penjajahan mereka. Mereka tidak serta merta menghapus 
hukum adat itu, tetapi dengan terencana, tahap demi tahap, mengerosikan hukum 
adat tersebut. Adapun caranya dengan memberikan gaji yang tinggi kepada para 
sesepuh penjaga adat, memanjakan keperluan-keperluan duniawi mereka, tetapi 
mereka harus bertangggung jawab langsung kepada Gubernur jenderal dan tidak 
bertanggung jawab kepada rakyat. Kewenangan para penjaga hukum adat itu justru 
malah diperbesar sehingga menimbulkan rasa cemburu pada golongan aristokrat 
yang tadinya menjadi pelaksana pemerintahan. Sekarang mereka merasa terlalu 
diawasi oleh lembaga adat. Dan untuk meredakan rasa cemburu kepada para 
pemimpin adat, mereka diberi subsidi yang sangat besar, sehingga mereka 
bersaing dalam soal kemakmuran dengan para pemimpin adat. Daulat rakyat tidak 
lagi mendapat perlindungan. Mereka yang seharusnya memimpin masyarakat kini 
saling berebut pegaruh dan kuasa antar mereka, hukum adat kian lama kian lemah, 
sehingga akhirnya lenyap dari ingatan kolektif rakyat.


-- 
.
Posting yang berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan di tempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini dan kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur dan Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer dan seluruh bagian tidak perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat e-mail baru, tidak me-reply e-mail lama dan 
mengganti subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin mengubah konfigurasi/setting-an 
keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.

Kirim email ke