Semoga bermanfaat, sayangnya tidak disampaikan/diceritakan
metode apa yg digunakan sang guru hingga shalat shubuh
berjama'ah di masjid tertanam kuat pd muridnya.

Selamat menunaikan ibadah shaum, setengah Ramadhan
sudah dilalui dan seiring dengan berjalannya waktu, shaff 
di masjid pun mulai berjalan kembali menuju bentuknya
yang sebelum Ramadhan (mendekati Imam).

wassalam,
harman st.idris

---------- Forwarded message ----------
From: Nugroho Laison <nugo...@..>


 
http://groups.yahoo.com/group/tarbawi_community/message/9995
- Hide quoted text -
 
Tarbawi Edisi 232; 15 Juli 2010
Anak-anak yang Melampaui Usianya
Oleh: Ustadz Sulthan Hadi
 
Disebuah  ruang sekolah dasar, seorang guru berdiri di depan kelas sedang  
mengajar murid-muridnya yang masih duduk di kelas tiga. Guru tersebut  coba 
menerangkan keistimewaan dan urgensi shalat Shubuh kepada mereka.  Dengan 
bahasa 
yang tertata baik dan metode penyampaian yang sempurna,  sang guru berhasil 
menanamkan kesadaran ibadah pada murid-muridnya.  Bahkan, seorang anak 
laki-laki 
diantara murid-murid itu, sangat  tersentuh mendengar penjelasan indah tentang 
pentingnya shalat Shubuh  berjemaah di mesjid, sehingga muncul rasa penasaran 
di 
hatinya. Terlebih  anak kecil tersebut memang belum pernah sekalipun melakukan 
shalat  Shubuh selama hidupnya, dan juga tidak melihat keluarganya melakukan 
itu.
 
Setelah  kembali ke rumahnya, kata-kata gurunya tentang shalat Shubuh  terus 
terngiang di telinganya. Ia kemudian berpikir mencari cara,  bagaimana bisa 
bangun pagi untuk melaksanakan shalat Shubuh. Lama ia  berpikir, tapi tak ada 
solusi yang ia temukan kecuali harus berjaga  sepanjang malam. Maka ia pun 
melakukan itu. Susah payah ia menahan  kelopak matanya dimatanya itu, agar 
tidak 
terpejam. Tapi dengan usahanya  yang sungguh-sungguh, akhirnya ia bertemu 
dengan 
Shubuh.
 
Begitu  suara adzan terdengar, segara ia  berwudhu dan bersiap menuju masjid. 
Namun ketika membuka pintu, anak  kecil itu terperangah. Kesulitan besar 
menghadang di depannya. Ia sadar  bahwa masjid ternyata cukup jauh dari 
rumanhya, sementara di luar sana  masih terlihat gelap dan sepi. Ia tak punya 
keberanian yang cukup untuk  menembus kesunyian Shubuh yang berselimut 
kegelapan, dengan usianya yang  masih delapan tahun. Akhirnya, ia teduduk di 
depan pintu dengan rasa  kecewa yang dalam, dan dengan suara tangis yang 
tertahan, karena takut   di ketahui dan di marahi orang tuanya.
 
Dalam  balutan sedih dan kecewa, tiba-tiba anak tersebut mendengar suara  
langkah kaki melintas di jalan depan rumahnya. Buru-buru ia membuka  pintu dan 
berlari pelan-pelan mendekati sumber suara. Riang bukan  kepalang. Sebab 
ternyata, suara itu adalah langkah kaki dari kakek  temannya bernama Ahmad, 
yang 
sedang berjalan menuju masjid. Dia pun  segera mengikut di belakang kakek itu, 
perlahan dan tanpa suara, agar si  kakek tidak mengetahuinya dan mengadukannya 
kepada ayahnya.
 
Hari  berikutnya, anak ini selalu melakukan hal yang sama, dengan cara yang  
sama. Setiap pagi ia bangun Shubuh, tanpa sepengetahuan seorangpun dari  
keluarganya, lalu berangkat  ke masjid menunaikan shalat Shubuh,  membuntut si 
kakek dengan langkah kaki ringan dan pelan agar tidak  ketahuan. Akan tetapi 
kebersamaan abadi adalah hal yang mustahil.  Beberapa bulan kemudian, si kakek 
meninggal.
 
Si  bocah kecil tersebut pun tahu, dan berita kematian si kakek adalah duka  
yang mendalam baginya. Ia menangis. Terisak-isak. Sang ayah yang  melihat 
perilaku anaknya, merasakan ada sesuatu yang aneh. Dia lalu  bertanya, “Nak, 
mengapa kamu menangis seperti itu. Kakek si Ahmad kan  bukan anak kecil 
seusiamu 
yang kamu bisa bermain dengannya. Dia juga  bukan kerabat kita sehingga kamu 
tidak perlu merasa kehilangan dia.”
 
Anak  itu lalu menatap ayahnya, dengan air mata yang terus mengalir dan wajah  
yang tampak begitu sedih, seraya berkata “Andai saja yang mati itu  adalah 
ayah, 
dan bukan kakek itu!”
 
Mendengar  ucapan anaknya si ayah seperti tersambar petir. Ia kaget luar biasa. 
 
“Kenapa anak sekecil ini bisa berkata-kata seperti itu? Lalu kenapa ia  
mencintai si kakek sedemikian dalam?” pikirnya dalam  hati. Anak itu lalu 
berkata, “Aku tidak merasa kehilangan karena dia  teman mainku atau karena 
kerabatku, seperti yang ayah katakan.”
                “Lalu kenapa?” tanya ayah penasaran.
                “Karena shalat. Karena shalat,” tegas si anak.
Dengan suara serak dan berat ia mengajukan tanya,  “Kenapa ayah tidak shalat 
Shubuh? Kenapa ayah tidak seperti kakek itu  dan seperti orang-orang yang aku 
lihat itu?”
                “Dimana kamu melihat mereka?” desak ayah itu.
                “Di masjid,” jawab anak itu singkat.
                 “Bagaimana caranya kamu bisa melihat mereka?” tanya ayahnya 
lagi. Si  anak pun lalu menceritakan pengalamannya selama ini yang setiap 
Shubuh  
selalu membuntuti si kakek. Hampir saja air mata si ayah tumpah  
mendengarkannya. Seketika ia peluk anaknya erat-erat. Cerita anak itu  telah 
menjadi pelajaran sangat berharga bagi ayah, dan sejak  itu ia tak pernah lagi 
menginggalkan shalat lima waktu berjemaah di  masjid.
 
Kisah ini adalah potret nyata seorang anak kecil yang  secara perilaku  
melampaui usianya. Ia denagn sebuah sentuhan kesadaran  di jiwanya, dia telah 
melakukan sesuatu yang sangat penting dalam  kehidupannya, dan dalam kehidupan 
keluarganya. Dia telah berhasil  mendakwahi orang tuanya. Dia telah sukses 
mengetuk kesadaran ayahnya  untuk bangun pagi dan melaksanakan  shalat. Dia 
telah menjadi da’I bagi segenap keluarganya, dengan caranya  sendiri, dimana 
tugas itu seharusnya dilakukan oleh orang-orang dewasa  dan terpelajar. Karena 
itu, DR. Sa’ad Riyadh yang menceritakan kisah ini  dalam bukunya Abaa’wa 
Abnaa’, 
memberi catatan penting: jangan kau remehkan kata-kata dari anakmu, sebab 
terkadang dari situlah awal perubahan dalam hidupmu.
 
Anak-anak  itu sesungguhnya adalah miniatur manusia dewasa. Mereka memiliki 
semua  perangkat manusia dewasa. Hanya kadarnya saja yang mungkin berbeda.  
Meraka punya emosi. Mereka punya rasa. Merekapun punya hati, jiwa, dan  akal 
sehingga mereka bisa tersentuh, bisa mencintai, bisa menyayangi,  dan bisa 
bertanggung jawab, sebagaiman mereka juga bisa marah, kecewa  dan bersedih. 
Pereangkat-perangkat kemanusiaan itu telah melekat dalam  diri mereka, 
berkembang seiring dengan pertumbuhan usianya. Tapi di  sebagian anak, 
perangkat-perangkat itu terkadang bekerja lebih cepat  karena pengaruh dan 
desakan faktor-faktor tertentu dalam lingkungannya,  sehingga seringkali kita 
menemukan ada diantara mereka yang bersikap,  bertindak, berperilaku, 
berakhlak, 
dan berbicara melampaui usianya.  Melakukan sesuatu yang tidak dilakukan 
anak-anak sebayanya. Mereka  dewasa dalam usianya ynag masih kanak-kanak.
 
Mungkin  kita masih ingat dengan bocah perempuan bernama Sinar yang beberapa  
waktu lalu yang beritanya sempat mengguncang perasaan kita. Bocah enam  tahun 
itu, dengan cinta dan sayangnya rela mengabaikan masa kecilnya  demi merawat si 
ibu yang sedang sakit.
 
Murni,  nama ibu anak itu, mengalami lumpuh ketika suaminya sedang merantau ke  
Malaysia mencari nafkah. Jadilah Sinar yang membantu dan menemani  ibunya, 
sendiri. Tubuhnya yang mungil dengan tenaga yang pasti tak  seberapa, melakukan 
semua hal untuk urusan dan kebutuhan ibunya;  memindahkan dan menggeser 
tubuhnya, memasak, member makan dan minum,  memandikan, hingga membantu buang 
air. Semua itu ia kerjakan sendiri  dengan penuh cinta.
 
Murid  kelas satu sekolah dasar itu bahkan kerap terlambat ke sekolah karena  
harus mengurus ibunya. Begitu pula setelah pulang sekolah. Nyaris  seluruh 
waktunya ia persembahkan untuk ibunya yang sakit parah. Tayangan  televise yang 
memberitakan aktivitas Sinar merawat ibunya, sanggup   meruntuhkan air mata 
kita 
yang menyaksikannya. Ada rasa iba dan takjub  pada sosok bocah kecil tersebut 
yang tampak penuh tanggung jawab  melakukan tugas mulianya, menusap mesra pipi 
ibunya.
 
Nan  jauh disana, dinegri tirai bambu, ada sosok Tse Tse yang setiap hari  
menyuapi, menyeka muka, dan memijit tubuh ayahnya, Xiong Chun, yang  lumpuh.
 
Karena  ayahnya lumpuh bertahun-tahun, anak yang juga seusia Sinar itu terpaksa 
 
ikut memikul tanggung jawab rumah tangga yang tidak ringan. Selain  setiap hari 
mengurusi ayahnya, Tse Tse juga membantu ibunya memungut dan  mengumpulkan 
botol 
air mineral bekas, sebagai tambahan pendapatan  keluarga.
 
Dua  bocah kecil ini: Sinar yang tinggal di Polewali Mandar, Sulawesi Barat,  
dan Tse Tse di Jiangsu, China, dalam kisah mereka masing-masing  sekali lagi 
memberikan kita contoh akan anak-anak kecil yang melampaui  usianya. Dan jika 
kita perhatikan kisah keduanya maka ada satu keadaan  yang sama pada diri 
mereka 
yang kemudian memaksa mereka untuk mengambil  tanggung jawab dan peran-peran 
besar di luar usia mereka, yang  mempercepat kematangan perangkat-perangkat 
tertentu dalam diri keduanya.  Keadaan itu adalah beban dan kesulitan yang 
menimpa kehidupan keluarga  mereka.
 
Memang,  beban  kehidupan menjadi  faktor dominan yang kerap kali mengubah 
keadaan  seorang anak. Ketika sebuah tanggung jawab yang seharusnya yang di 
pikul  oleh dewasa, namun ternyata orang dewasa itu tak ada di sisi mereka,  
maka saat itulah mereka akan berusaha dengan cara dan kemampuan mereka  sendiri 
untuk mengambil alih tanggung jawab. Sinar, misalnya walaupun ia  memiliki 5 
orang kakak, namun mereka semua tinggal terpisah dengannya.  Faktor ekonomi 
membuat mereka menjadi pembantu rumah tangga. Sehingga  Sinar tidak bisa 
mengadukan keadaan ibunya kepada kakak-kakaknya itu.
 
Tentu  beban dan kesulitan bukan satu-satunya faktor yang membuat seorang anak  
lebih cepat dewasa dari usianya. Sebab seperti yang sudah di sebutkan  diatas, 
anak-anak memiliki perangkat-perangkat kemanusiaan seperti yang  dimiliki 
umumnya orang-orang dewasa. Sentuhan kesadaran, kedalaman  pengetahuan, 
semangat 
dan motivasi cinta dan kasih sayang, semuanya bisa  menjadi                
energi bagi seorang anak untuk melakukan sesuatu  yang melampaui usianya, 
dengan 
tetap pada karakter, keluguannya, dan  kelucuannya sebagai anak-anak.
 
Hasan dan Husein RA cucu Rasulullah SAW pernah mengajari seorang tua yang 
belum tahu  cara berwudhu yang benar. Karena kala itu keduanya masih 
kanak-kanak,  mereka takut mengajarinya secara langsung. Keduanya lalu mencari 
cara,  yaitu dengan saling bicara, dengan suara keras.  Salah seorang dari 
mereka berkata, “Wudhuku lebih baik dari wudhumu.”  Yang lain berkata “Tidak, 
wudhuku lebih baik darimu.” Lalu mereka  bersepakat untuk meminta orang tua itu 
yang menilai wudhu siapa yang  lebih baik. Maka mereka berwudhu dengan cara 
yang 
sempurna di hadapan  orang tua tersebut. Setelah melihat wudhu kedua anak 
tersebut,  dengan firasatnya orang tua itu paham bagaimana cara berwudhu yang  
benar dan sadar bahwa mereka bermaksud mengajarinya.
 
Imam Asy Syafi’i rahimakullah,  telah diizinkan berfatwa pada saat usianya lima 
belas tahun. Sebuah  kehormatan yang tak di berikan kecuali kepada orang yang 
memiliki  kematangan ilmu dan emosi. Sehingga semua tahu bahwa dia telah 
melakukan  sesuatu  yang telah melampaui usianya.
 
Di  sekitar kita, tentu ada banyak anak-anak seperti pada sebagian kisah  
diatas; mengambil sebuah tanggung jawab dan peran yang melampaui  usianya. Ada 
yang berjibaku mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan  dapur keluarganya. Ada 
yang berperan sebagai pemimpin dan pembimbing  untuk adik-adiknya yang 
ditinggal 
orang tua. Ada yang tak  lelah  berjuang dan tak berputus asa mengejar 
cita-cita, meski hidup dalam  keterbatasan.
 
Dan  pada edisi ini, sebagian dari mereka kita hadirkan disini. Kita  berbicara 
tentang mereka, mengenal diri dan cerita mereka. Agar kita  tidak mengecilkan 
perjuangan hidup mereka, dan agar kita memiliki  kepedulian untuk meringankan 
beban hidup mereka serta tidak lupa belajar  dan bercermin, bahwa ternyata anak 
kecil saja mampu, sedang kita hanya  bisa diam atau lebih banyak mengeluhkan 
keadaan dari pada berjuang  menyelesaikannya.[]
________ akhir artikel ________ 


      

-- 
.
Posting yang berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan di tempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini dan kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur dan Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer dan seluruh bagian tidak perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat e-mail baru, tidak me-reply e-mail lama dan 
mengganti subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin mengubah konfigurasi/setting-an 
keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.

Kirim email ke