2010/8/5 Eri Bagindo Rajo <[email protected]>

> Assalamu'alaikum WW
>
> Rasonyo indak ado nan mambedakan apo nan ditulis oleh kawan AUFA itu dengan
> apo yang ambo tulis sacaro bahaso PASAR.
>
> Rencana KEBIJAKAN DENOMINASI itu kalau di laksanakan secara faktual yang
> terjadi adolah senering/sanering. Denominasi atau apapun namonyo harkat nyo
> secara praktik adolah memotong atau mangurangi  nilai tatulih dari pitih.
>  Sedangkan akibat dari SENERING/sanering atau DENOMINASI adolah penurunan
> NILAI RIEL dari pitih (uang) secara /dalam magnitude yang besar... itu
> namonyo INFLASI ....
>


>
> *
Teori *

Secara teoretis, redenominasi dan sanering itu beda. Yang satu real value
uang turun sedangkan yang satu real uang tetap.
Contoh : Kalo uang 1000 jadi 1. Disanering, harga lotek puskud yang awalnya
10.000 tetap jadi 10.000. jadinya, value uang turun. Kalo di redenominasi,
lotek puskud pun harga nya menjadi 10. Real valuenya tetap.

*Bagaimana dengan pengalaman negara lain?*

Negara lain udah banyak kok yang melakukan redominasi. Dari trend yang ada,
di sebagian besar negara, redenominasi itu tidak diiringi dengan inflasi
yang tinggi. Rata rata inflasi yoy nya tidak banyak berubah. Butuh
penelitian ekonometrik/statistik lebih lanjut untuk melihat dampak korelasi.



*Praktik *

*"..Inflasi  partamo ditunjuak kan oleh naik nyo harago barang sacaro
sarantak dek di picu oleh issue kebijakan pengurangan/pemotongan/*
*pengurangan angka O "*

Kalo masyarakat tau dan familiar bahwa redenominasi itu beda dengan
sanering, kenapa mereka harus bentuk ekspektasi inflasi (kenapa mereka
bereaksi ketika bahwa pemerintah akan melalukan kebijakan ini? )? Kenapa
barang barang harganya harus naik?

**Yang menjadi masalah adalah ketika mereka ndak tau itu apa redenomasi dan
sanering, akhirnya pemain pasar menbentuk belief apakah denomasi itu sama
dengan sanering atau ndak. Mereka bisa update belief itu berdasarkan
informasi dari ekonom atau pemimpin BI. Masalahnya adalah sering kali ekonom
banyak memberikan komen soal kebijakan ekonomi tanpa proper research baik
teori maupun empirik soal topik ini. Informasi yang salah itu lah yang
kemudian dijadikan sebagai patokan oleh pemain pasar dalam membentuk belief
dan membuat ekspektasi inflasi.

Secara praktik, pasti akan ada masa transisi dalam waktu yang lumayan lama.
Didalam masa transisi ini, kedua jenis uang beredar (value lama dan value
baru beredar). Jadi orang bikin konversi sendiri dalam otaknya bahwa harga
1000 sama dengan harga 1. Setelah kemudian masih transisi udah cukup lama
dan masyrakat udah cukup familiar dengan value yang baru, baru kemudian
penarikan value lama dilakukan secara bertahap.

*Publik diseminasi *

Ambo sangat setuju dengan publik diseminasi. Selama dalam publik diseminasi
ini, semua ekonom yang diundang bener bener melakukan proper research. Kalo
pake model, sebutin modelnya, Kalo pake ekonometrik, sebutin datanya.
Hasilnya seperti apa. Dan available untuk di reproduksi ama sapa pun.

Jadi semua argumentasi dibuat berdasarkan fakta, teori yang udah
academically accepted.
Jadi, jangan jadikan masalah ini menjadi masalah politik. Selama masih belum
di terapkan, yah masih masalah akademik..

Maaf kalo ambo salah kato


Wassalam


Aufa

-- 
.
Posting yang berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan di tempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini dan kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur dan Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer dan seluruh bagian tidak perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat e-mail baru, tidak me-reply e-mail lama dan 
mengganti subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin mengubah konfigurasi/setting-an 
keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.

Kirim email ke