Tepat Jam 4.20 pagi WIB, Boeing 747 Garuda Menjejakkan Rodanya di Landasan Pacu 
Bandara Soekarno-Hatta (B)


Tepat jam 4 petang waktu setempat atau jam 8 malam WIB, Boeing 747 Garuda yang 
akan membawa kami pulang ke Tanah Air, melepaskan diri dari boarding bridge 
Bandara King Abdul Azis dan tidak lama kemudian melesat ke angkasa biru.

Begitu lampu tanda kenakan sabuk pengaman dipadamkan, di layar monitor muncul 
wajah Dirut Garuda Indra Setiawan mengucapkan selamat datang dan ucapan selamat 
karena telah selesai menunaikan ibadah haji, yang diawali dengan melafazkan 
puji-pujian kepada Allah dan selawat kepada Rasulullah dalam Bahasa Arab dengan 
kefasihan yang mirip seorang Ustadz. Lalu tampil wajah Aa Gym dan Ustadz Othman 
Shihab menyampaikan tausiyah singkat.

Setelah itu yang muncul di monitor adalah data-data penerbangan: waktu di 
lokasi pesawat, di Jeddah dan di Jakarta saat itu, cuaca, ketinggian, kecepatan 
jelajah bergantian dengan visualisasi lokasi pesawat di sepanjang perjalanan 
menyusuri jazirah Arab, terus melintasi Laut Arabia, Samudera India, dan 
kemudian memasuki daratan Sumatera tepat di atas Kota Padang, lalu berbelok  ke 
 arah Bandara Sukarno-Hatta di Jakarta,  yang diikuti oleh sebagian besar 
jemaah dengan penuh perhatian.

Saya perhatikan di sekeliling saya hampir tidak ada penumpang yang tertidur.

Dalam perjalanan pulang Jeddah-Jakarta, Boeing 747 seri 400  yang mempunyai 
kecepatan maksimum 990 kph dan kecepatan jelajah sekitar 960 kph hanya 
memerlukan waktu delapan jam lebih sedikit.

Sebagaimana halnya dalam penerbangan keberangkatan, pada penerbangan pulang ini 
kami dapat makanan panas dua kali yang rasanya tidak seenak pada waktu 
keberangkatan dan snack dalam boks.

Ada pula interval untuk sambutan dari pak Ketua Kloter dan pembacaan doa yang 
dipercayakan kepada pak ustadz pembimbing kafilah kami.

Yang agak mengejutkan kami ialah adanya seorang jemaah kafilah lain yang duduk 
di bagian belakang  yang wafat, yang walaupun sudah agak berumur, ketika naik 
ke pesawat dalam keadaan segar bugar. 

Innalillahi wainna ilaihi, rojiun (sesungguhnya kita berasal dari Allah dan 
kepada-Nya kita akan kembali).

"Tadinya kami sangka bapak yang kena serangan Asma yang parah yang satunya atau 
bapak yang waktu naik pesawat  ditandu dan diinfus,"  jelas suster Enny yang 
dicegat dan ditanyai Kur siapa yang meninggal ketika berjalan ke belakang 
mengikuti dokter Iva. 


Minggu 16 Maret, menjelang pagi

Ketika waktu shubuh tiba pesawat sudah mulai mengurangi kecepatan dan 
bersiap-siap untuk landing. Khawatir agak repot kalau melakukannya di ruang 
kedatangan Bandara nanti, saya mengajak Kur untuk shalat di tempat duduk dengan 
bertayamum.

Tepat Jam 4.20 pagi Waktu Indonesia Barat, Boeing 747 Garuda yang kami tumpangi 
menjejakkan  roda-rodanya di landasan pacu Bandara Soekarno-Hatta, lalu  
berputar di ujung landasan dan kemudian taxi menuju apron dan akhirnya  merapat 
ke salah satu "belalalai gajah" atau boarding bridge di Terminal A.

Ketika pintu pesawat dibuka dan penumpang sudah diperbolehkan meninggalkan 
pesawat, perasaan aneh kembali merasuki perasaan saya; seakan-akan saya baru 
kembali dari sebuah tempat yang tidak ada di dalam peta. Ya saya baru saja 
menyelesaikan sebuah perjalanan rohani selama 39 hari sejak tanggal 4 Februari 
yang lalu dengan pengalaman yang tak tepermanaikan, pengalaman yang tak akan 
pernah terlupakan selama hayat di kandung badan. 

Kami masih melewati beberapa formalitas keimigrasian yang berjalan dengan cepat 
dan lancar dan kemudian beristirahat di salah satu ruang tunggu. Para jemaah 
yang belum shalat shubuh di pesawat shalat di sini. Kami juga sempat mendengar 
ratap tangis keluarga jemaah yang tadi wafat di pesawat.

Di Bandara Sukarno-Hatta, jemaah kafilah kami terbagi dua, ada yang langsung di 
jemput keluarga di sini dan ada juga yang ke Plaza Bank Mandiri lebih dulu. 
Kami termasuk kelompok yang pertama.

Sebelum berpisah saya bersalaman dengan perasaan haru dengan para sahabat kami 
dan tidak lupa bersalaman dan berterima kasih kepada  pak Ustadz yang walaupun 
kadang-kadang menimbulkan rasa kecewa, tetapi saya akui juga banyak berjasa 
kepada kami.

Begitu kami menuju pintu keluar Terminal A, kami terkejut melihat para 
penjemput yang menyemut di luar.

"Bagaimana anak-anak menemukan kita nich?" kata saya kepada Kur setelah sadar 
bahwa ponsel saya yang kartu Hallo-nya sudah diblokir Telkomsel tidak bisa lagi 
digunakan.

Tetapi Kur yang tidak kehilangan akal, segera "menyambar" ponsel yang dipegang 
seorang jemaah dan kemudian menghubungai Iben untuk memberitahukan di mana kami 
menunggu dia.

Tidak lama kemudian Iben muncul yang langsung memeluk saya dan mamanya, lalu 
disusul adik-adiknya satu persatu Anton, Sonny, Meila dan Ira, bungsu kami yang 
ketika melepas kami di Plaza Bank Mandiri sewaktu akan berangkat dulu, menangis 
seakan-akan sedang melepas jenazah kami untuk dibawa ke kuburan, memeluk saya 
seperti tidak akan dilepaskannya lagi. Cucu kami Upik kemudian memeluk neneknya 
dengan menangis, sementara Reihan yang juga ikut menjemput, berkata sambil 
memandang  kepada neneknya: "Kasian lho Inyiek 3)." 

Ketika hampir sampai di rumah, sesuai dengan pesan Haji Asarajo, sesepuh orang 
Minang di kompleks kami ketika melepas keberangkatan kami dulu, kami mampir 
Masjid Istiqamah yang tidak terlalu jauh dari rumah kami guna melakukan shalat 
sunat dua rakaat.

Siang harinya tamu yang tidak berhenti-hentinya datang ke rumah ditemui oleh 
Kur yang dengan lancar dan ceria menuturkan pengalaman kami selama berhaji di 
Tanah Suci.

Rasa penat, letih dan lelah yang mulai saya rasakan sejak kami beristirahat di 
Asrama Debarkasi Haji Indonesia di Jeddah sehari sebelum kepulangan ke Tanah 
Air, semakin tak tertahankan. Kecuali waktu makan dan shalat,  sejak tiba di 
rumah sepanjang hari kerjaan saya hanya tidur melulu.

Ketika bangun keesokan harinya, perasaan letih yang saya rasakan kemarin sudah 
mulai sirna. Dan begitu perasaan letih hilang, kerinduan kepada tanah haram 
mulai terasa. Dan kerinduan itu semakin lama semakin mengental.

Tanpa terasa, air mata saya jatuh berlinang membasahi pipi.


SELESAI

-------------------------------         
3)      Sebutan Nenek dalam Bahasa Minang di daerah Padangpanjang dan 
sekitarnya.


-- 
.
Posting yang berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan di tempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini dan kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur dan Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer dan seluruh bagian tidak perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat e-mail baru, tidak me-reply e-mail lama dan 
mengganti subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin mengubah konfigurasi/setting-an 
keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.

Kirim email ke