"Sedih yang tersisa usai Piala Dunia" By : Jepe Usai sudah perhelatan akbar ajang sepak bola antar negara di planet bumi ini yang berlansung di Afrika Selatan, hasilnya Spanyol seperti yang kita ketahui menjadi juara dunia menundukan Belanda dengan skor tipis 1-0.
Final PD 2010 ini kebetulan saya dikasih teman 2 buah voucher gratis Nobar (Nonton Bareng) yang diadakan di ball room Hotel Pangeran, jam 00.30 WIB (Senin, 12 Juli) saya bersama istri dari rumah bergerak menuju Hotel Pangeran yang teletak di jalan Sudirman yang membelah kota Pekanbaru, sampai di sana kami bergabung dengan puluhan pengunjung lainnya yang ikut menyaksikan partai pamungkas PD 2010 melalui 3 layar lebar, 1 layar lebar utama di depan , 2 lagi layar lebar di sayap kiri dan kanan. Saat saya datang dan mengambil tempat duduk dibelakang bersama istri dilayar lebar sedang berlansung acara "talk show" seputar final kali ini yang di siarkan oleh RCTI dengan bintang tamu Presiden RI (SBY) yang didampingi oleh Menpora (Andi Malarangeng), seperti biasa ketika presenter Ricky Joe menanyakan tentang persepakbolaan kita, Presiden hanya menjawab hal-hal yang normatif saja mulai dari 'harapan kita (Indonesia) suatu saat tampil di PD, suatu saat kita tuan rumah, semoga sepak bola kita semakin maju sampai jangan diantara kita saling menyalahkan" "Jangan kita saling salah menyalahkan ?" Dalam hati saya mengomentari (dalam kontek persepak bolaan kita), kok saling menyalahkan Pak, seharusnya Bapak harus berani dan tegas menyalahkan PSSI di bawah kepemimpinan Nurdin Halid dan kroninya yang tidak becus mengurus roda organisasi sepak bola tertinggi di negara kita ini, begitu banyak kritik buat PSSI selama kepengurusan yang di komandoi NH ini oleh para pengamat olah raga khususnya sepak bola, wartawan olah raga, masyarakat pecinta sepak bola Nasional Sementara Andi Malarangeng dengan kumisnya yang melintang tersenyum sumringah hanya meangguk-angguk saja "meiyakan" setiap pernyataan Pak SBY yang normatif ini menyikapi persepak bolaan Nasional kita. Lalu Pak SBY ketika ditanya Ricky Jo, tentang siapa jagoan atau kesebelasannya yang di dukungnya dalam final PD 2010 ini, Pak SBY berharap Belanda jadi juara karena faktor ado beberapa pemainnya berdarah Indonesia (dalam pikiran Pak SBY mungkin "lumayanlah kalau sepak bola kita nggak maju2 paling tidak cukup bangga karena didalam Timnas Belanda di PD kali ada pemain berdarah Indonesia) Usai partai final tersebut ketika pluit terakhir wasit dihembuskan dan Spanyol juara berakhirlah tontonan yang memukau jutaan penduduk di dunia ini, saya beranjak meninggalkan ball room hotel Pangeran, ada kesedihan di hati saya melihat nasib sepak bola kita selama 7 tahun kepemimpinan Nurdin Halid tidak ada prestasi yang membanggakan di capai oleh Timnas kita jangankan bicara Piala Dunia setingkat negara-negara Asia Tenggara saja menjadi 4 besar begitu tertatih-tatihnya kita. Menyedihkan memang, entah apa yang membuat begitu kuatnya Nurdin Halid bertahan malah Kongres Nasional Sepak Bola kita yang diharapkan akan ada sebuah gerakan reformasi total dalam tubuh PSSI kenyataan kongres tersebut hanya ajang hura-hura tanpa menghasilkan apa-apa alih-alih melakukan sebuah perubahan tapi Nurdin Halid begitu bangganya oleh beberapa orang penting di negeri ini agar dipertahankan tetap menjalankan roda organisasi PSSI (hiiii !!! sungguh menakutkan melihat wajah PSSI dibawah kepemimpinan NH) Senin sore saya membeli tabloid olah raga, BOLA, dihalaman 47 sebuah karikatur. Yang diciptakan oleh wartawan bola, Nunk seakan menjawab kesedihan dan kritik saya dan semua elemen masyarakat terhadap kondisi organisasi PSSI. Nunk menggambarkan para pemain Spanyol mengangkat tropi piala dunia dengan penuh tawa suka cita sementara disisi kanannya PSSI yang berwajah manyun *jelek* (mungkin NH yang dimaksud) mengangat tropi seperti piala dunia juga tapi bulatannya bukan bola dunia tapi batu besar yang tertulis dengan huruf besar "MASALAH" Jikapun saya tersenyum melihat karikatur ini, senyum saya begitu pahit, ketir dan sedih atas nasib sepak bola kita, semoga masih ada harapan sepak bola kita akan kembali lagi berjaya di tingkat Asia Tenggara dan disegani di tingkat Asia sambil menaruh asa menatap pentas dunia salah satunya untuk mencapai ini semua memang harus ada perubahan dalam pengurusan PSSI yang dikelola oleh-oleh orang-orang profesional dan mengerti betul akan sepak bola tanpa dipengaruhi tekanan-tekanan politik, kepentingan kekuasaan dan golongan tertentu di Republik Indonesia ini. Pku, 13 Juli 2010 Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone -- . Posting yang berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini dan kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur dan Lokasi pada setiap posting - Hapus footer dan seluruh bagian tidak perlu dalam melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat e-mail baru, tidak me-reply e-mail lama dan mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali serta ingin mengubah konfigurasi/setting-an keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.
