Mulut Toni Terbakar demi Racikan Bandrek
 
KOMPAS/DWI BAYU RADIUS
Pendiri J-Mix Bandrek dan Bajigur, Toni Hadiputra.
 Jumat, 9 Juli 2010 | 08:09 WIB
Laporan wartawan KOMPAS Dwi Bayu Radius

BANDUNG, KOMPAS.com - Toni Hadiputra (31) bukan orang Sunda. Ia kelahiran 
Indragiri Hilir, Riau. Orangtuanya berasal dari Banuhampu Bukittinggi, Sumatera 
Barat. Meski demikian, ia mengaku paling suka minuman tradisional Jawa Barat 
seperti bandrek dan bajigur.

"Bandrek dan bajigur sekarang semakin sulit saja dicari," tutur lulusan Jurusan 
Teknik Manufaktur Politeknik Manufaktur Bandung itu. Kerisauan itulah yang 
menjadi pertimbangan Toni menjual minuman tradisional tersebut dalam kemasan.

J-Mix, demikian merek bandrek dan bajigur yang dihasilkan warga Kecamatan 
Cibeunying, Bandung itu. Minuman dengan harga sebesar Rp 1.000 per kemasan 
tersebut sudah dijual sejak empat tahun lalu. Awalnya, Toni tak berniat menjual 
minuman instan.

"Saya hanya bingung waktu punya jahe kering hingga 100 kilogram (kg). Jahe itu 
sebenarnya pesanan calon pembeli," ujarnya. Namun, transaksi batal karena harga 
tak disepakati. Toni sebelumnya ditawari harga sebesar Rp 32.000 per kg.

"Kenyataannya, waktu jahe sudah ada, calon pembeli mau harganya hanya Rp 25.000 
per kg. Kalau tidak, ia tak mau beli. Saya tolak," katanya. Toni pun mulai 
berpikir untuk memanfaatkan jahe itu. Ia akhirnya mencoba untuk membuat bandrek.

"Saya cari bahan-bahannya dari internet. Racikan pertama saya tes. Ternyata, 
jahe dan ladanya kebanyakan sampai saya rasakan mulut terbakar, ha-ha-ha...," 
tuturnya.

Setelah menemukan komposisi yang dianggap paling pas, Toni pun mulai 
memproduksi bandrek. Belakangan, ia juga meramu bajigur instan. Kini, usaha 
Toni menghasilkan sekitar 5.000 dus minuman per bulan masing-masing berisi 120 
kemasan. Berat setiap kemasan 26 gram.

Berkat usahanya, Toni menerima penghargaan sebagai juara II Wirausaha Boga 
Mandiri Kategori Mahasiswa Pascasarjana dan Alumni di Jakarta pada tahun 2009. 
Toni juga mendapatkan uang dari penghargaan itu sebesar Rp 20 juta yang dipakai 
untuk tambahan modal dan bonus karyawan.

Toni dinilai pantas mendapatkan penghargaan karena selain prospek bisnis dan 
keunggulan idenya, ia juga mampu memberdayakan tak hanya warga sekitar, tetapi 
juga petani di Jabar. Bahan baku gula aren, misalnya, dipasok dari petani di 
Kabupaten Sukabumi, Cianjur, dan Garut.

Sementara itu, kebutuhan bahan lain, seperti lada, jahe, dan cabai, juga 
menyerap komoditas petani sayur. Selanjutnya, proses produksi pun 
dimodernisasi. Pada tahun 2007, kemasan kertas, misalnya, diganti dengan glossy 
dan peralatan manual diperbarui menjadi semiotomatis.

Toni sempat menekuni bermacam-macam profesi, seperti penjual mesin pengering 
dan kotak pendingin serta staf bagian perawatan perusahaan pengecoran. "Ini 
modal kemauan dan nekat untuk mencapai kondisi usaha sekarang," tutur Toni 
mengenai usahanya.



Editor: Abi 

-- 
.
Posting yang berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan di tempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini dan kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur dan Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer dan seluruh bagian tidak perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat e-mail baru, tidak me-reply e-mail lama dan 
mengganti subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin mengubah konfigurasi/setting-an 
keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.

<<1934012p.jpg>>

<<reg_nas.gif>>

Kirim email ke