Assalamu Alaikum W. W.
Nan berikut adolah kakak kanduang bundo nan banamo Hj. Rasyidah Ibrahim
RASYIDAH TALANG MAUR
oleh: MUHAMMAD BAYU VESKY
Besok 17 Agustus, hari kemerdekaan. Di balik semua kesuksesan, selalu saja
berdiri wanita yang tegar. Minangkabau dalam dadanya yang diam, menyimpan
teramat banyak perempuan nan tangguh semacam itu. Mereka adalah ibu dari
orang-orang hebat. Singgalang mencoba mencari beberapa ibu tangguh Minangkabau
itu. Di antaranya: Menyusuri Jalan Tan Malaka, menuju Nagari Talang Maur
Kecamatan Mungka (sekitar 20 Km dari Jantung Kota Payakumbuh), di saat bulan
suci Ramadhan, sulit juga rupanya. Siang itu, jarum jam menunjukkan pukul 12.00
WIB, bedug berbuka masih lama. Jalanan juga basah, maklum dari pagi buta. Hujan
turun tak henti-hentinya. Tepat sebelah kiri setelah memasuki pintu gerbang
‘Selamat Datang di Nagari Adat Talang Maur’, Singgalang mencoba melajukan
kendaraan ke sebuah rumah gadang bernomor 45. Rumah itu milik keluarga besar Hj
Rasyidah Ibrahim, dan almarhum suaminya Ibrahim, pasangan suami istri yang
dikenal warga sekitar sebagai sosok guru dan
ulama besar. Menaiki jenjang rumah gadang yang tampak bersih mengkilat, pintu
rumah Rasyidahpun diketuk. Ternyata hening, tak ada jawaban dari dalam. Lama
menunggu, akhirnya seulas senyum ditebar seorang ibu, ialah Rasyidah. Srikandi
yang tengah ditunggu. “ Ooo...maaf ya, sudah lamakah menunggu? Masuklah dulu,
ibuk baru pulang dari Pasar,” ucap Rasyidah, pada Singgalang, Sabtu (14/8) di
kediamannya itu, Nagari Talang Maur, Kecamatan Mungka. Wanita yang tercatat
sebagai guru sekaligus pencetus Sekolah Talang Maur (Sekarang SDN 01 Talang
Maur) itu, nampak masih kuat. Bahkan matanya juga masih tajam untuk membaca
tulisan di lembaran kertas dan buku. Ia mengaku,semuanya itu bisa bertahan
akibat kebiasaan. “Membaca itu kan penting. Mata saya ini berpantang betul
dengan buku dan bacaan. Kalau ada yang dibaca, pasti saya lahap saja,” ulasnya
membuka cerita. Ditertawakan teman Kebiasaan Rasyidah membaca karena sejak
kecil ia telah melakukannya. Sebelum
menjadi guru di SD, dirinya sering diejek oleh teman sebaya lantaran ikut
sekolah dengan kaum laki-laki. “Saat itu yang sekolah kan cuma laki-laki.
Itupun bisa dihitung dengan jari,” kata wanita, yang berusia 77 tahun tepat,
pada peringatan HUT RI Selasa (17/8) besok. Namun Rasyidah bukan patah arang.
Malah dengan memberikan pencerahan dan pemahaman akan arti pendidikan, sedikit
demi sedikit warga Talang Maur banyak yang paham. Makna pendidikan jadi
andalan. Rasydah diharapkan bisa merubah paradigma itu oleh orang banyak.
Khususnya masyarakat yang bernaung dilingkaran nagari sejuk Talang Maur. Nagari
kaya, sejuta pesona pancaran alamnya. “Tahun 1945 silam tepat, saya jadi guru
di Sekolah Dasar dan berusia 13 tahun. Waktu itu, saya juga menyandang status
sebagai siswi KGC (Khursus Guru Cepat) di Mungka, sampai 1948 saya melanjutkan
KGB (Khursus Guru B), di Dangung-Dangung dan terakhir KGA (Khursus Guru A) dan
baru berijazah tahun 1954,” kenang
Rasyidah membalik memorinya. Buah perjuangannya dengan sang suami Ibrahim,
memberikan bukti. Tujuh orang putra-putri yang mereka sekolahkan dengan jerih
payah, sudah berhasil dan bergelar sarjana pula. Bahkan lebih dari itu, anaknya
benar-benar menjadi orang. “ Alhamdulillah, anak saya yang sulung, Herman
Darnel Ibrahim, sekarang tercatat sebagai anggota Dewan Energi Nasional yang
diketuai langsung bapak presiden,” katanya. Sementara itu, anak kedua wanita
yang kini menjabat sebagai anggota komite Sekolah Talang Maur sekaligus Ketua
Aisyah Mungka tersebut adalah Darnelita Efrizal. Kini bekerja di SDM PT Metko.
Selanjutnya, Ulpermadi Ibrahim konsultan komputer dan programer Bank Nagari
pusat. Sementara anaknya yang keempat, adalah Darvini Rahmida dokter yang kini
bertugas di Puskesmas Keramat Jati. “Anak saya yang kelima, adalah Trisna
Mulyani. Setelah berhasil mengambil Strata 2 (S2) nya di Australia, kini ia
dosen UNJ Jakarta dan alhamdulillah,
berencana juga melanjutkan Strata Tiga (S3). Sedangkan anak keenam, adalah
Siti Haiyinah, pegawai BKD Payakumbuh dan terakhir si bungsu Rahmi Sukma, kini
berstatus Manager PT Kogindo Jakarta,” terangnya. Meskipun anak-anaknya sudah
berhasil dan tak asing bagi warga Luhak Nan Bungsu, namun Rasyidah tidak pernah
membusung dada. Ia juga tidak henti-hentinya menunjuk-ajarkan anak-anak agar
tidak sombong, angkuh dan lupa dengan agama. “Yang terpenting itu, jangan
pernah lupakan agama Islam. tunduklah padaNnya. Ingat, tuntulah ilmu, dari
buaian sampai liang lahat,” katanya. Jangan mau sogok-menyogok Tidak cuma itu
saja, dalam urusan kongkalingkong ataupun sogok menyogok mempercepat selesainya
masalah dan sebuah pekerjaan, Rasydah paling pantang. Hal itu dibuktikannya,
setelah anak sulungnya Herman Darniel Ibrahim berniat diusung sejumlah pihak
menjadi Calon Gubernur Sumatera Barat tahun 2010. Namun akibat harus adanya
cost-costan politik, Rasyidah
melarangnya. “Sogok-menyogok itu jangan. Tak perlu rebut jabatan. Saya kemarin
bilang sama Herman (Herman Darniel Ibrahim), agar tak perlu ikut jadi calon
gubernur kalau harus bayar membayar. Percuma saja jadi pemimpin kalau kita
sudah mengeluarkan uang dahulunya. Nanti sama apa kita ganti uang itu,”
pungkasnya sembari menawarkan Singgalang buka puasa bersama di rumahnya. (*)
--
.
Posting yang berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan di tempat
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
1. E-mail besar dari 200KB;
2. E-mail attachment, tawarkan di sini dan kirim melalui jalur pribadi;
3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur dan Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer dan seluruh bagian tidak perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat e-mail baru, tidak me-reply e-mail lama dan
mengganti subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin mengubah konfigurasi/setting-an
keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.