Gadang Ota

SETELAH bersitegang urat leher dalam rentang waktu cukup lama bahkan saling 
bersahutan di ruang publik (baca media massa-red), Wali Kota Padang Fauzi Bahar 
22 Agustus lalu tiba-tiba mengakui, telah terjadi kekeliruan dalam pencatatan 
anggaran pembangunan Pasar Inpres I, II, III dan IV, yang runtuh akibat gempa 
berkekuatan 7,9 SR pada 30 September lalu. 

Saat pembahasan Kebijakan Umum Anggaran dan Plafon Penetapan Anggaran Sementara 
(KUA-PPAS) perubahan APBD Padang 2010 pada 22 Agustus, Fauzi Bahar menyebut, 
hal itu terjadi karena kesalahan stafnya yang tidak terlalu cermat, dalam 
mencatat setiap mata anggaran. Sebagai kepala daerah, Fauzi mengaku juga tidak 
teliti dalam memeriksa. Dengan kesatria, Fauzi kemudian mengucap kata maaf. 

Wakil rakyat di DPRD Padang pun luluh. Melalui ketuanya, Zulherman Dt Bagindo 
Sati, lembaga legislatif itu akhirnya bersedia pula merubah nomenklatur 
anggaran, yang semula dana pendamping jadi dana pembangunan. Tentu saja, 
kontraktor pemenang tender pembangunan --yang telah terlanjur dilakukan 
pemko--, berlega hati. Pekerjaan yang diharap --jika selesai nanti--, bisa 
dibayarkan pengguna barang. 

Sikap jantan dua lembaga ini (eksekutif dan legislatif) patut diapresiasi. Akan 
tetapi, menyimak pernyataan Koordinator Tim Pendukung Teknis Rehabilitasi dan 
Rekonstruksi Sumbar Sugimin Pranoto (POSMETRO Padang, 25 Agustus-red) --soal 
bantuan pusat yang digadang-gadang wali kota telah disetujui pusat--, ternyata 
disebutkan masih menggantung di kementrian keuangan. Parahnya lagi, dana itu 
dikatakan Sugiman masih berupa usulan. Sementara, pembahasan APBN 2011 sudah 
hampir rampung. 

Hingga disampaikannya KUA-PPAS APBD Padang 2011 oleh tim anggaran pemerintah 
daerah (TAPD) ke wakil rakyat di gedung bulek awal pekan ini, belum satupun 
pejabat berwenang di Kota Padang berani memastikan, dana pembangunan sebesar 
Rp178 miliar --yang katanya sudah disetujui Badan Nasional Penanggulangan 
Bencana (BNPB)--, telah disetujui pemerintah bersama DPR. 

Alangkah eloknya, pemerintahan daerah segera memperlihatkan bukti otentik 
kepada ribuan pedagang di Pasar Raya, bahwa uang sebagaimana telah dijanjikan, 
telah ada dan menunggu proses administrasi pengucuran saja lagi. Sehingga, 
pedagang di pasar raya tinggal memikirkan, bagaimana mencari uang sebanyak 
Rp8-12 juta, untuk bisa mendapatkan lokasi berdagang di pasar yang baru itu 
nantinya. 

Kalau pemerintah tak bisa membuktikan, bisa jadi pengakuan salah itu merupakan 
tindakan mengalah demi menggeser titik kesalahan? Sebab, jika dana pusat tak 
turun-turun, sementara dana pendamping tak bisa digunakan, tentu kemarahan 
warga tak lagi bisa dibendung. 

Sementara, kalau DPRD tetap bersikeras, dana itu tetap dengan nomenklatur 
semula yakni sebagai dana pendamping, kemarahan warga tentu akan bergeser 
kepada wakil rakyat yang terhormat ini nantinya. Mereka bakal dicap, tak 
menginginkan Pasar Raya dibangun. 

Akhir kata, prediket gadang ota, tentu akan melekat pada eksekutif dan 
legislatif seiring perjalanan sejarah, dari kota yang telah berusia 341 tahun 
ini. Wallahualam bishawab. [*]


-- 
.
Posting yang berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan di tempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini dan kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur dan Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer dan seluruh bagian tidak perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat e-mail baru, tidak me-reply e-mail lama dan 
mengganti subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin mengubah konfigurasi/setting-an 
keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.

Kirim email ke