Bangunan Asrama Debarkasi Haji Indonesia di Jeddah terletak di lokasi yang 
tidak sestrategis dan dari luar tidak sebagus bangunan Asrama Debarkasi Haji 
Malaysia yang sebelumnya kami lewati. Asrama Debarkasi Haji Indonesia yang akan 
menampung kami sebelum berangkat ke Bandara King Abdul Azis besok malam, 
merupakan bangunan bertingkat empat yang dilengkapi dengan lift. Kamar-kamarnya 
berupa bangsal dengan tempat tidur bertingkat dan berendengan dua-dua dan hanya 
berpendingin kipas angin. Saya tidak dapat membayangkan seperti apa rasanya 
berada di sini manakala temperatur di Saudi mencapai 500 Celcius atau lebih. 
Toilet/kamar mandi dan tempat berwudhuk tampak terbuat dari material kelas dua 
dan tidak begitu terawat dan bersih. Kloset jongkoknya sudah berwarna 
kehitam-hitaman.

Kami hanya membawa handbag dan barang-barang tentengan lainnya, karena 
koper-koper langsung dibawa ke counter Garuda di Bandara King Abdul Azis untuk 
ditimbang dan kemudian dimuat ke bagasi pesawat yang akan membawa kami pulang 
ke Tanah Air.

Kafilah kami mendapat dua kamar yang diisi per kelompok sehingga suami isteri 
tidak perlu menempati kamar terpisah. Pengaturannya, para isteri menempati 
dipan yang di bawah dan para suami menempati dipan yang di atas

Karena kasihan melihat saya harus turun naik untuk tidur atau beristirahat, 
mbak Etty yang dipannya berseberangan dengan dipan kami menawarkan untuk 
bertukar tempat dengan saya, sedangkan mas Juliansyah akan menepati dipan 
kosong yang di atas dipan bu Aisyah yang  terletak persis di sebelah bekas 
dipan saya, sehingga mereka tidur bersebelahan.  Tetapi dengan menempati bekas 
dipan mbak Etty, saya jadinya tidur di dipan yang berendengan dengan dipan 
isteri seorang jemaah.

"Wah, gawat  nich," ujar saya dalam hati.

Akhirnya saya bertukar tempat dengan bu Aisyah yang bersebelahan dengan dipan 
yang ditempati Kur, sementara mbak Etty dan mas Juliansyah pindah ke sebuah 
tempat tidur yang masih kosong, sehingga mbak Etty bisa tetap menempati dipan 
yang di bawah yang ditempati mas Juliansyah.

Kepada kami dibertahukan bahwa selama di Jeddah, termasuk ketika menunggu di 
ruang keberangkatan Bandara  King Abdul Azis, kami memperoleh jatah makanan 
yang disiapkan oleh Panitia Haji Indonesia. Tetapi asalkan kocek masih berisi, 
di sini jemaah mempunyai cukup banyak pilihan. Di sepanjang alur jalan masuk ke 
Asrama terdapat kios-kios yang menjual berbagai masakan Indonesia seperti 
gado-gado, bakso, lotek dan sate, dan tentu saja teh susu panas. Malam itu 
sebelum tidur, kami mendapat jatah makan malam berapa  nasi boks, buah dan air 
mineral. Karena selera makan saya mulai pulih—walaupun ikan dan sayur di nasi 
boks tersebut tidak pedas dan tidak ada sambalnya—saya tidak mengalami 
kesukaran untuk menyantapnya sampai habis.


Jumat, 14 Maret

Tidak lama setelah terjaga dari tidur, saya mendengar azan shubuh dari Masjid 
yang ada di kompleks Asrama, yang tadinya saya pikir baru azan pertama, 
sehingga ketika Kur membangunkan saya untuk shalat shubuh saya masih 
tidur-tidur ayam saja. Tetapi ketika saya mendengar suara pak Ustadz mengimami 
jemaah di luar kamar,  saya sadar bahwa azan yang saya dengar tadi merupakan 
azan kedua. Saya buru-buru bangun untuk berwudhuk dan bergabung. Namun saya 
tidak bisa keluar kamar karena pak Ustadz shalat tepat di dekat pintu keluar. 
Ternyata saya harus menunggu cukup lama karena doa sehabis shalat yang 
dijaharkan pak Ustadz dan diamin-aminkan oleh para jemaah panjang banget.

Ketika hendak keluar untuk mandi dan berwudhuk, saya bertemu dengan pak 
Radjikin yang baru kembali shalat shubuh di Masjid yang berada di kompleks 
tersebut dan menyarankan, kalau saya mau mandi sebaiknya di kamar mandi/toilet 
yang terletak di depan Masjid yang jauh lebih bersih daripada yang di dalam 
Asrama. 

Di Jeddah terdapat beberapa obyek ziarah yaitu "Kuburan Siti Hawa" yang 
panjangnya 8 meter, "Sepeda Bani Adam" 1), Masjid Qisas (Masjid tempat 
diberlakukannya qisas atau hukuman mati bagi para pembunuh yang tidak dimaafkan 
oleh keluarga korban) dan pantai Laut Merah, yang bisa dikunjungi dengan bus 
"shuttle" yang juga lewat di depan Asrama Debarkasi. Penumpang setelah membayar 
bisa turun di salah satu obyek ziarah dan setelah selesai naik bus lain ke 
obyek ziarah yang lain dengan kembali membayar.

Kur mula-mula mengatakan ingin pergi ziarah bersama-sama rombongan bu Juminem 
tetapi kemudian bilang ingin istirahat, yang saya amini saja, karena saya juga 
sebenarnya lebih suka beristirahat karena merasa sangat letih.

Berbeda dengan ketika masih berada di Makkah dan Madinah—hatta ketika masih 
menderita sakit—saat ini capek badan mulai terasa sekali, sehingga terbersit 
dalam pikiran saya bahwa mengingat usia dan kesehatan, ibadah haji ini adalah 
yang pertama dan sekaligus terakhir buat saya. Setelah berada di sini kerinduan 
kepada rumah dan anak-anak juga mulai terasa. Padahal sejak pertama kali 
menginjakkan kaki di Terminal A Bandara Sukarno-Hatta waktu hendak berangkat, 
pekerjaan, rumah dan juga anak-anak jarang sekali teringat, kecuali ketika 
saat-saat berdo'a untuk mereka.

Selesai mandi dan sarapan saya pamit kepada Kur untuk keluar dan berjalan-jalan 
di sekitar Asrama. Namun ketika hendak keluar dari pintu gerbang Asrama, askar 
yang menjaga di sana tidak memperbolehkannya. Rupanya yang diperbolehkan jika 
keluar dengan berombongan.

Ketika azan shalat Jumat yang pertama terdengar, saya masih bermalas-malasan di 
atas dipan saya dan merencanakan baru akan berangkat menjelang azan yang kedua 
karena Masjidnya toh masih di dalam kompleks. "Nanti tidak dapat tempat," ujar 
pak Erman yang sudah siap-siap untuk berangkat. Saya pikir benar juga, dan 
memutuskan untuk ikut rombongan teman-teman, sehingga ketika sampai di Masjid 
saya sempat membaca dan menyelesaikan Surah Yasin dengan tartil sampai azan 
kedua dikumandangkan (saya tidak bisa dan terbiasa membaca Yasin dengan 
"ngebut" seperti yang biasa dilakukan sebagian orang).

Ketika hendak makan siang Kur turun ke bawah untuk membeli bakso pakai sambal 
yang pedas yang sudah lama dipengeninya dan sate ayam buat saya di depot 
makanan terbesar di kompleks tersebut. Tapi pulangnya Kur hanya membawa bakso 
yang harganya di sana 10 riyal satu porsi, karena sate ayam baru dijual setelah 
jam 5 petang.

Kur yang tadinya tidak berminat untuk berziarah, sekarang malah jadi kepingin 
setelah mendengar cerita bu Juminem yang pergi ke tempat-tempat ziarah tersebut 
dengan dipandu Ustadz Azis. Mas Juliansyah dan mbak Etty, dan kemudian juga mas 
Andi dan mbak Dewi menyatakan mau ikut juga. 

Setelah makan siang kami berenam turun untuk berangkat ke tempat-tempat ziarah 
tersebut. Ketika masih di dalam kompleks Asrama, kami bertemu dengan seorang 
jemaah yang baru kembali dari sana.

"Mau lihat apa sih?" tanyanya. "Laut di Ancol lebih bagus," lanjutnya. Akhirnya 
kami batal berangkat dan balik kanan untuk kembali ke Asrama. Sebelum kembali 
ke atas, Kur dan saya mampir terlebih dahulu ke kios kaset dan VCD yang ada di 
kompleks tersebut untuk membeli VCD Manasik Haji dalam Bahasa Indonesia yang 
diterbitkan oleh Pemerintah Kerajaan Saudi Arabia yang saya lihat di sana pagi 
tadi. Ternyata VCD yang saya ingini itu sudah terjual habis. Akhirnya kami 
hanya membeli dua buah kaset bacaan Al-Qur'an Imam Masjidil Haram, yakni Surah 
Al-Baqarah dan Juz `Amma 2).   

---------------------------------
1)      Menurut Halim (1995) riwayat yang mengatakan Siti Hawa dimakamkan di 
sana lemah dan banyak ditentang ahli sejarah.


-- 
.
Posting yang berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan di tempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini dan kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur dan Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer dan seluruh bagian tidak perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat e-mail baru, tidak me-reply e-mail lama dan 
mengganti subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin mengubah konfigurasi/setting-an 
keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.

Kirim email ke