Tepat Jam 4.20 pagi WIB, Boeing 747 Garuda Menjejakkan Rodanya di Landasan Pacu 
Bandara Soekarno-Hatta (A)


Sabtu 15 Maret, Siang

Jam setengah sebelas lebih sedikit rombongan kami tiba di Terminal Haji Bandara 
King Abdul Azis. Setelah seluruh handbag dan barang-barang bawaan lainnya 
diturunkan dari bus, kami memasuki bangsal besar dengan atap berarsitektur 
tenda seperti bangsal tempat kami berkumpul ketika baru tiba dari Tanah Air, 
dan berkumpul per kafilah di atas "kapling" masing-masing. Saya menenteng 
handbag dan tas plastik, sedangkan Kur membawa dua buah tas dengan roda bagasi. 
Saya sempat membantu pak Masdoeki turun dari bus dan beliau terlihat sangat 
berterima kasih sekali.

Ketika hendak masuk kompleks Bandara, seorang petugas haji Indonesia menyambut 
kami sembari berkata: "Ini tamu-tamu yang harus dilayani dengan baik nich."

Tidak lama kemudian kami mendapat pembagian konsumsi serta oleh-oleh air 
zam-zam dalam jerigen 5 liter untuk setiap jemaah dari Garuda Indonesia.

Saya menyaksikan beberapa petugas haji Indonesia mondar mandir, termasuk yang 
mengatakan akan melayani dengan baik barusan, namun tidak jelas apa fungsi 
mereka dan layanan apa yang mereka berikan kepada rombongan kami. Sebagian dari 
mereka bahkan ada yang menjajakan buku dan menukar uang riyal para jemaah yang 
masih tersisa dengan rupiah. Kur menukarkan kepada salah seorang petugas 
tersebut beberapa puluh riyal uang kami yang masih tersisa—kecuali satu lembar 
pecahan 5 riyal yang akan saya simpan sebagai kenang-kenangan—dengan nilai 
tukar Rp2.300 per satu riyal. Lumayan, ketimbang repot-repot menukarkannya ke 
money changer setelah kembali ke Tanah Air. Ternyata ada juga "layanan" yang 
mereka berikan kepada jemaah. 

Setelah makan dan beristirahat selama lebih dari satu jam, kafilah kami diminta 
berbaris dan berjalan menuju ruang pemeriksaan imigrasi dan Ruang Tunggu Jemaah 
Haji Indonesia. Ruangan ini mempunyai dua pintu masuk, yang satu khusus untuk  
jemaah perempuan dan yang satu lagi khusus untuk jemaah laki-laki. Ketika itu 
beban yang saya bawa bertambah dengan satu jerigen air zam-zam jatah Kur dari 
Garuda Indonesia. Sedangkan tas plastik yang berisi mainan oleh-oleh untuk 
cucu-cucu kami dibantu bu Juminem membawakannya.

Di depan pintu masuk tersebut kami diminta antri, jemaah laki-laki dengan 
jemaah laki-laki, jemaah perempuan dengan jemaah perempuan, dan askar yang 
menjaga mulai menyuruh jemaah perempuan masuk lima-lima. Pergerakannya terasa 
lambat karena para askar yang menjaga terlihat agak lelet dan bekerja suka-suka.

Beberapa jemaah yang melihat dan mengenali saya mempersilakan saya untuk antri 
di depan, tetapi karena merasa tidak perlu diistimewakan, saya tolak dengan 
baik.

Tidak lama terdengar azan dzuhur. Mula-mula saya ragu apa mau shalat dulu atau 
nanti saja di ruang tunggu, tetapi kemudian saya putuskan untuk meninggalkan 
antrian, mengambil wudhuk di sebuah toilet di dekat Outlet Pepsi Cola, dan 
kemudian mencari tempat shalat. Kebetulan saya menemukan tempat shalat jemaah 
haji Pakistan dan shalat berjemaah dengan mereka di sana.

Selesai shalat saya sempat agak kebingungan karena kehilangan orientasi, tetapi 
akhirnya berhasil menemukan antrian kafilah kami. Ketika bergabung kembali 
dengan barisan, beberapa orang jemaah laki-laki sudah ada yang masuk. Seorang 
jemaah lagi-lagi  menganjurkan agar saya pindah ke antrian depan, dan kembali 
saya bilang tak usah.

Pemeriksaan paspor lancar-lancar saja, hanya ya itu, gerakan jemaah 
kadang-kadang tersendat-sendat. Ketika hendak sampai ke tempat pemeriksaan 
barang saya melihat ban berjalan yang membawa air zam-zam dalam berbagai wadah, 
yang oleh petugas Garuda diminta untuk dibagasikan saja. Sebenarnya soal barang 
bawaan ke kabin, Garuda lebih "bertoleransi" dari pada "Saudia". Ya, karena 
bertoleransi itu, rak bagasi yang di atas tempat duduk sering tidak dapat 
menampung semua barang bawaan penumpang. Oleh sebab itu, setiap bepergian 
dengan pesawat di Tanah Air jika bertugas, saya selalu  mencari tempat duduk di 
ruang tunggu yang dekat dengan pintu keberangkatan agar pada saat boarding 
dapat cepat masuk ke dalam pesawat supaya selalu kebagian tempat di rak bagasi 
di atas tempat duduk guna menaruh laptop dan tas tangan saya. Pikiran seperti 
itu kembali muncul ketika menyaksikan begitu banyaknya barang tentengan yang 
dibawa jemaah.. 

Selesai pemeriksaan kartu kesehatan, paspor dan bagasi, seluruh jemaah kloter 
kami berkumpul di ruang keberangkatan yang mirip bangsal dan tempat duduknya 
tidak cukup bagi seluruh anggota kloter yang berjumlah hampir 500 orang 
tersebut, sehingga sebagian jemaah terpaksa berdiri.

Ketika sedang menunggu itu ada yang menjajakan teh susu panas lewat di dekat 
kami. Saya ingin sekali membelinya, tetapi sayang uang riyal kami sudah habis, 
kecuali pecahan 5 riyal yang akan saya jadikan kenang-kenangan itu. Mau 
meminjam kepada sesama jemaah malu juga, sehingga keinginan tersebut terpaksa 
saya tahan.. Tetapi Alhamdulillah, tiba-tiba Kur menyuguhkan satu pot teh susu 
panas kepada saya. "Ditraktir Mbak Dewi," jelasnya.

Satu jam menjelang keberangkatan kami dipersilakan untuk boarding, namun entah 
kenapa lagi-lagi jemaah perempuan yang disuruh boarding lebih dulu, sehingga 
saya dan Kur terpaksa berpisah. Begitu diperbolehkan masuk saya langsung 
berjalan dengan mendudu dengan menenteng barang bawaan saya, sehingga pak Yogas 
yang pernah sekamar dengan  kami ketika saya sakit di Makkah dulu, yang tampak 
agak bersusah payah membawa barang-barang bawaannya, saya lewati saja tanpa 
saya sapa. Yang terpikir di benak saya ketika itu hanyalah bagaimana segera 
sampai ke tempat duduk dan menaruh handbag saya di atas rak bagasi.

Dan tak lama kemudian saya langsung mendapat ganjaran!

Begitu masuk ke dalam pesawat dan hendak menuju tempat duduk saya dan Kur di 
nomer 057 dan 058 di barisan seperti waktu kami berangkat dari Jakarta dulu 
saya kaget, lho kok lain?

Kemudian saya sadar bahwa ini adalah Boeing 747 seri 400 yang kapasitas dan 
lay-out tempat duduk nya agak berbeda dengan tipe 200 yang kami gunakan pada 
penerbangan Jakarta-Jeddah 2). Tetapi kesadaran itu tidak membuat saya mudah 
menemukan tempat duduk yang sesuai dengan nomor yang ada di boarding pas. 
Setelah berputar-putar kebingungan, ya, seorang pemegang GFF Card 
berputar-putar kebingungan di atas sebuah pesawat Garuda sembari menenteng 
handbag dan satu jerigen air zam-zam, dan hampir sepuluh menit baru berhasil 
menemukan isteri dan tempat duduknya di pesawat!

Berbeda dengan penerbangan regular, penomoran tempat duduk tempat duduk pada 
penerbangan haji, didasarkan kepada nomor urut dari kiri depan ke kanan lalu ke 
kursi paling kiri di belakangnya dan terus demikian sampai ke kursi paling 
belakang paling kanan. Jadi tidak ada seat no A1, B1 dan seterusnya. Cara 
penomoran seperti ini memungkinkan seorang jemaah memiliki nomer tempat duduk 
yang sama pada waktu berangkat dan ketika kembali ke Tanah Air walaupun pesawat 
atau lay-out tempat duduk di pesawat yang digunakan berbeda. Hal sangat 
menyederhanakan dan menghemat waktu untuk check-in di Bandara King Abdul Azis 
sewaktu jemaah hendak kembali ke Tanah Air. 

Setelah saya duduk, Kur mengatakan bahwa dia tadi sudah melihat saya masuk 
tetapi ketika hendak memanggil, saya sudah menghilang ke depan.

Ternyata tidak ada masalah dalam penempatan barang-barang bawaan kami. Kedua 
handbag dan tas plastik dapat ditaruh di dalam rak bagasi di atas tempat duduk 
kami. Jerigen air zam-zam, sesuai dengan prosedur harus ditaruh di bawah kursi, 
sedangkan roda bagasi yang harus dilepas sebelum masuk ke dalam pesawat 
diletakkan pramugari di sebuah tempat yang aman.


---------------------------------
1)      Sikapnya yang agak longgar terhadap barang bawaan penumpang ke dalam 
kabin merupakan kelebihan lain dan sekaligus kelemahan Garuda. Tetapi terlepas 
dari hal itu dan kerepotan harus ke Jeddah dulu untuk pulang ke Tanah Air, saya 
tetap lebih senang menggunakan Garuda. Ini tidak hanya menyangkut masalah 
nasinonalisme atau semacamnya, tetapi lebih dikarenakan dalam  profesionalisme 
pelayanan, Garuda tidak di bawah Saudia, kalau tidak hendak dikatakan lebih 
baik. Contohnya Saudia Airlines masih mau menyewa pesawat dari maskapai 
penerbangan semacam "Indonesian Airlines" guna menutupi kekurangan armada 
hajinya, sementara Garuda, sepanjang yang saya ketahui, hanya mau menyewanya 
dari maskapai penerbangan yang bonafid. Ketika saya bertugas ke Sulawesi 
Selatan tiga pekan sebelum berangkat ke Tanah Suci, saya melihat sebuah pesawat 
Boeing 767 (saya tidak salah ketik!) KLM berlogo Garuda  sedang parkir di 
Bandara Hasanudin, artinya disewa Garuda dari KLM guna mengangkut jemaah haji  
Embarkasi Makasar.  Pelayanan "on board" Garuda juga cukup baik. Pramugarinya 
rata-rata santun-santun dan Garuda bisa menampilkan suasana religius sepanjang 
penerbangan. Selama perjalanan pergi dan Garuda memberi makan panas 
masing-masing sebanyak dua kali yang baik dan enak, dan mudah dinikmati oleh 
jemaah haji semua usia (terutama yang berasal dari katering di Bandara 
Sukarno-Hatta) dan snack dalam boks menjelang landing. Yang mengecewakan dari 
Garuda ialah kualitas koper, handbag dan tas paspor yang dihadiahkannya kepada 
jemaah. Koper dan handbag  resluitingnya mudah dol. Sedangkan tas paspor 
jahitannya gampang jebol.

2)      Dengan memodifikasi tempat duduk kelas bisnis menjadi kelas eknomi, 
Boeing 747 seri 400 yang mempunyai kecepatan maksimum 990 kph dan dalam 
penerbangan reguler punya kapasitas 82 tempat duduk pada kelas bisnis dan 323 
tempat duduk pada kelas ekonomi, dalam penerbangan haji dapat membawa 480 
penumpang.  Sementara Seri 200 yang mempunyai kecepatan maksimum 920 kph dan  
dalam penerbangan reguler punya kapasitas tempat duduk 38 kelas bisnis dan 360 
kelas ekonomi, dapat membawa 460 penumpang


-- 
.
Posting yang berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan di tempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini dan kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur dan Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer dan seluruh bagian tidak perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat e-mail baru, tidak me-reply e-mail lama dan 
mengganti subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin mengubah konfigurasi/setting-an 
keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.

Kirim email ke