Aia Tabu Pak Janan
Alhamdulilah di rentang hiruk pikuk Ibukota yang melelahkan, saya berkesempatan
berlibur di kampung halaman, Bukittinggi Kota Jam Gadang bersama keluarga yang
memanfaatkan libur akhir tahun pelajaran anak sekolah.
Pasa Ateh, Pasa Lereng, Pasa Bawah, itulah salah satu khas Pasar di Bukittinggi
yang memang berbukit itu. Bila kembali ke tahun pertengahan 80-an ketiga Pasa
(pasar) ini memang dirancang indah dari Zaman Belanda disesuaikan dengan perlu
dan pentingnya. Pasar atas berkumpulnya para pedagang ‘kelas atas’menjadi pusat
dagang para pedagang kain, emas, kelontong, pertukangan. Pasa lereng
bertempatlah si pedagang ‘berbau’ alias pedagang ikan, daging,
langkok-pemasak,
pmd dan maco (alias ikan asin). Pasa Bawah di waktu itu ditempati para
pedagang
beras, kelapa, sayur-buah dan kebutuhan utama dapur. Hebatnya Pasa Bau di
letakkan di Pasa Lereng, semua bau terbang di lereng bukit. Namun belakangan
bila hujan karena ketidak-teraturan pedagang, semua sampah ‘beraroma’ dipasa
lereng mengalir indah hingga pasa bawah.
Sekarang ketiga pasar itu tidak lagi punya khas, karena semuanya sudah
bertumpuk-tumpuk, kecuali para pedagang beraroma yang dikhususkan ke pasa
Bawah,
disitulah Pak Janan bertahun-tahun setia menunggui gerobak tebunya.
Berkesempatan waktu luang, dikala tak tahu langkah mau dikemanakan, saya
berhenti di Gerobak Tebu Pak Janan, membeli segelas Air Tebu Giling dengan
hanya
2000 rupiah, dalam hati saya bergumam kalau di Jakarta sudah 4000 ni, ditambah
dengan es yang bejibun, kadang lebih banyak es dari pada tebunya.
Mulailah saya buka cerita, abih 100 galeh sahari Pak ?.
“Oi… indak banyak doh, kiro 40-50 galeh lah. Sabatang tabu hitam(jenis tabu
ini
paling laku sekalian untuk obat kata Pak Janan) dibagi ampek rueh arago
sabatang
700 piah, sa galeh paralu 1,5 rueh, ditambah ‘dama’ jo bensin pamuta
panggiliang tabu, palastik, baia harian pasa paliang banyak tamodal 500-700
piah , lai mandapek juo wak satangah labiah dari panjualan”, Jawab Pak Janan.
Setelah cerita panjang ternyata Pak Janan ini kenal dengan orang tua saya
yang
kebetulan pernah ‘manggaleh’ di Pasa Lereng di tahun 80-an, namun karena
perpindahan pasar, usaha terhenti seketika karena Pasa Putiah sebagai pengganti
ternyata lengang.
Sambil menghisap Rokok ‘Panama’ Pak Janan bercerita. Bayangkan di adiak,
Garobak
Tabu ini pernah ditawar 65 juta sama orang lengkap dengan tempatnya. (Tempat
yang dimaksud disini bukanlah sebuah kios, tapi hanya pinggir jalan raya tempat
perhentian Bendi di pasar Bawah, secara DeFacto diakui ‘milik’ Pak Janan, tapi
De Jure tak ada izin tertulis yang dikantongi Pak Janan). Jo pitih 65 juta
itu
paliang lamo 2 tahun sudah habis tu mah, terus habis itu a nan kadikarajokan.
Di
Umur 63 Tahun Pak Janan masih terlihat tegar walau wajah mulai keriput, tapi
semangat hidup masih tergurat di wajah Pak Janan. Anak-Anak Pak Janan yang
hanya satu orang lagi sedang berkuliah telah pula menyambi menjadi guru honor
di
sekolah swasta, jadi tidak ada lagi tanggungan yang berarti buat Pak Janan.
Isteri beliau pun sudah meninggal beberapa tahun yang lalu , 3 anak lain sudah
mandiri, ada yang jadi sopir oto dan manggaleh. Anak-anak Pak Janan sudah
menyuruh Pak Janan untuk berhenti berdagang tebu, mereka siap memberikan ‘uang
harian’ sebesar 50 ribu perhari.
Pak Janan menjawab tegas atas keinginan anak-anak beliau tersebut. Tidak,
simpanlah uang itu untuk anak-anak kalian, doakan Apak kalian ko tetap sehat.
Masih kuaik jo tanago ko garobak tabu ko tetap Apak tulak.
Saya Tanya lanjut. Baa ko Apak manulak tawaran anak-anak Apak tu, kan rancak
Pak
indak paralu Apak ka Pasa. Jawab Pak Janan, “Manggaleh di pasa ko Diak indak
anyo untuak mancari pitih, tapi bagurau, mambagi raso, bakucindan jo urang
lalu,
maota, batambah pangana, ilang pikun wak, cieklai pitih masuak karano usaho
surang, makan apak 4 kali sahari, rokok 2 bungkuih sahari, tagak wak tagok
bagai
di no,” (istilah no ini, istilah asli kurai bukittinggi).
Saya terkesiap, tak ada kata menganggur itulah pesan mendalam dari Pak Janan,
baraja taruih, gadangkan talingo mancari informasi, tutup mulut untuk meminta,
semangat hingga usia tua. Tak ada kata Pensiun buat seorang anak manusia.
Terimakasih Pak Janan Pesan melalui kerja dan bukti nyata menjadi hadiah
filosofi hidup bagi saya selama liburan di Bukittingi di Bulan Juli tahun ini,
ditengah kemergapan ibukota yang banyak mimpi namun terkadang miskin aksi.
Tertanggal 8 Juli, Pasa Bawah Bukittingi
Dedi Yusmen E. Kayo
--
.
Posting yang berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan di tempat
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
1. E-mail besar dari 200KB;
2. E-mail attachment, tawarkan di sini dan kirim melalui jalur pribadi;
3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur dan Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer dan seluruh bagian tidak perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat e-mail baru, tidak me-reply e-mail lama dan
mengganti subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin mengubah konfigurasi/setting-an
keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.