Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh..

 

Hanyo selingan untuak ambo nan sadang baraja-raja..

Banyak maaf jikok kurang berkenan atau indak baminang-minang..

 

 

OPUNG SI SOPIR ITU..

 

By : Ritrina

 

Pagi yang cerah di salah satu gugusan pulau di wilayah Kepri. Batam sebuah
pulau yang menjelma dari tempat pembuangan kekejaman perang masa lalu
menjadi sebuah kota kecil yang sarat dengan ritme kehidupan metropolitan.
Semua bergerak serba cepat dan selalu ada kompetisi di setiap liku
sudut-sudutnya. Di perempatan itu didepan sebuah kantor polisi lalu lintas,
seperti biasanya saya dengan suami bergegas untuk bisa mencapai tempat kerja
dengan secepat-cepatnya. Di saat lampu merah sedang menyala di kecerahan
sinar matahari pagi itu, tanpa disadari mobil kami diselip  dengan kasar
dari arah belakang sehingga mobil menjadi berguncang hebat. Kulihat dari
kaca ada sebuah taxi berwarna putih telah berdempetan dengan mobil kami. Aku
yang duduk di sebelah kursi penumpang di kiri langsung spontan membuka kaca
jendela mobil untuk melihat ke arah dempetan itu, mataku secepatnya beralih
ke sang sopir yang sedang membuka kacanya juga dengan susah payah. Pak Sopir
yang berpostur sangat besar itu sepertinya beraut muka seperti saudara dari
tanah Medan sana. Waduh Opung ini kataku dalam hati. Dia berkaca mata hitam
agak lebar seperti yang biasa dipakai di era tahun 60-an di jaman Ahmad
Albar dan TanteTitik Puspa lagi jaya-jayanya. Topi putih bermotif seperti
yang biasa dipakai para buruh di tanah Mekah sana terlihat kekecilan
bertengger di atas kepala Opung yang rambutnya terlihat awut-awutan. 

 

Si Opung langsung memberi kode dengan tangannya kalo dia mau berdamai saja
dan mengarahkan tunjuknya ke kiri ke arah jalan yang ku ketahui banyak
terdapat bengkel-bengkel termasuk bengkel mobil. Melihat wajah nelangsa Si
Opung aku jadi tertegun tidak bisa mengeluarkan suara apapun. Kaca mata
hitam jadul yang dipakainya segera dilepaskannya, terlihat matanya yang
seperti orang yang sangat kaget ketika tidur kejatuhan kucing garong yang
lagi ngejar tikus. Mata Si Opung terlihat kaget dan memerah berair. Duh...
mimpi apa Si Opung ini semalam ya?, "pikirku penuh tanda tanya. Menurut
perkiraanku Si Opung berusaha keras melawan kantuknya yang menyerang ke
tubuh tambunnya itu. Atau mungkin Si Opung semalam ga bisa tidur memikirkan
baju-baju lebaran anak-anaknya, sedangkan lebaran hanya tinggal menghitung
hari. Atau anak-anak Opung udah pada besar ingin melanjutkan pendidikan ke
perguruan tinggi tapi Opungnya tidak punya biaya. Atau jangan-jangan Si
Opung hanya berlagak berpenampilan Muslim berhubung ini bulan Ramadhan trus
semalam dia habis mabuk-mabukkan..Astaghfirullah..lets go wait and see....

 

Ketika kami sudah sama-sama berhenti, kulihat Si Opung dengan susah payah
turun dari mobil yang seperti menelan tubuh tambunnya. Kacamata jadulnya
sudah dia lepas dan dia turun dari mobil dengan susah payah.
MasyaAllah...ketika Si Opung berjalan ke arah mobil kami, aku kaget dengan
baju dan celana yang dipakai Opung itu. Celana berbahan dasar murahan itu
sepertinya sudah dia pakai bertahun-tahun terlihat compang camping
disana-sini. Baju kemeja bermotif kotak-kotak hitam putih kecil-kecil
sepertinya sudah tidak sanggup menutupi badan tambunnya. Kerahnya sudah
terlihat melusuh dan beberapa jahitan sudah mulai tidak memungsikan
sebagaimana seharusnya. Kancing kemejanya hanya berfungsi dua biji saja di
dekat dadanya yang menggembung. Sandal karet yang telah menipis di
tupitnyapun juga sepertinya sudah susah untuk memungsikan diri bagi
kenyamanan kaki Opung yang melebar. Tapi Kawan... wajahnya itu..wajah Opung
yang bersahaja dan ada segurat rasa bersalah yang dalam mampu meredamkan
hati kami yang merasa dia rugikan...

 

Wajah Opung yang pastinya akan sangat ditakuti jika dia sedang emosi itu
akan terlihat seperti garong jika ia mau. Tapi sapaan Anak kepada kami
membuat hati kami luluh... Dengan sangat bertanggung jawab Opung langsung
mencari orang bengkel yang kebetulan kami berhenti di depan deretan beberapa
bengkel. Baretan putih cat mobil Opung yang tertinggal di sepanjang bodi
mobil merah marun mobil trasport jatah kantor suamiku terlihat sangat jelek.
Orang bengkel bilang tidak ada yang serius hanya perlu di hilangkan saja
jejak baretan itu. Ketika Opung diberitahu biayanya limapuluh ribu, Si
Opungpun langsung mengernyitkan kening lebih bersalah lagi. Nak..katanya,
Aku belum dapat duit sebanyak itu sepagi ini, boleh tidak nanti agak siangan
Opung kesini lagi baru Opung bayar?," katanya. Ya bolehlah kata suamiku,
nanti saja aku kesini lagi, lagian kami mau buru-buru pergi kerja. Sehabis
itupun Si Opung minta maaf dan berjanji akan kesitu lagi. Aku agak heran
dengan perdamaian yang keluar dari mulut suamiku ini, sehingga aku sedikit
bertanya-tanya.

 

Di mobil suamiku cerita, kadang geram juga dengan sebagian besar sopir taxi
ini jika kita yang salah, apalagi dari daerah X (sstt....rahasia umum).
Semua kerusakan minta diganti, terkadang yang ga masuk akalpun ternyata
dicek di bengkel juga dibetulin. Setoran selama mobil di bengkelpun minta
diganti plus dengan rokok, makan dan lain sebagainya. Misalkan setoran hanya
80 ribu pernah kawannya diminta 200 ribu sehari, benar-benar menyebalkan
kata suamiku. Yaa..itu kan sampel yang jelek dari sebuah potret kehidupan
yang bisa dipilih oleh semua orang, nah..sekarang tergantung kitanya, apa
kita pilih balas dendam yang ga jelas atau malah sebaliknya," kataku. Iya
sih.. lihat aja Opung tadi itu, jadi inget Opung yang deket rumah kita.
Kasihan juga udah tua gitupun masih harus susah payah begitu, apalagi lihat
tadi penampilannya sungguh sangat menyedihkan. Papa ga sanggup untuk kembali
kesitu mau nuntut, duit 50 ribu aja dia ga punya padahal dia punya resiko
besar di jalanan seperti ini. Akupun jadi teringat pesan Mamaku yang selalu
bilang jika kita berbuat baik atau bersedekah itu bukan hitung-hitungan
matematika. Satu tambah satu jadi dua atau satu dikurang satu jadi nol alias
impas. Tidak ada rumus disitu, apalagi Ramadhan dimana satu benih
menghasilkan 7 tangkai dan ditiap-tiapnya ada seratus biji.. Kira-kira
begitulah Mama menjelaskan ke kami dulu itu. Tapi aku tidak terpikirkan
sampai kebiji-biji dan hitungan matematika itu ketika kulihat Opung itu
keluar mobil dengan penampilan yang sungguh sangat menyedihkan itu. Dua
orang penumpang dia yang berpakaian rapi seorang Bapak yang berbatik dan
bertopi putih khas buruh di Mekah itu dan sang istri yang kurus berbaju
kurung melayu dengan jilbabnya. Aku jadi teringat Mama dan Papa sewaktu
masih usia baya semasa aku kecil dulu... Mereka berduapun terlihat sangat
cemas dengan nasib si Opung yang jelas-jelas bersalah. Belum lagi pandangan
orang-orang di kanan kiri belakang mobil kami tadi seperti Hakim yang
menjatuhkan vonis mati ke Si Opung ini.

 

Kawan... kuteringat sebuah kalimat yang sangat sering di ulang-ulang oleh
seniorku dulu ketika ku aktif di sebuah Organisasi Mahasiswa di Padang sana.
Kira-kira begini :

YAKINLAH.......  HIDUP INI PILIHAN KAWAN.... TIDAK MEMILIHPUN ADALAH SUATU
PILIHAN.........

Selamat menikmati makna hidup kawan.......dan......

Selamat berpuasa dan menjelang detik-detik berakhirnya Ramadhan ini...

 

Batam, 31 Agustus 2010

 

Wassalam

Rina, 33, batam

-- 
.
Posting yang berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan di tempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini dan kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur dan Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer dan seluruh bagian tidak perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat e-mail baru, tidak me-reply e-mail lama dan 
mengganti subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin mengubah konfigurasi/setting-an 
keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.

Kirim email ke