Tarimo kasi pak Haji Darwin ateh pakirin pajalanan spiritual nangko. 
Tapi ado ciek nan mungkin paralu dikoreksi yaitu satantangan suhu di
Saudi nan kalau mancapai 500 derjat celcius atau labiah. Kiro-kiro bara
angko nan ka apak mukasuik.

Tarimo kasi

Wassalam


-----Original Message-----
From: [email protected] [mailto:[email protected]] On
Behalf Of Darwin
Sent: Monday, July 05, 2010 11:27 AM
To: [email protected]
Subject: [...@ntau-net] [27] Di Madinatul Hujjaj, Jeddah (A)

Bangunan Asrama Debarkasi Haji Indonesia di Jeddah terletak di lokasi
yang tidak sestrategis dan dari luar tidak sebagus bangunan Asrama
Debarkasi Haji Malaysia yang sebelumnya kami lewati. Asrama Debarkasi
Haji Indonesia yang akan menampung kami sebelum berangkat ke Bandara
King Abdul Azis besok malam, merupakan bangunan bertingkat empat yang
dilengkapi dengan lift. Kamar-kamarnya berupa bangsal dengan tempat
tidur bertingkat dan berendengan dua-dua dan hanya berpendingin kipas
angin. Saya tidak dapat membayangkan seperti apa rasanya berada di sini
manakala temperatur di Saudi mencapai 500 Celcius atau lebih.
Toilet/kamar mandi dan tempat berwudhuk tampak terbuat dari material
kelas dua dan tidak begitu terawat dan bersih. Kloset jongkoknya sudah
berwarna kehitam-hitaman.

Kami hanya membawa handbag dan barang-barang tentengan lainnya, karena
koper-koper langsung dibawa ke counter Garuda di Bandara King Abdul Azis
untuk ditimbang dan kemudian dimuat ke bagasi pesawat yang akan membawa
kami pulang ke Tanah Air.

Kafilah kami mendapat dua kamar yang diisi per kelompok sehingga suami
isteri tidak perlu menempati kamar terpisah. Pengaturannya, para isteri
menempati dipan yang di bawah dan para suami menempati dipan yang di
atas

Karena kasihan melihat saya harus turun naik untuk tidur atau
beristirahat, mbak Etty yang dipannya berseberangan dengan dipan kami
menawarkan untuk bertukar tempat dengan saya, sedangkan mas Juliansyah
akan menepati dipan kosong yang di atas dipan bu Aisyah yang  terletak
persis di sebelah bekas dipan saya, sehingga mereka tidur bersebelahan.
Tetapi dengan menempati bekas dipan mbak Etty, saya jadinya tidur di
dipan yang berendengan dengan dipan isteri seorang jemaah.

"Wah, gawat  nich," ujar saya dalam hati.

Akhirnya saya bertukar tempat dengan bu Aisyah yang bersebelahan dengan
dipan yang ditempati Kur, sementara mbak Etty dan mas Juliansyah pindah
ke sebuah tempat tidur yang masih kosong, sehingga mbak Etty bisa tetap
menempati dipan yang di bawah yang ditempati mas Juliansyah.

Kepada kami dibertahukan bahwa selama di Jeddah, termasuk ketika
menunggu di ruang keberangkatan Bandara  King Abdul Azis, kami
memperoleh jatah makanan yang disiapkan oleh Panitia Haji Indonesia.
Tetapi asalkan kocek masih berisi, di sini jemaah mempunyai cukup banyak
pilihan. Di sepanjang alur jalan masuk ke Asrama terdapat kios-kios yang
menjual berbagai masakan Indonesia seperti gado-gado, bakso, lotek dan
sate, dan tentu saja teh susu panas. Malam itu sebelum tidur, kami
mendapat jatah makan malam berapa  nasi boks, buah dan air mineral.
Karena selera makan saya mulai pulih-walaupun ikan dan sayur di nasi
boks tersebut tidak pedas dan tidak ada sambalnya-saya tidak mengalami
kesukaran untuk menyantapnya sampai habis.


Jumat, 14 Maret

Tidak lama setelah terjaga dari tidur, saya mendengar azan shubuh dari
Masjid yang ada di kompleks Asrama, yang tadinya saya pikir baru azan
pertama, sehingga ketika Kur membangunkan saya untuk shalat shubuh saya
masih tidur-tidur ayam saja. Tetapi ketika saya mendengar suara pak
Ustadz mengimami jemaah di luar kamar,  saya sadar bahwa azan yang saya
dengar tadi merupakan azan kedua. Saya buru-buru bangun untuk berwudhuk
dan bergabung. Namun saya tidak bisa keluar kamar karena pak Ustadz
shalat tepat di dekat pintu keluar. Ternyata saya harus menunggu cukup
lama karena doa sehabis shalat yang dijaharkan pak Ustadz dan
diamin-aminkan oleh para jemaah panjang banget.

Ketika hendak keluar untuk mandi dan berwudhuk, saya bertemu dengan pak
Radjikin yang baru kembali shalat shubuh di Masjid yang berada di
kompleks tersebut dan menyarankan, kalau saya mau mandi sebaiknya di
kamar mandi/toilet yang terletak di depan Masjid yang jauh lebih bersih
daripada yang di dalam Asrama. 

Di Jeddah terdapat beberapa obyek ziarah yaitu "Kuburan Siti Hawa" yang
panjangnya 8 meter, "Sepeda Bani Adam" 1), Masjid Qisas (Masjid tempat
diberlakukannya qisas atau hukuman mati bagi para pembunuh yang tidak
dimaafkan oleh keluarga korban) dan pantai Laut Merah, yang bisa
dikunjungi dengan bus "shuttle" yang juga lewat di depan Asrama
Debarkasi. Penumpang setelah membayar bisa turun di salah satu obyek
ziarah dan setelah selesai naik bus lain ke obyek ziarah yang lain
dengan kembali membayar.

Kur mula-mula mengatakan ingin pergi ziarah bersama-sama rombongan bu
Juminem tetapi kemudian bilang ingin istirahat, yang saya amini saja,
karena saya juga sebenarnya lebih suka beristirahat karena merasa sangat
letih.

Berbeda dengan ketika masih berada di Makkah dan Madinah-hatta ketika
masih menderita sakit-saat ini capek badan mulai terasa sekali, sehingga
terbersit dalam pikiran saya bahwa mengingat usia dan kesehatan, ibadah
haji ini adalah yang pertama dan sekaligus terakhir buat saya. Setelah
berada di sini kerinduan kepada rumah dan anak-anak juga mulai terasa.
Padahal sejak pertama kali menginjakkan kaki di Terminal A Bandara
Sukarno-Hatta waktu hendak berangkat, pekerjaan, rumah dan juga
anak-anak jarang sekali teringat, kecuali ketika saat-saat berdo'a untuk
mereka.

Selesai mandi dan sarapan saya pamit kepada Kur untuk keluar dan
berjalan-jalan di sekitar Asrama. Namun ketika hendak keluar dari pintu
gerbang Asrama, askar yang menjaga di sana tidak memperbolehkannya.
Rupanya yang diperbolehkan jika keluar dengan berombongan.

Ketika azan shalat Jumat yang pertama terdengar, saya masih
bermalas-malasan di atas dipan saya dan merencanakan baru akan berangkat
menjelang azan yang kedua karena Masjidnya toh masih di dalam kompleks.
"Nanti tidak dapat tempat," ujar pak Erman yang sudah siap-siap untuk
berangkat. Saya pikir benar juga, dan memutuskan untuk ikut rombongan
teman-teman, sehingga ketika sampai di Masjid saya sempat membaca dan
menyelesaikan Surah Yasin dengan tartil sampai azan kedua dikumandangkan
(saya tidak bisa dan terbiasa membaca Yasin dengan "ngebut" seperti yang
biasa dilakukan sebagian orang).

Ketika hendak makan siang Kur turun ke bawah untuk membeli bakso pakai
sambal yang pedas yang sudah lama dipengeninya dan sate ayam buat saya
di depot makanan terbesar di kompleks tersebut. Tapi pulangnya Kur hanya
membawa bakso yang harganya di sana 10 riyal satu porsi, karena sate
ayam baru dijual setelah jam 5 petang.

Kur yang tadinya tidak berminat untuk berziarah, sekarang malah jadi
kepingin setelah mendengar cerita bu Juminem yang pergi ke tempat-tempat
ziarah tersebut dengan dipandu Ustadz Azis. Mas Juliansyah dan mbak
Etty, dan kemudian juga mas Andi dan mbak Dewi menyatakan mau ikut juga.


Setelah makan siang kami berenam turun untuk berangkat ke tempat-tempat
ziarah tersebut. Ketika masih di dalam kompleks Asrama, kami bertemu
dengan seorang jemaah yang baru kembali dari sana.

"Mau lihat apa sih?" tanyanya. "Laut di Ancol lebih bagus," lanjutnya.
Akhirnya kami batal berangkat dan balik kanan untuk kembali ke Asrama.
Sebelum kembali ke atas, Kur dan saya mampir terlebih dahulu ke kios
kaset dan VCD yang ada di kompleks tersebut untuk membeli VCD Manasik
Haji dalam Bahasa Indonesia yang diterbitkan oleh Pemerintah Kerajaan
Saudi Arabia yang saya lihat di sana pagi tadi. Ternyata VCD yang saya
ingini itu sudah terjual habis. Akhirnya kami hanya membeli dua buah
kaset bacaan Al-Qur'an Imam Masjidil Haram, yakni Surah Al-Baqarah dan
Juz `Amma 2).   

---------------------------------
1)      Menurut Halim (1995) riwayat yang mengatakan Siti Hawa
dimakamkan di sana lemah dan banyak ditentang ahli sejarah.


-- 

-- 
.
Posting yang berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan di tempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini dan kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur dan Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer dan seluruh bagian tidak perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat e-mail baru, tidak me-reply e-mail lama dan 
mengganti subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin mengubah konfigurasi/setting-an 
keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.

Kirim email ke