Assalaamu'alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuhu

Pado lapuak sajo no taandok..... elok diulang-ulang juo mangatangahan....... 
Ciek lai dari kumpulan Cerpen.... (Nan sabanano ado juo di 
http://www.palantalembangalam.blogspot.com).

 

SILAT SELEPAS TARAWIH
 
Kalau ada anak kecil tangka atau mada itu adalah hal biasa. Anak kecil yang 
kerjanya bergelut ketika orang sembahyang tarawih termasuk juga sesuatu yang 
biasa. Macam-macam ulah anak-anak kecil berumur kurang lebih sepuluh tahun, 
yang 
berada di shaf paling belakang. Berdorong-dorongan, tertawa cekikikan yang 
ditahan, membaca Amiin panjang-panjang dan keras sekali, sampai 
berperang-perangan kentut. Membuat heboh dan bergelut itu mereka lakukan pada 
saat sembahyang baru dimulai. Menjelang imam mengucapkan salam, mereka berubah 
seperti anak-anak manis. Tetapi ketika sembahyang tarawih dilanjutkan, mereka 
ulangi pula membuat heboh. Orang-orang tua bolehlah nyinyir menasihati, namun 
mereka tetap begitu juga.
 
Induk angkangtangka itu bernama Pudin, berumur tiga belas tahun. Sudah tidak 
anak-anak lagi dibandingkan dengan teman-temannya, namun perangainya 
benar-benar 
luar biasa. Kalau dilarang atau ditegor dia pasti melawan dengan bercarut. 
Siapapun yang memarahinya, pasti dipercarutinya. Dan orang-orang tua jadi malas 
menegornya. Sebenarnya lebih tepat dikatakan takut. Takut karena dia anak Gindo 
Baro, mantan sitokar oto, mantan pareman pasar, orang berbadan kekar yang cepat 
kaki ringan tangan alias pandeka.
 
Pada suatu malam, karena hebohnya sudah keterlaluan, Tuanku Mesjid mengusirnya 
keluar.  Dia keluar dari mesjid setelah terlebih dahulu mempercaruti Tuanku 
Mesjid. Ketika orang melanjutkan sembahyang tarawih, si Pudin mengguguh tabuh 
sejadi-jadinya.
 
Siapa yang tidak akan menggeritih melihat tingkah anak kecil seperti itu? 
 
Keesokan harinya, ketika orang baru saja mulai sembahyang tarawih, si Pudin 
kembali mengulangi perangainya memukul tabuh, berketintam-ketintam.
 
Malam itu Safril Sutan Mudo sudah habis kesabarannya. Anak kecil itu kalau 
dibiarkan akan semakin maingkek-ingkek perangainya. Safril Sutan Mudo yang baru 
akan takbir ketika mendengar bunyi tabuh berdentam-dentam, membatalkan niatnya 
untuk sembahyang. Dia keluar dari barisan dan bergegas ke belakang mesjid. Si 
Pudin kecil tidak takut sedikitpun. Semakin berjadi-jadi kulit sapi kering itu 
dihantamnya. Safril menangkap tangan kecil yang sedang mengguguh tabuh itu. 
Anak 
kecil itu bercarut kepadanya. Darah Safril mendidih. Kepala anak kecil itu 
ditekeknya. Dua kali.
 
Si Pudin lari sambil merarau-rarau. Sambil bercarut-carut bungkang. Dia pergi 
mengadu kepada ayahnya.  Safril Sutan Mudo masuk kembali ke dalam mesjid 
meneruskan sembahyang tarawihnya.
 
Ketika orang baru selesai sembahyang witir, Gindo Baro sudah  berdiri di pintu 
mesjid. Matanya merah membulancit. Dengan suara parau di panggilnya Safril.
 
‘Pirin! Keluar kau !’ katanya dengan suara menggelegar.
 
Jamaah mesjid sunyi senyap menahan nafas. Antara ragu dan takut. Tapi tidak 
demikian dengan Safril Sutan Mudo. Dia bangkit dari duduknya dan melangkah ke 
pintu mesjid.
 
Begitu sampai di pintu, tangan kekar Gindo Baro mencoba menangkap leher baju 
Safril Sutan Mudo. Dia berkelit dengan tenang dan terus melangkah ke luar.
 
‘Kau apakan anakku?’ sentak Gindo Baro, sekali lagi mencoba menangkap Safril.
 
‘Aku tekek. Aku tekek dua kali,’ jawab Safril sambil tetap berkelit.
 
‘Heh..heh.. kau pikir kau hebat ya. Pandai kau mengelak. Rasakan ini..’ kata 
Gindo Baro sambil menerjang ke depan.
 
Safril Sutan Mudo dengan mudah mengelak. Gindo Baro menerjang angin.
 
‘Anak tuan itu terlalu mada. Terlalu dimanja. Kerjanya mengacau saja. Makanya 
aku beri pelajaran agar mengerti sedikit tata tertib,’ Safril berkomentar 
begitu 
terhindar dari hantaman Gindo Baro.
 
‘Kencing, kau. Bedebah. Belum kau rasakan makan tanganku. Pandai-pandai kau 
memukul anakku,’ kali ini Gindo Baro berusaha menyepoh kaki Safril Sutan Mudo.
 
Safril melompat enteng. Dia hanya mengelak saja dari tadi. Gindo Baro kembali 
menyerang dengan hantaman. Lagi-lagi hanya menghantam angin.
 
‘Oooooh rupanya santiang silat kau. Baiklah. Kalau begitu biarlah dengan silat 
pula aku lawan  bangkai busuk kau ini,’ Gindo Baro semakin mendidih.
 
‘Bukannya tuan sudah bersilat dari tadi? Sudah mengepoh-ngepoh bunyi angin 
karena sepak terjang tuan,’ Safril sedikit mencemeeh.  
 
Diam-diam jemaah mesjid sudah berkerumun menonton pertandingan itu dari beranda 
mesjid.  
 
Gindo Baro menarik nafas berkonsentrasi. Dipasangnya kuda-kuda silat, elang 
mencengkeram. Anak muda ini harus diberinya pelajaran. Harus dengan sebuah 
pelajaran yang telak sekali karena sudah berlapis-lapis dosanya.
 
Safril Sutan Mudo memandang penuh waspada. Dia juga memasang kuda-kuda. Matanya 
tidak berkedip dari kedua kaki Gindo Baro. Gindo Baro menarik langkah ke 
belakang dengan gerak tipu. Menghayunkan langkah ke depan. Masih dengan gerak 
tipu. Tangannya menari di udara. Memancing perhatian Safril  Sutan Mudo. 
Lawannya ini tidak mau pula main-main. Sutan Mudo memperkuat posisi 
kuda-kudanya. Kedua kakinya terbuka lebar. Gindo Baro kali ini menerjang dengan 
gerak tipu ke arah kanan, tapi tiba-tiba kaki kirinya yang main. Safril Sutan 
Mudo sudah membaca gerakan itu. Sekali ini ingin dia sedikit memberi pelajaran. 
Kaki kiri yang menerjang itu disambutnya dan didorongnya kuat-kuat. Gindo Baro 
terkejut ketika menyadari bahwa gayungnya bersambut. Untunglah kuda-kudanya 
cukup kuat. Dia mundur tiga langkah dan berdiri kokoh. Sesudah itu dia kembali 
maju dengan loncatan tupai. Kakinya seolah-olah mempunyai per, dan tubuhnya 
berayun turun naik. Tangan Gindo Baro berputar di udara seperti tupai memutar 
buah pisang. Yang ditujunya kepala Sutan Mudo.. Sutan Mudo menangkis tangan 
kanan Gindo Baro dan kakinya menyepoh kuda-kuda pendekar garang itu. Gindo Baro 
tidak pantas disebut pendekar kalau tidak bisa mengelak dari sepohan Sutan Mudo.
 
Persilatan itu berlangsung semakin seru. Safril Sutan Mudo lebih banyak 
mengelak 
saja dari tadi.
 
‘Kalau kita hentikan saja sampai disini bagaimana tuan ? Bukankah sudah cukup 
peluh alir keluar?’ tanya Safril dalam pertempuran yang tetap seru, sambil 
kembali mengelak dari jotosan tangan kanan Gindo Baro.
 
‘Anak kencing kau. Sebelum kutampar mukamu untuk membalas sakit anakku, aku 
belum akan berhenti,’ kali ini Gindo Baro mencoba menampar.
 
‘Saya takut, kita akan berhabis hari saja. Kalaulah perlu saya minta maaf 
karena 
sudah menekek si Pudin, biarlah saya minta maaf,’ jawab Sutan Mudo kembali 
berkelit. Dari tadi dia lebih banyak terlihat seperti menari-nari saja.
 
‘Tidak bisa begitu bedebah! Kau harus kutampar. Baru langsai hutang,’ jawabnya, 
kali ini sambil bersalto dengan gerakan satu kaki dan dua tangannya menyerang 
di 
tiga titik, menuju pelipis, dada dan selangkangan Sutan Mudo.
 
Yang diserang merunduk dan meliuk. Lagi-lagi hanya angin yang jadi sasaran.
 
‘Tuan akan berhabis hari. Sudah sebanyak itu tuan menampar dari tadi, sudah 
berlapoh-lapoh bunyi angin. Hari sudah semakin larut juga, apakah tidak 
sebaiknya kita berhenti saja ?’
 
‘Tidak perlu kau banyak cingcong bedebah. Hutang harus berbayar, piutang 
berterima. Akan kupecahkan kepala bebalmu itu. Biar berkapas hidungmu,’ katanya 
semakin garang.
 
‘Tidak baik begitu tuan. Ini bulan suci. Berdosa besar kita,’ jawab Sutan Mudo 
sambil tetap seperti orang menari-nari.
 
‘Keluarkan semua silat kau Pirin. Jangan hanya mengelak-elak saja 
kepandaianmu.’ 
Gindo Baro berusaha memancing emosi Sutan Mudo.
 
‘Tidak baik menyakiti orang tuan. Ini bulan puasa. Tidak baik, berdosa kita.’
 
‘Bangkai mak kau. Anakku kau pukul, pandai pula kau berketubah. Kau rasakan 
ini,’ kata Gindo Baro kembali menerjang.
 
‘Anak tuan itu nakal. Kerjanya menggaduh orang sembahyang. Itu sebabnya aku 
tekek.’
 
‘Tidak ada hak kau memukul anakku, bedebah. Kau benar-benar harus mati di 
tanganku!’ 

 
‘Mengucaplah tuan. Baca istighfar. Tuan sesat namanya,’ Sutan Mudo meliukkan 
badannya.
 
‘Manusia pancirugahan kau. Hanya itu saja kepandaianmu? Hanya menari-nari itu 
saja kepandaianmu?’ 

 
‘Tidakkah tuan penat menerjang-nerjang angin sedari tadi? Lebih baik kita 
berhenti saja. Banyak lagi yang lebih elok dikerjakan.’
 
‘Boleh. Tapi kau rasakan dulu ini....’ Gindo Baro kembali menyerang dengan kaki 
dan tangannya ke arah dada Sutan Mudo.
 
‘Benar-benar berkandak tuan kelihatannya,’ Sutan Mudo mulai habis kesabarannya.
 
‘Pencirugahan kau bedebah. Bersilatlah seperti pendekar. Jangan hanya 
menari-nari saja. Biar kucoba menahan makan tangan burukmu itu,’ Gindo Baro 
memancing.
 
‘Kalau begitu baiklah. Saya mohon maaf sebelumnya, tuan,’ katanya sambil 
melangkah lincah.
 
Tubuh Safril Sutan Mudo berputar cepat. Berdesir keras bunyi angin. Tangannya 
yang menari-nari di udara juga menimbulkan desiran. Gindo Baro gugup 
melihatnya. 
Alangkah cepatnya gerakan anak muda itu. Entah dari mana dia akan menyerang. 
Gindo Baro berusaha mengimbangi gerakan berputar Sutan Mudo itu dengan 
menyerang 
pula berayun-ayun.  Tapi tiba-tiba......., plak-plak. Dua tamparan mendarat di 
pipi kiri dan kanannya. 

 
Gindo Baro terhuyung dan melompat mundur. Dari balik bajunya dikeluarkannya 
sebilah pisau siraut. Dia kembali menerjang dengan menggunakan pisau yang 
berkilat-kilat itu. Pisau itu seperti taji ayam saja di tangannya.
 
Orang yang menonton dari beranda mesjid terkesiap melihat kilatan pisau. Tapi 
tidak berani berbuat apa-apa. Apakah akan terjadi pertumpahan darah? Di 
pekarangan mesjid? Di bulan suci ini?
 
Kedua pendekar itu masih bersilat dengan seru. Berdesir-desir bunyi angin. 
Perkelahian itu sudah berlangsung lima belas menit. Yang sebelumnya terlihat 
seperti main-main karena Safril Sutan Mudo memang terlihat seperti menari-nari 
saja. Tapi kali ini lebih menegangkan. Silat Gindo Baro ternyata lebih bagus 
dengan menggunakan senjata pisau siraut.
 
Safril Sutan Mudo menyadari itu. Dia berusaha bersilat lebih hati-hati. Namun 
tetap dengan keinginan tidak untuk melukai lawannya. Sementara sang lawan 
sangat 
bernafsu untuk menghabisinya.
 
Setelah beberapa jurus, Sutan Mudo menangkap bahwa gerakan Gindo Baro dari kiri 
selalu lemah. Setiap kali dia berusaha menerjang dari arah itu dia selalu 
terhuyung. Sekarang Sutan Mudo menyerangnya dari arah itu. Benar saja, siku 
tangan kanan Gindo Baro yang memegang pisau siraut dapat ditangkapnya dan pisau 
itu berhasil direbutnya. Gindo Baro terkesiap. Dia melompat mundur.
 
‘Bagaimana tuan? Sudah cukup?’
 
‘Satu hari akan kubunuh kau. Percayalah!’ ujar Gindo Baro yang mulai merasa 
jeri.
 
‘Tidak baik, tuan. Membunuh itu dosa besar,’ jawab Sutan Mudo.
 
‘Kali ini aku mengaku kalah. Tapi hutang akan berbayar. Kau tunggu masanya,’ 
kata Gindo Baro, dia bersisurut sebelum melangkah pergi.
 
 
                                                                        *****
 
 
Muhammad Dafiq Saib Sutan Lembang Alam
Suku : Koto, Nagari asal : Koto Tuo - Balai Gurah, Bukit Tinggi
Lahir : Zulqaidah 1370H, 
Jatibening - Bekasi


      

-- 
.
Posting yang berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan di tempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini dan kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur dan Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer dan seluruh bagian tidak perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat e-mail baru, tidak me-reply e-mail lama dan 
mengganti subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin mengubah konfigurasi/setting-an 
keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.

Kirim email ke