Saya mah setuju saja kalau pak AUFA berpendapat demikan,

 CUMA tolong bedakan antara AHLI TEORI ekonomi dengan ahli EKONOMI.

Kalau cuma DR dengan membahas teori orang lain dan menguji nya dalam disertasi 
, 

apa sudah bisa disebut ahli ekonomi? 

(Sangat  banyak DR  teori ekonomi di negara kita, di departemen departemen dan 
lembaga negara lainnya.

Sorry pak AUFA)

Wassalam 
Erinos M Tanjung


________________________________
Dari: chauft <[email protected]>
Kepada: [email protected]
Terkirim: Jum, 6 Agustus, 2010 07:13:48
Judul: Re: Bls: Trs: [...@ntau-net] Trs: [McKari von SMA 1] DE NOMINASI




2010/8/6 Eri Bagindo Rajo <[email protected]>

Pak Aufa yang terhormat dan sanak kasadonyo

Pak Erinos  dan kasanak sadonyo


>Pasar tidak peduli itu politik atau teori.
>Pelaku pasar adalah manusia pencari rente ekonomi
>
 
Intermezzo : Statement pasti akan di protes banyak oleh para behavioral 
economist. Banyak realitas menunjukkan bahwa pelaku pasar tidak selamanya 
pencari rente ekonomi. Ada faktor fakto selain mencari rente yang mempengaruhi 
prilaku pelaku pasar, contohnya psikologis, empati, moral, agama, etc. Paham 
ini 
udah cukup dipakai dikalangan akademisi. Bahkan dua pentolan behavioral 
economist dapat nobel ekonomi sebagai pengakuan terhadap validitas/eksistensi 
dari cabang ilmu ekonomi ini :-).  . 

 

Kalau ada kesempatan menaikkan harga maka pemilik barang akan menaikkan HARGA,
> tak perlu ada PUSH faktor atau PULL faktor  harga akan naik jika ada 
>kesempatan.
> Pemerintah could not do anything about it.
>

Kalo memang pemerintah tidak bisa mempengaruhi harga, apa gunanya instrument BI 
untuk mempegaruhi uang beredar,yang berimplikasi ke inflasi? Jelas jelas, by 
law, salah satu tujuan BI adalah price stability. Kalo emang ndak ada gunanya 
(karena dia udah gagal menjalankan fungsinya by default logika diaats ini) 
bubarin ajah tuh BI :-). Lalu apa efek inflationary/deflationary dari kebijakan 
fiskal gimana? 

 

Itulah perlunya membahas KEBIJAKAN itu bukan hanya dari;  TEORI, PENDAPAT AHLI, 
CONTOH negeri lain. 

>
Tapi selami juga KHARAKTERISTIK negara kita dengan sistem perekonomian yang 
tersentralisasi pada COPRPORATE MANUFACTURE & FINANCIAL CAPITALIST, serta 
adanya 
IMPERFECT DISTRIBUTION OF WEALTH and ECONOMIC RESOURCES, and LOW LEVEL of 
GOVERNMENT POWER on ECONOMIC ACTIVITIES

Kalo bukan pendapat ahli, pendapat sapa dunk yang didengar? Pendapat  semua 
orang? Pendapat pelaku pasar? Gimana mau dengar pendapat pelaku  pasar kalo 
kebijakannya sediri belum jalan. 


Lalu soal teori, Bagaimana orang bisa bilang bahwa A bisa menjadi B tanpa ada 
teori? Dasarnya apa?   Masak dasarnya karena A jadi B karena feeling dia kayak 
gituh. Gimana mau bikin kebijakan ekonomi kalo dasarnya dalah feeling :-). 


Sehubungan dengan pengalaman negara lain, saya sepakat bahwa masing masing 
negara punya karakter masing masing yang unik. Tapi dengan belajar dari negara 
lain, kita bisa belajar banyak soal apa yang terjadi ketika kebijakan itu 
terjadi.  Kalo A terjadi,  implikasi nya apa? Apa yang dilakukan oleh mereka, 
dan hasilnya gimana?. Ini kemudian bisa dijadikan gambaran lebih lanjut soal 
implikasi lebih lanjut dari sebuah kebijakan. Menurut saya, ini hal yang tidak 
terpisahkan dalam pengajian kebijakan. 



 
Pada negara yang memiliki ciri  2 diatas, perlu hati hati dalam menyalin, 
meniru, menyontek KEBIJAKAN EKONOMI yang diambil negera LAIN.
>
>Kebijakan ekonomi tidak bisa dibahas hanya sebatas TEORI, STATISTIK dan 
>PENDAPAT 
>AHLI...
>please GO BEYOND, 
>Karena KEBIJAKAN EKONOMI nggak ada laboratorium nya.... nggak bisa 
>ditest...seperti mengetest ZAT KIMIA. OBAT, KONSTRUKSI BANGUNAN dll.
>

Karena tidak ada lab buat ekonomi, teori, empiris dari negara lain, dan 
pendapat 
para ahli sangat penting. Kalo ndak pake argumentasi yang lebih akademis, dasar 
buat pengambilan kebijakan apa pak? Masak cuma pakai rasio atau limited 
observasi (yang mungkin terbatas) bahwa jika A maka B. Hasilnya akan B. Kalo 
gini mah, akan ada 1000 kebijakan oleh 1000 orang karena toh belum tentu 
observasi atau rasio orang semua sama. 


(Sebenarnya sekarang di ekonomi sudah mulai berkembang social/natural 
experiment 
pake berbagai metode, seperti  treatment  evaluation. Metode ini sering dipakai 
oleh WB dan para akademisi untuk ngelihat secara terbatas efek dari sebuah  
kebijakan. Walaupun tidak memberikan hasil pasti sebagaimana lab kimia  atau 
fisika, sekurang kurangnya itu udah dapat dijadikan titik awal buat  dikaji 
lebih lanjut) . 

 

Demikian 
>
>
>
Demikian juga tanggapan saya pak. Mohon maaf kalo ada salah kata :-)  

Erinos M Tanjung (52),Jakarta
>

Aufa (30) 


>
>
.
>Posting yang berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan di tempat 
>lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
>http://groups.google.com/group/RantauNet/~
>===========================================================
>UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
>- DILARANG:
>1. E-mail besar dari 200KB;
>2. E-mail attachment, tawarkan di sini dan kirim melalui jalur pribadi; 
>3. One Liner.
>- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
>http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
>- Tulis Nama, Umur dan Lokasi pada setiap posting
>- Hapus footer dan seluruh bagian tidak perlu dalam melakukan reply
>- Untuk topik/subjek baru buat e-mail baru, tidak me-reply e-mail lama dan 
>mengganti subjeknya.
>===========================================================
>Berhenti, bergabung kembali serta ingin mengubah konfigurasi/setting-an 
>keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.
>

-- 
.
Posting yang berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan di tempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
1. E-mail besar dari 200KB;
2. E-mail attachment, tawarkan di sini dan kirim melalui jalur pribadi; 
3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur dan Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer dan seluruh bagian tidak perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat e-mail baru, tidak me-reply e-mail lama dan 
mengganti subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin mengubah konfigurasi/setting-an 
keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.


-- 
.
Posting yang berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan di tempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini dan kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur dan Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer dan seluruh bagian tidak perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat e-mail baru, tidak me-reply e-mail lama dan 
mengganti subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin mengubah konfigurasi/setting-an 
keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.

Kirim email ke