mamak

basyukur ambo, lai nio juo mamak mambali galeh tradisional, amak alah
ikuik malestarikan tradisi ayia tabu

Salam

Andiko

On 7/13/10, dedi yusmen <[email protected]> wrote:
> Aia Tabu Pak Janan
> Alhamdulilah di rentang hiruk pikuk Ibukota yang melelahkan, saya
> berkesempatan
> berlibur di kampung halaman, Bukittinggi Kota Jam Gadang bersama keluarga
> yang
> memanfaatkan  libur akhir tahun pelajaran  anak sekolah.
> Pasa Ateh, Pasa Lereng, Pasa Bawah, itulah salah satu khas Pasar di
> Bukittinggi
> yang memang berbukit itu. Bila kembali ke tahun pertengahan 80-an ketiga
> Pasa
> (pasar) ini memang dirancang indah dari Zaman Belanda disesuaikan dengan
> perlu
> dan pentingnya. Pasar atas berkumpulnya para pedagang ‘kelas atas’menjadi
> pusat
> dagang para  pedagang  kain, emas, kelontong, pertukangan. Pasa lereng
> bertempatlah si pedagang  ‘berbau’ alias pedagang ikan, daging,
> langkok-pemasak,
> pmd dan maco (alias ikan asin).  Pasa Bawah di waktu itu ditempati para
> pedagang
> beras, kelapa, sayur-buah dan kebutuhan utama dapur. Hebatnya Pasa Bau di
> letakkan di Pasa Lereng, semua bau terbang di lereng bukit. Namun belakangan
> bila hujan karena ketidak-teraturan pedagang,  semua  sampah ‘beraroma’
> dipasa
> lereng mengalir indah hingga pasa bawah.
> Sekarang ketiga pasar itu tidak lagi punya khas, karena semuanya sudah
> bertumpuk-tumpuk, kecuali para pedagang beraroma yang dikhususkan ke pasa
> Bawah,
> disitulah Pak Janan bertahun-tahun setia menunggui gerobak tebunya.
> Berkesempatan waktu luang, dikala tak tahu langkah mau dikemanakan, saya
> berhenti di Gerobak Tebu Pak Janan, membeli segelas Air Tebu Giling dengan
> hanya
> 2000 rupiah, dalam hati saya bergumam kalau di Jakarta sudah 4000 ni,
> ditambah
> dengan es yang bejibun, kadang lebih banyak es dari pada tebunya.
> Mulailah saya buka cerita, abih 100 galeh  sahari Pak ?.
> “Oi… indak  banyak doh, kiro 40-50 galeh lah. Sabatang tabu hitam(jenis tabu
> ini
> paling laku sekalian untuk obat kata Pak Janan) dibagi ampek rueh arago
> sabatang
>  700 piah, sa galeh paralu 1,5 rueh, ditambah ‘dama’ jo bensin pamuta
> panggiliang tabu, palastik, baia harian pasa   paliang banyak tamodal
> 500-700
> piah , lai mandapek juo wak satangah labiah dari panjualan”,  Jawab Pak
> Janan.
>  Setelah cerita panjang  ternyata Pak Janan ini kenal dengan orang tua saya
> yang
> kebetulan pernah ‘manggaleh’ di Pasa Lereng di tahun 80-an, namun karena
> perpindahan pasar, usaha terhenti seketika karena Pasa Putiah sebagai
> pengganti
> ternyata lengang.
> Sambil menghisap Rokok ‘Panama’ Pak Janan bercerita. Bayangkan di adiak,
> Garobak
> Tabu ini pernah ditawar 65 juta sama orang lengkap dengan tempatnya. (Tempat
> yang dimaksud disini bukanlah sebuah kios, tapi hanya pinggir jalan raya
> tempat
> perhentian Bendi di pasar Bawah, secara DeFacto diakui ‘milik’ Pak Janan,
> tapi
> De Jure tak ada izin tertulis yang dikantongi Pak Janan).  Jo pitih  65 juta
> itu
> paliang lamo 2 tahun sudah habis tu mah, terus habis itu a nan
> kadikarajokan. Di
> Umur 63 Tahun Pak Janan masih terlihat tegar walau wajah mulai keriput, tapi
> semangat  hidup masih tergurat di wajah Pak Janan. Anak-Anak Pak Janan yang
> hanya satu orang lagi sedang berkuliah telah pula menyambi menjadi guru
> honor di
> sekolah swasta, jadi tidak ada lagi tanggungan yang berarti buat Pak Janan.
> Isteri beliau pun sudah meninggal beberapa tahun yang lalu , 3 anak lain
> sudah
> mandiri, ada yang jadi sopir oto dan manggaleh. Anak-anak Pak Janan sudah
> menyuruh Pak Janan untuk berhenti berdagang tebu, mereka siap memberikan
> ‘uang
> harian’ sebesar 50 ribu perhari.
> Pak Janan menjawab tegas atas keinginan anak-anak beliau tersebut. Tidak,
> simpanlah uang itu untuk anak-anak kalian, doakan Apak  kalian ko tetap
> sehat.
> Masih kuaik jo tanago ko garobak tabu ko tetap Apak tulak.
> Saya Tanya lanjut. Baa ko Apak manulak tawaran anak-anak Apak tu, kan rancak
> Pak
> indak paralu Apak ka Pasa. Jawab Pak Janan, “Manggaleh di pasa ko Diak indak
> anyo untuak mancari pitih, tapi bagurau, mambagi raso, bakucindan jo urang
> lalu,
> maota, batambah pangana, ilang pikun wak, cieklai pitih masuak karano usaho
> surang, makan apak 4 kali sahari, rokok 2 bungkuih sahari, tagak wak tagok
> bagai
> di no,” (istilah no ini, istilah asli kurai bukittinggi).
> Saya terkesiap, tak ada kata menganggur itulah pesan mendalam dari Pak
> Janan,
> baraja taruih, gadangkan talingo mancari informasi, tutup mulut untuk
> meminta,
> semangat hingga usia tua. Tak ada kata Pensiun buat seorang anak manusia.
> Terimakasih Pak Janan Pesan melalui kerja dan bukti nyata menjadi hadiah
> filosofi hidup bagi saya selama liburan di Bukittingi di Bulan Juli tahun
> ini,
> ditengah kemergapan ibukota yang banyak mimpi namun terkadang miskin aksi.
>
> Tertanggal 8 Juli,  Pasa Bawah Bukittingi
> Dedi Yusmen E. Kayo
>
>
>
>
> --
> .
> Posting yang berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan di
> tempat lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet
> http://groups.google.com/group/RantauNet/~
> ===========================================================
> UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
> - DILARANG:
>   1. E-mail besar dari 200KB;
>   2. E-mail attachment, tawarkan di sini dan kirim melalui jalur pribadi;
>   3. One Liner.
> - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di:
> http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
> - Tulis Nama, Umur dan Lokasi pada setiap posting
> - Hapus footer dan seluruh bagian tidak perlu dalam melakukan reply
> - Untuk topik/subjek baru buat e-mail baru, tidak me-reply e-mail lama dan
> mengganti subjeknya.
> ===========================================================
> Berhenti, bergabung kembali serta ingin mengubah konfigurasi/setting-an
> keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.
>

-- 
.
Posting yang berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan di tempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini dan kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur dan Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer dan seluruh bagian tidak perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat e-mail baru, tidak me-reply e-mail lama dan 
mengganti subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin mengubah konfigurasi/setting-an 
keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.

Kirim email ke