Pak Muljadi jo dunsanak di palanta,
 
Rancak dibaco buku Simon Winchester nan baru: KRAKATAU: KETIKA DUNIA MELEDAK, 
27 AGUSTUS 1883 (Jakarta: Serambi, 2006). Aslinya: Krakatoa: The day the world 
exploded, August 27, 1883 (NewYork: Harper Collins Publihers, 2003). Rancak 
pulo dikombinasikan mambaconyo  jo  buku Syair Lampung Karam, he he. Tentang 
Anak Krakatau, Simon menulis di halaman 18-19 (versi terjemahan):
 
"Dengan menyimak peta-peta dan bagan-bagan lama yang diterbitkan sekian tahun 
setelah minggu terakhir Juni 1927, ketika gunung itu [Anak Krakatau] pertama 
kalinya terlihat di atas gelombang laut, bisa disimpulkan bahwa ia tumbuh 
menjadi lebih tinggi dengan mantap, dengan kecepatan lima inci per minggu" 
(kursif oleh Suryadi).
 
Dalam peluncuran buku saya, Syair Lampung Karam, di Newseum Cafe, Jalan Veteran 
I no.34 Jakarta Pusat, tgl. 29 Juli lalu, Taufik Rahzen menggagas untuk 
pengapungan wacana mengenai Krakatau ini, khususnya terkait dengan rencana 
pemerintah membangun Jembatan di Selat Sunda. Kata2nya Taufik Rahzen yg 
terngiang di telinga saya adalah: Jelas begitu banyak energi dan dana akan 
dihabiskan untuk membangun jembatan itu, yang di bawahnya lempeng teknotik bumi 
tak henti2nya bergerak dan bergelora. Ambisi ini harus dikaji ulang untuk 
menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. "Jangan2 ini sebuah tanda dari akhir 
sebuah peradaban", katanya lagi. Sebab sejarah menunjukkan bahwa suatu 
peradaban berakhir karena ambisi pemimpin2nya yang memfokuskan seluruh energi 
kepada suatu proyek yang ternyata riskan dan berbahaya.
 
Anak Krakatau, yg tumbuh membesar seperti bisul, jelas tak bisa disikapi dengan 
mitos dan berdoa saja. Apalagi dg mewujudkan ambisi2 yang tak ada perhitungan 
sama sakali.
 
Wassalam,
Suryadi

--- Pada Rab, 11/8/10, Muljadi Ali Basjah <[email protected]> menulis:


Dari: Muljadi Ali Basjah <[email protected]>
Judul: Re: RE: [...@ntau-net] MPKAS menghadiri Sumatera Development Summit - 
Kamis 22 Juli 2010 di Hotel Novotel Bandar Lampung
Kepada: [email protected]
Tanggal: Rabu, 11 Agustus, 2010, 4:16 PM


Assalamualaikum Wr.Wb. yth. Bapak Kurnia Chalik.

Terimakasih atas, informasi serta gambar2nya.
Moga2 cepat terlaksana Jalan kereta api lintas Sumatranya.
Tetapi mohon Shinkanzennya jangan Pak.
Juga Jembatan Selat Sundanya pak, dilain mahal sekali, masih ada yang lebih 
akut lagi dan lebih relevan dari Jembatan Selat Sunda. Selain itu 2007 kan anak 
Krakatau berbunyi lagi. Anak Krakatau kan kabar2nya membesar terus sekian senti 
pertahun.

Kabar2nya menurut theorie tektonik di Selat Sunda itu pertemuan antara 
lempengan Indo-Australia dan lempengan  Eurasia, yang merupakan zona Subdukti 
yang instabil.

Mudah2an, se-mua2 nya ini hanya kabar2nya saja, selain jalan keretaapi lintas 
Sumatra.

Wassalam,
Muljadi

-

-- 
.
Posting yang berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan di tempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini dan kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur dan Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer dan seluruh bagian tidak perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat e-mail baru, tidak me-reply e-mail lama dan 
mengganti subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin mengubah konfigurasi/setting-an 
keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.

Kirim email ke