"Mengapa Lagu Minang Lamo begitu dirindukan oleh para
penyukanya?"

Pertanyaan sederhana yang menggelitik ini begitu menantang untuk dijawab
dan dijelaskan. Setelah empat tahun lebih mengelola situs Lirik Lagu
Minang Lamo <http://laguminanglamo.wordpress.com/>  perlahan-lahan saya
menemukan samar-samar jawabannya.

Komunal

Kata di atas merupakan kata pertama yang terlintas di fikiran saya
setelah mengamati hampir 500 lirik lagu Minang pada kurun waktu 1950-an
sampai 1980-an. Lirik-lirik lagu tersebut sebahagian besar mewakili
perasaan bersama orang Minang. Jarang sekali perasaan-perasaan personal
yang populer pada lirik lagu zaman sekarang muncul pada kurun waktu
tersebut. Bahkan untuk urusan percintaan sekalipun, setiap intrik yang
dimunculkan dalam lirik lagu mengambil latar belakang yang komunal, yang
dirasakan hampir semua orang yaitu masalah klasik percintaan di Ranah
Minang. Apalagi kalau bukan perjodohan oleh orang tua atau tentang
status sosial ekonomi yang menjadi penghalang jalan ke pelaminan.
Tengoklah lirik-lirik lagu seperti Langkah Kida
<http://laguminanglamo.wordpress.com/2010/08/23/langkah-kida/#comment-16\
77> , Japuiklah Denai
<http://laguminanglamo.wordpress.com/2010/06/30/japuiklah-denai/> ,
Tasarah Mamak
<http://laguminanglamo.wordpress.com/2010/08/23/tasarah-mamak/>  dan
Tabuang Cinto di Umbilin
<http://laguminanglamo.wordpress.com/2010/06/25/tabuang-cinto-di-umbilin\
/>  sebagai perbandingan.



Perantauan

Solusi dari masalah-masalah sosial ekonomi tersebut bisa ditebak dengan
gampang. Apalagi kalau bukan Marantau
<http://laguminanglamo.wordpress.com/2010/08/17/marantau/#comment-1676>
. Hampir semua anak Minang mengalami fase merantau ini, yang dalam lirik
lagu Minang lamo terekam dengan baik. Dengan bersedih hati kampung
ditinggalkan seperti yang terekam dalam lirik Tinggalah Kampuang
<http://laguminanglamo.wordpress.com/2007/07/30/tinggalah-kampuang/> ,
Kelok 44 <http://laguminanglamo.wordpress.com/2007/07/30/kelok-44/>  dan
KM Kurinci <http://laguminanglamo.wordpress.com/2008/04/04/km-kurinci/>
.

Daerah daerah tujuan perantauan ini bervariasi dari yang dekat seperti
Riau hingga yang jauh seperti Jawa. Lihatlah lirik lagu Barangkek Kapa
<http://laguminanglamo.wordpress.com/2008/05/18/barangkek-kapa/> , Sinar
Riau <http://laguminanglamo.wordpress.com/2007/07/30/sinar-riau/> ,
Tanah Jao <http://laguminanglamo.wordpress.com/2010/08/18/tanah-jao/> 
dan Tanjuang Pariuak
<http://laguminanglamo.wordpress.com/2008/03/14/tanjuang-pariuak/> .

Setelah sampai di perantauan nasib yang tidak kunjung baik pun
menyergap. Maka berkeluh kesahlah mereka dalam lagu dan ratok, baik
terang-terangan maupun dengan kiasan. Lirik-lirik lagu seperti Apo Ka
Tenggang
<http://laguminanglamo.wordpress.com/2010/08/12/apo-ka-tenggang/> ,
Nasib Kabau Padati
<http://laguminanglamo.wordpress.com/2007/08/01/nasib-kabau-padati/> ,
Roda Padati
<http://laguminanglamo.wordpress.com/2007/07/30/roda-padati/>  dan
Mangana Untuang
<http://laguminanglamo.wordpress.com/2008/05/15/mangana-untuang/> 
menggambarkan suasana tersebut.

Dalam pada itu kerinduan pada kampung halaman tidak tertahankan lagi.
Situasi ini tercurahkan pada lagu-lagu seperti Kampuang Nan Jauah di
Mato
<http://laguminanglamo.wordpress.com/2007/07/31/kampuang-nan-jauah-di-ma\
to/> , Minang Maimbau
<http://laguminanglamo.wordpress.com/2007/08/06/minang-maimbau/> ,
Imbauan Kampuang
<http://laguminanglamo.wordpress.com/2010/08/12/imbauan-kampuang/>  dan
Taragak <http://laguminanglamo.wordpress.com/2010/07/25/taragak/> .



Nostalgia dan Peristiwa

Banyak hal yang tidak dapat dilupakan oleh perantau Minang tentang
kampung halamannya. Salah satunya adalah makanannya. Ya, makanan.
Puluhan lirik lagu dibuat dengan mengabadikan nama berbagai macam
makanan/masakan khas Minang. Tengoklah lirik-lirik Bareh Solok
<http://laguminanglamo.wordpress.com/2008/05/16/bareh-solok/> , Es
Kuncang <http://laguminanglamo.wordpress.com/2008/04/30/es-kuncang/> ,
Lamang Tapai
<http://laguminanglamo.wordpress.com/2008/04/11/lamang-tapai/> , Lompong
Sagu <http://laguminanglamo.wordpress.com/2007/07/31/lompong-sagu/> ,
Palai Bada <http://laguminanglamo.wordpress.com/2007/08/27/palai-bada/>
, Sala Maco <http://laguminanglamo.wordpress.com/2010/08/14/sala-maco/>
, Kue Mangkuak
<http://laguminanglamo.wordpress.com/2010/08/12/kue-mangkuak/> , Ondeh
Ondeh <http://laguminanglamo.wordpress.com/2008/04/04/ondeh-ondeh/> ,
Kue Dokok Dokok
<http://laguminanglamo.wordpress.com/2008/05/16/kue-dokok-dokok/> ,
Karupuak Sanjai
<http://laguminanglamo.wordpress.com/2008/04/07/karupuak-sanjai/> , Bika
Si Mariana
<http://laguminanglamo.wordpress.com/2008/04/30/bika-si-mariana/> , Sala
Lauak <http://laguminanglamo.wordpress.com/2008/04/07/sala-lauak/> ,
Katupek Gulai Paku
<http://laguminanglamo.wordpress.com/2010/08/17/katupek-gulai-paku/> ,
Kue Sarabi <http://laguminanglamo.wordpress.com/2010/08/06/kue-sarabi/>
, Nasi Ampera
<http://laguminanglamo.wordpress.com/2010/07/30/nasi-ampera/>  dan Sate
Piaman <http://laguminanglamo.wordpress.com/2008/05/16/sate-piaman/> .

Peristiwa-peristiwa sejarah dan politik tidak ketinggalan menyumbangkan
kenangan dalam lirik lagu. Simak lirik-lirik bernuansa perjuangan
semacam Mariam Tomong
<http://laguminanglamo.wordpress.com/2010/08/23/mariam-tomong-2/>  atau
seputar peristiwa PRRI seperti Hari Pagi
<http://laguminanglamo.wordpress.com/2008/04/09/hari-pagi/> , Gadih
Lambah <http://laguminanglamo.wordpress.com/2008/04/01/gadih-lambah/> ,
Nan Dihati <http://laguminanglamo.wordpress.com/2008/04/01/nan-dihati/> 
dan Sabalun Tabik Matoari
<http://laguminanglamo.wordpress.com/2008/04/07/mariam-tomong/> .



Kritik Sosial

Dalam kurun waktu sepanjang 1950-an sampai 1990-an tentulah banyak
perubahan yang terjadi pada orang Minang, baik yang di Ranah Minang
maupun yang berdomisili di perantauan. Ternyata orang Minang ini tidak
tinggal diam menghadapi perubahan-perubahan ini. Keresahannya
diungkapkan dalam lirik-lirik seperti Antahlah
<http://laguminanglamo.wordpress.com/2008/05/16/antahlah/> , Sinandi
Nandi <http://laguminanglamo.wordpress.com/2008/05/16/sinandi-nandi/> ,
Si Nona <http://laguminanglamo.wordpress.com/2008/05/16/si-nona/> ,
Sabai Nan Aluih
<http://laguminanglamo.wordpress.com/2010/07/24/sabai-nan-aluih/>  dan
Basiginyang
<http://laguminanglamo.wordpress.com/2010/08/12/basiginyang/> .

Begitulah, orang Minang yang terkenal dengan tradisi lisannya
menggunakan lirik-lirik lagu sebagai kamera yang merekam segala aspek
kehidupannya. Oleh karena itulah, pada saat mereka rindu terhadap ruang
dan waktu di masa lampau tersebut, dengan segera mereka kembali ke
dendang lama, menyenandungkan lagu-lagu Minang lamo tersebut untuk
bernostalgia dengan kenangan lama.

Lirik Lagu Minang Lamo <http://laguminanglamo.wordpress.com/>  hadir
dalam versi tulisan untuk lebih mengabadikan kenangan-kenangan tersebut.
Semoga kehadirannya dapat bermanfaat bagi orang Minang di mana saja.







-- 
.
Posting yang berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan di tempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini dan kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur dan Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer dan seluruh bagian tidak perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat e-mail baru, tidak me-reply e-mail lama dan 
mengganti subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin mengubah konfigurasi/setting-an 
keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.

Kirim email ke