~~."IJP".~~

-----Original Message-----
From: Koran Digital <[email protected]>
Sender: [email protected]
Date: Wed, 28 Jul 2010 08:48:22 
To: <[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Subject: [Koran-Digital] IJP: MENGAKHIRI TRANSISI DEMOKRASI

*Indra J. Piliang, DEWAN PENASIHAT THE INDONESIAN INSTITUT*

Dalam banyak aspek, perkembangan demokrasi di Indonesia sudah 
menunjukkan hasil. Hampir semua pimpinan legislatif dan eksekutif 
dipilih secara langsung.

Begitu pula pimpinan yudikatif, sudah melewati proses yang transparan 
dibandingkan dengan sebelumnya. Partai-partai politik dan calon 
perseorangan mengambil peranan penting dalam proses ini, begitu juga 
penduduk yang memiliki hak pilih.

Kecuali anggota Tentara Nasional Indonesia dan Kepolisian Republik 
Indonesia, yang tidak memiliki hak pilih, tidak ada lagi warga negara 
yang dilarang oleh undang-undang dalam mengikuti prosesi demokrasi.

Indonesia boleh dikatakan sudah berhasil melewati proses transisi 
demokrasi. Pemilihan umum dan pemilihan kepala daerah terlaksana dengan 
baik. Militer kembali ke barak mengurus pertahanan. Polisi mengambil 
alih masalah-masalah keamanan. Partai-partai politik menggapai peran 
signifikan. Media massa berkembang sebagai pusat dari debat publik dan 
informasi publik. Kelompok-kelompok bisnis bisa memasuki kelembagaan 
politik tanpa kekhawatiran. Kalangan masyarakat sipil panen advokasi 
atas masalah-masalah publik.

Tentu, tidak ada makan siang yang gratis dalam demokrasi. Anomali selalu 
ada dalam urusan-urusan publik. Beberapa pilkada berakhir dengan 
kerusuhan. Polisi dan mahasiswa melakukan kekerasan. Para wartawan 
terkena intimidasi. Aktivis dipukuli orang tak dikenal. Sejumlah 
pemberitaan media mendapat reaksi negatif.

Selain itu, setiap pertarungan politik menemukan pihak yang menang dan 
lebih banyak yang kalah.

Tetapi akankah keseluruhan anomali dalam demokrasi itu menandakan bahwa 
transisi belum selesai? Apakah pelembagaan baru dibutuhkan untuk 
menampung seluruh semangat perubahan agar setiap suara diperhatikan? 
Mari kita diskusikan.

Korupsi sebagai akar Barangkali dari semua hal yang layak dikedepankan 
dalam pembicaraan menyangkut Indonesia adalah korupsi. Modus operandinya 
sudah beranak-pinak sedemikian rupa. Korupsi menghinggapi seluruh lini 
dalam pelayanan publik. Korupsi menjadi akar dari kelambanan Indonesia 
memasuki tahapan negara-negara maju yang sejahtera. Membebaskan 
Indonesia dari korupsi adalah masalah utama bangsa ini, ketimbang 
menyusun kelembagaan demo krasi baru.

Korupsi dalam demokrasi dikenal dengan istilah money politics (politik 
uang).

Modus ini dipakai untuk memperkaya diri, selain mendapatkan kekuasaan 
lewat jalur politik.Yang terkena pengaruh akibat politik uang bukan 
hanya pelakunya, tapi juga pihak yang menerima. Lambat-laun Indonesia 
menjadi negara yang dihuni oleh kucuran uang yang bocor dari brankas 
resmi negara. Dalam keadaan seperti ini, kejahatan jenis apa pun bisa 
datang dengan senang hati.

Bersarangnya korupsi dalam pohon demokrasi tentu menggelisahkan. Untuk 
itu, perlu disusun beragam peraturan perundang-undangan dalam kaitannya 
dengan pencegahan korupsi maupun penindakannya dan hukumannya. Paket 
undang-undang bidang politik idealnya banyak memuat pasal untuk mencegah 
politik uang. Dalam hal ini, anggaran yang dikeluarkan oleh peserta 
pemilu, baik partai politik maupun perseorangan, layak diketahui publik. 
Begitu juga mekanisme pengawasan penggunaan anggaran itu.

Sebagai contoh, sebelum pelaksanaan pemilu atau pilkada, para kandidat 
sudah menyebarkan media kampanye. Penyelenggara pemilu tidak bisa 
menjangkaunya mengingat masa kampanye resmi belum dimulai, termasuk 
tentu penetapan peserta pemilu atau pilkada. Tapi masyarakat de

ngan mudah bisa melihat aktivitas kampanye itu, bahkan dengan merusak 
saranasarana publik dengan iklan-iklan yang mencemari lingkungan. 
Penggunaan baliho, misalnya, sangat sulit diuraikan oleh alam dan dalam 
jangka pendek-menengah menimbulkan kerusakan lingkungan. Orientasi aktor 
Dalam masa lebih dari 10 tahun terakhir, kita menyaksikan banyak bendera 
partai politik hadir, begitu juga beragam organisasi sosial 
kemasyarakatan. Demokrasi menyuburkan kehadiran organisasi, 
perserikatan, maupun kelompok-kelompok sosial kemasyarakatan. Bahkan 
kelompok yang dianggap radikal pun memiliki napas yang panjang. Hampir 
semuanya mengatasnamakan kebebasan dalam berkumpul dan berpendapat.

Masalahnya, kehadiran organisasi maupun partai politik yang menjamur itu 
tidak dengan sendirinya digerakkan oleh aktor-aktor yang baru sama 
sekali. Sebagian (besar) merupakan aktor lama yang berganti baju, 
organisasi, partai, maupun profesi. Dari sini, layaklah audit atas 
transisi demokrasi Indonesia tidak semata-mata dikaitkan dengan 
kelembagaan demokrasi, melainkan terarah langsung kepada para aktor.

Dalam banyak studi tentang transisi demokrasi, para aktorlah yang 
dicurigai membajak demokrasi bagi kepentingan pribadi, kelompok, atau 
keluarganya. Kri

sis yang terjadi di Thailand dan Filipina, misalnya, berkaitan dengan 
aktor-aktor yang berebut pengaruh dalam kontestasi demokrasi. Untuk 
Thailand, menyangkut pengaruh dinasti kerajaan yang semakin surut dan 
menunggu kematian sang raja, Bhumibol Adulyadej, yang sudah tua. 
Sementara itu, Filipina bergumul dengan masalah yang ditinggalkan 
setelah hengkangnya Ferdinand Marcos pada 1986.

Indonesia sebetulnya tidak memiliki banyak aktor. Mantan presiden 
Soeharto, misalnya, menempatkan posisi seorang menteri dalam waktu lama 
dan bahkan pindah-pindah jabatan. Begitu juga pada level daerah, tidak 
banyak nama yang bisa dicatat sebagai pelaku aktif dalam pemerintahan, 
partai politik, atau kalangan dunia usaha. Sehingga jauh lebih mudah 
melakukan kajian-kajian perseorangan ketimbang sekarang.

Dari sini, rekam jejak menjadi ukuran.

Mengakhiri transisi demokrasi di Indonesia menuju konsolidasi yang penuh 
akan dengan mudah dilakukan apabila masingmasing aktor demokrasi itu 
diketahui kiprahnya. Dan, saya kira, inilah tugas masyarakat sipil atau 
kalangan intelektual, terutama yang merasa memiliki independensi tinggi. 
Akan jauh lebih mudah melihat Indonesia ke depan ketika semua elite atau 
calon elite kita diketahui jejaknya. Bukankah hal ini tidak terlalu 
sulit untuk dilakukan? ?

http://epaper.korantempo.com/KT/KT/2010/07/28/ArticleHtmls/28_07_2010_011_002.shtml?Mode=1

-- 
"One Touch In BOX"

To post  : [email protected]

"Ketika berhenti berpikir, Anda akan kehilangan kesempatan"-- Publilius Syrus

Catatan : -  Gunakan bahasa yang baik dan santun
                 -  Tolong jangan mengiklan yang tidak perlu
                 -  Hindari ONE-LINER
                 -  POTONG EKOR EMAIL
                 -  DILARANG SARA
                -  Opini Anda menjadi tanggung jawab Anda sepenuhnya dan atau  
                   Moderator Tidak bertanggung Jawab terhadap opini Anda.
               -  Berdiskusilah dengan baik dan bijak.
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~------------------------------------------------------------
“Bersikaplah sopan, tulislah dengan diplomatis, meski dalam deklarasi perang 
sekalipun seseorang harus mempelajari aturan-aturan kesopanan.” -- Otto Von 
Bismarck.

"Lidah orang berakal dibelakang hatinya, sedangkan hati orang dungu di belakang 
lidahnya" -Ali bin Abi Talib.

-- 
.
Posting yang berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan di tempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini dan kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur dan Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer dan seluruh bagian tidak perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat e-mail baru, tidak me-reply e-mail lama dan 
mengganti subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin mengubah konfigurasi/setting-an 
keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.

Kirim email ke