Sanak di palanta, kok ambo parafrasekan email Sanak Syofiardi di bawah, kiro2 co iko mah: Bakato baiyo, Bajalan bamolah, Dicari bulek nan sagolek, Dicari picak nan salayang, Kok data alah balantai papan, Kok licin alah badindiang camin, Tabang iyo alah sapulun, Inggok iyo lah sacakam, Kok duduak alah barapak, Kok tagak alah bapusu, Manembak alah tantang tampuak, Manggado alah tantang tandan, Dima tambilang taantak, Di sinan tinaman tumbuah, Dima anjiang manyalak, Di sinan biawak tajun, Kato sorang dibulek'i, Kato basamo dipaiyokan. TERJEMAHKANLAH KONSEP MUSYAWARAH MINANG DI ATAS KE DALAM KEHIDUPAN MODERN AWAK KINI, KOK PARALU DIPAKAI BAHASO INGGIRIH, PAKAI, KOK PARALU DIPAKAI BAHASO INDONESIA, SILAKAN. Pertanyaan: demokrasi ala Minang yang harus menyesuaikan diri dengan demokrasi modern, atau sebaliknya? Sayangnya ini tidak terpikirkan dulu. Kalau terpikirkan, mungkin interior gedung DPRD TK I di Padang dan gedung2 DPRD TK II di seluruh sumatra Barat dibuek agak sarupo2 parlemen Inggirih tu ha, atau kalau paralu bantuak balerong Minangkabau tu. Wassalam, Suryadi
--- Pada Kam, 26/8/10, Syofiardi BachyulJb <[email protected]> menulis: Dari: Syofiardi BachyulJb <[email protected]> Judul: Re: [...@ntau-net] Komentar2 : Ada yang Ingin Gagalkan KKM Kepada: [email protected] Tanggal: Kamis, 26 Agustus, 2010, 1:29 PM Waalaikumussalam wr wb. Kanda Zulkarnain, Kalau manuruik ambo indak ado yang salah dengan NIAT dasar Gebu Minang mengadakan acara iko. Sebelumnya ambo juo alah bapandek yang salah adalah CARA-nya. Kalau seandainya Gebu Minang mengadakan seminar lebih dulu membahas pokok pikiran 'orang-orangnya' tentang bagaimana Minangkabau ke depan, tidak ada masalah dengan itu. Menurut saya seminar adalah sebuah 'urun rembuk' untuk mencari 'jalan terang' sebuah masalah. Bagaimana dengan Kongres? Kongres adalah menggolkan sesuatu yang berpuncak pada pengurus kelembagaan dan programnya untuk mengatur sesuatu. Agar hasil kongres diakui de facto dan de jure, maka prosesnya juga harus melibatkan semua komponen yang berkepentingan (stake holder kecek urang lua). Yang aneh dalam hal iko adalah sebuah kongres kebudayaan minangkabau tidak diadakan oleh lembaga-lembaga yang dianggap sebagai pemangku penting 'kebudayaan minangkabau': LKAAM (ninik mamak/ ini lembaga resmi yang eksis puluhan tahun), yang dipayungi LKAAM ada KAN di setiap nagaril Kebudayaan tidak lengkap tanpa kesenian. Juga ada pemangku Raja Kerajaan Paguruyung dan kerajaan-kerajaan lain. Di Sumatera Barat ada Dewan Kesenian Sumatera Barat (DKSB) yang mewakili seniman dari berbagai unsur, ada MUI (ulama), ada ICMI (setidaknya membawa sebagian kelompok cadiak pandai), lebih baik lagi membawa unsur pembaru dari kelompok LSM/NGO yang juga punya wadah bersama dengan motor LBH dan Walhi' Lebih baik lagi bawa unsur wakil rakyat (DPRD prov dan kab/kota), ada unsur lembaga unsur perempuan (dari Bundo Kanduang sampai LSM perempuan). Intinya, semakin banyak pihak yang diajak duduk bersama, maka semakin MANTAP acara ko. Kenapa Gebu Minang yang punya gagasan dan niat bagus tidak memulai dengan menawarkan ide ini kepada lembaga-lembaga stake holder? Memang Gebu Minang (SC KKM) pernah 'malewakan ini', tapi dalam rangka sosialisasi KKM, bukan 'malewakan ide'. Inilah yang disebut pihak yang kritis sebagai SC KKM MAAGIAH CUBADAK MASAK. Menurut saya jika LKAAM pun mengadakan acara ini tanpa mengajak komponen lain juga akan ditolak. Padahal di mata saya LKAAM lebih berkompeten dalam menyelenggarakan Kongres Kebudayaan Minangkabau dibanding Gebu Minang. Membantu kampuang dan aneka niat baik lainnya, Kanda Zulkarnain, harus dengan 'duduak barapak'. Indak ado nan manulak. Semakin banyak nan duduak samakin rancak, bukankah 'duduak basamo balapang-lapang'? Tentu nanti akan mendatangkan kekecewaan yang berniat baik kalau ternyata malah niat baiknya ternyata ditolak dan 'dicuekin' orang. Kenapa orang Minangkabau terkenal lama rapatnya, tapi keputusannya sedikit? Kenapa orang Minangkabau dianekdoti kalau makan berkeringat, tapi bekerja tidak berkeringat? Itu karena adat Minangkabau terkenal lebih mementingkan musyawarah (ada berkali-kali musayawarah sebelum menentukan jodoh dan alek seseorang). Ada berkali-kali makan bersama (menunjukkan kebersamaan sehilir-semudik) sebelum benar-benar melakukan perkerjaan bersama. Maafkan saya Kanda Zulkarnain dan Apak-Apak jo Angku-Angku, terutama penggagad dan pelaksana KKM, kalau ada kata-kata yang kurang pada tempatnya. Ini dalam upaya mencari kekuatan kita di Ranah Minang. Wassalam, Syofiardi (40/Padang) -- . Posting yang berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini dan kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur dan Lokasi pada setiap posting - Hapus footer dan seluruh bagian tidak perlu dalam melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat e-mail baru, tidak me-reply e-mail lama dan mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali serta ingin mengubah konfigurasi/setting-an keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.
