Ketika kami sudah berada kembali di dalam Asrama, beberapa jemaah mendiskusikan 
kemungkinan penundaan keberangkat kloter kami kembali ke Indonesia akibat 
tertundanya keberangkat Kloter 58 yang diakibatkan oleh kerusakan pesawat.

"Aah tidak mungkin," kata saya kepada mas Juliansyah, mbak Etty dan beberapa 
jemaah yang ada dekat saya. "Garuda kan tidak hanya punya satu pesawat," lanjut 
saya dan kemudian mengatakan bahwa saya kan sering terbang pakai Garuda, entah 
apa hubungannya. Karena itu sewaktu pak Ketua Kafilah mengatakan bahwa kloter 
kami akan berangkat malam nanti jam 10 ke Bandara  King Abdul Azis dan sesuai 
dengan jadwal kloter akan diberangkatkan ke Tanah Air jam 4 pagi waktu setempat 
(jam 8 pagi WIB) dan diperkirakan akan tiba di Jakarta jam 6 petang, saya agak 
`bangga' juga sedikit ("Apa kata saya," dalam hati). Juga diberitahukan bahwa 
setelah ditimbang oleh Garuda koper-koper kafilah kami tidak ada yang kelebihan 
berat. Kepada kami kemudian dibagikan boarding pass dengan nomer tempat duduk 
yang sama dengan dengan nomer tempat duduk sewaktu berangkat dari Sukarno-Hatta.

Kur kemudian turun untuk menilpon ke rumah memberitahukan kepastian kepulangi 
kami dengan menggunakan pesawat telepon yang penagihannya dilakukan di rumah.

Menjelang maghrib kami turun kembali ke bawah untuk membeli bakso, sate ayam 
dan teh susu panas, dan ketika kami mampir lagi ke toko kaset yang kami 
kunjungi tadi siang, ternyata VCD yang saya inginkan sudah ada lagi, yang 
langsung kami beli.

Melihat saya makan sate dengan lancar pak Hadi yang mungkin tidak tahu bahwa 
saya "urang awak"  bertanya, "Pak Darwin koq enak saja makannya, apa nggak 
pedas?".

Mendenar itu Kur tertawa dan kemudian menceritakan bahwa di meja makan kami di 
rumah selalu ada `warna merah', dan cucu-cucu kami, termasuk Upik yang masih 
kelas nol besar yang sering makan di rumah kami, sangat suka dendeng belado 
atau asam padeh daging masakan neneknya. 

Mendekati jam 9 malam kami bersiap-siap dan kemudian turun ke bawah guna 
menunggu bus-bus yang akan menjemput. Begitu sampai  di bawah, kami melihat 
sejumlah bus masuk dan kami kira diperuntukkan buat kloter kami. Ternyata 
bus-bus tersebut akan membawa jemaah kloter haji asal Surabaya ke Bandara King 
Abdul Azis yang akan kembali ke Tanah Air dengan menggunakan Saudia Air.

Sekitar jam 10 kurang 10 menit  seorang pengusaha katering di Jeddah yang kenal 
baik dengan mbak Etty, mendekati kami dan memberitahukan bahwa penerbangan kami 
ditunda karena ada kerusakan pada mesin pesawat yang akan kami naiki, dan kami 
baru akan  berangkat besok petang dengan pesawat yang sedang dikirim dari 
Jakarta. "Ah, masak sih?", kata saya yang sudah terlanjur bangga karena 
sebelumnya mendapat informasi bahwa penerbangan kami ke Jakarta benar sesuai 
dengan jadwal.

Dan ketika seorang Panitia Haji Indonesia di Jeddah memberi tahu bahwa 
kepulangan kami ke Indonesia ditunda ke jam 4 petang besok, hampir serempak 
kami bergumam: "Yaaaaaa…..!"

"Ini pasti ada hikmahnya," ujar bapak itu mencoba menghibur kami. Juga 
dikatakan bahwa besok pagi kami masih akan dapat pembagian konsumsi.

Jelas dong Pak, masak kami disuruh puasa sampai besok siang!

Setelah itu dengan kuncun kami semua kembali ke kamar kami di atas dengan 
membawa handbag dan barang tetentengan lainnya. Malamnya beberapa anggota 
kafilah kami diajak menginap di rumah pengusaha katering tersebut. 


Sabtu 15 Maret, pagi

Saya melaksanakan shalat shubuh di Masjid tempat kami shalat Jumat kemarin. 
Rupanya Masjid ini berada di bawah pengelolaan Pemerintah Kerajaan Saudi 
Arabia, karena imamnya dan khatib yang memberi khutbah Jumat kemarin adalah 
penduduk setempat. Tetapi seperti kemarin, ada pula orang Indonesia yang 
rupanya juga pengurus Masjid tersebut ikutan ngomomg dengan agak overackting 
dan mengutip-ngutip dalil, meminta jemaah untuk tetap tinggal di Masjid sampai 
matahari terbit untuk membaca wirid dan mendengar kuliah shubuh dari penceramah 
orang Indonesia. Melihat caranya mengajak yang kurang simpatik itu, begitu 
selesai shalat, saya langsung angkat kaki. Tidak lama kemudian, ketika sedang 
mencari penjual teh susu di sekitar kompleks, saya mendengar dari luar kuliah 
shubuh yang dibawakan oleh seorang pembicara yang berasal dari Sulawesi 
Selatan. Eh, ternyata ceramahnya cukup asyik juga.

Setelah kembali ke Asrama saya mengantar Kur turun untuk menelepon kepada 
anak-anak di rumah guna memberitahukan penundaan kepulangan kami. Ternyata 
anak-anak  telah diberi tahu lebih dulu oleh bu Silvy, isteri pak Ketua Kafilah 
yang begitu mengetahui ada penundaan langsung menilpon  ke rumah. Kur 
memberitahu bahwa hari Minggu jam 6 pagi kami dijadwalkan sudah tiba di Bandara 
Sukarno-Hatta.

Jam sembilan pagi kloter kami kembali turun dan bersiap-siap di bawah, dan jam 
setengah sepuluh bus yang akan mengangkut kloter kami ke Bandara sudah masuk 
satu-persatu. Pada saat anggota kafilah kami diabsen satu persatu sebelum naik 
ke atas bus-bus tersebut, ternyata anggota kafilah kami yang menginap di luar 
Asrama belum kembali. Hal itu menyebabkan pak Ketua kafilah yang penyabar itu 
menjadi gusar. Karena mereka itu sahabat-sahabat dekat kami, kami bermaksud 
untuk membawa handbag mereka dan kemudian mereka bisa menyusul ke Bandara 
dengan menggunakan taksi, tetapi dilarang oleh pak Ketua, sekalipun salah 
seorang anggota kafilah itu adalah keponakannya sendiri.

"Di bandara itu nanti repot, jadi biarkan saja," ujar beliau. "Kalau sampai 
saat kita berangkat mereka tidak datang, mereka ikut penerbangan berikutnya," 
tegasnya.

Ketika portir hendak menaikkan handbag kami ke atap bus Kur dan beberapa 
ibu-ibu—walaupun tahu hal ini dilarang—mengasi uang kepadanya.

"Biar dia hati-hati memperlakukan barang-barang kita," jelas Kur kepada saya.

Saya hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala.

Berbeda dengan jemaah lain, pak Chaidir tidak mau menaikkan handbagnya ke atas 
atap bus, walaupun disuruh-suruh petugas. Saya tahu alasannya. Handbagnya itu 
penuh dengan botol 300 cc berisi air zam-zam oleh-oleh buat tetangganya, 
sehingga kalau ditaruh di atas atap bus dan tertindih tas-tas lain, botol-botol 
itu bisa pecah dan membasahi tas-tas tersebut. Saya bisa membayangkan betapa 
gembiranya tetangga pak Chaidir menerima oleh-oleh istimewa tersebut. 

Tidak lama kemudian anggota kafilah yang tidur di luar asrama itu datang yang 
langsung ditegur oleh pak Ketua Kafilah.

Jam sepuluh lewat sedkit, bus-bus yang membawa kloter kami bergerak menuju 
Bandara  King Abdul Azis. 

---------------------------------------------   
2)      Setelah kami putar di rumah ternyata kaset itu rekaman dari 
potongan-potongan bacaan Imam Masjidil Haram mengimami Shalat Tarawih dalam 
bulan Ramadhan. Lalu kami ingat cerita Ustadz Iskan waktu di Mina bahwa 
ulama-ulama hafidz Al-Qur'an di Saudi yang kehidupannya zuhud itu tidak mau 
merekam suaranya untuk tujuan komersial. Tapi ada saja akal orang untuk 
memperolehnya. Seperti diketahui pada Shalat Tarawih 23 rakaat yang 
dilaksanakan di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi, imam Masjid membaca ayat-ayat 
setelah Suratul Fatihah satu juz setiap malam, sehingga selama bulan Ramadan 
itu selesai Al-Qur'an  dibaca sampai tamat. Saya ingat dalam diskusi di Milis 
Proletar ada beberapa netters yang meragukan kalau ada orang yang bisa hafal 
keseluruhan isi Al-Qur'an. Sekitar dua juta orang yang melaksanakan Shalat 
Tarawih di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi setiap tahunnya menjadi saksi bahwa 
keraguan tersebut tidak berdasar, walaupun sebenarnya tidak perlu jauh-jauh, 
karena di Indonesia sendiripun tidak sedikit orang yang bahasa ibunya bukan 
Bahasa Arab hafal Al-Qur'an 30 juz.


-- 
.
Posting yang berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan di tempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini dan kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur dan Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer dan seluruh bagian tidak perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat e-mail baru, tidak me-reply e-mail lama dan 
mengganti subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin mengubah konfigurasi/setting-an 
keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.

Kirim email ke