Buat Rina di Batam Tulisannya bagus, keep writing Saya tampilkan cuplikan tulisan dari Buku saya untuk mendampingi tulisan Rina pada bulan puasa ini. Dasriel
--- Pada Sen, 30/8/10, rinapermadi <[email protected]> menulis: Dari: rinapermadi <[email protected]> Judul: [...@ntau-net] OPUNG Kepada: [email protected] Tanggal: Senin, 30 Agustus, 2010, 11:07 PM Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh.. Hanyo selingan untuak ambo nan sadang baraja-raja.. Banyak maaf jikok kurang berkenan atau indak baminang-minang.. OPUNG SI SOPIR ITU.. By : Ritrina Pagi yang cerah di salah satu gugusan pulau di wilayah Kepri. Batam sebuah pulau yang menjelma dari tempat pembuangan kekejaman perang masa lalu menjadi sebuah kota kecil yang sarat dengan ritme kehidupan metropolitan. Semua bergerak serba cepat dan selalu ada kompetisi di setiap liku sudut-sudutnya. Di perempatan itu didepan sebuah kantor polisi lalu lintas, seperti biasanya saya dengan suami bergegas untuk bisa mencapai tempat kerja dengan secepat-cepatnya. Di saat lampu merah sedang menyala di kecerahan sinar matahari pagi itu, tanpa disadari mobil kami diselip dengan kasar dari arah belakang sehingga mobil menjadi berguncang hebat. Kulihat dari kaca ada sebuah taxi berwarna putih telah berdempetan dengan mobil kami. Aku yang duduk di sebelah kursi penumpang di kiri langsung spontan membuka kaca jendela mobil untuk melihat ke arah dempetan itu, mataku secepatnya beralih ke sang sopir yang sedang membuka kacanya juga dengan susah payah. Pak Sopir yang berpostur sangat besar itu sepertinya beraut muka seperti saudara dari tanah Medan sana. Waduh Opung ini kataku dalam hati. Dia berkaca mata hitam agak lebar seperti yang biasa dipakai di era tahun 60-an di jaman Ahmad Albar dan TanteTitik Puspa lagi jaya-jayanya. Topi putih bermotif seperti yang biasa dipakai para buruh di tanah Mekah sana terlihat kekecilan bertengger di atas kepala Opung yang rambutnya terlihat awut-awutan. Si Opung langsung memberi kode dengan tangannya kalo dia mau berdamai saja dan mengarahkan tunjuknya ke kiri ke arah jalan yang ku ketahui banyak terdapat bengkel-bengkel termasuk bengkel mobil. Melihat wajah nelangsa Si Opung aku jadi tertegun tidak bisa mengeluarkan suara apapun. Kaca mata hitam jadul yang dipakainya segera dilepaskannya, terlihat matanya yang seperti orang yang sangat kaget ketika tidur kejatuhan kucing garong yang lagi ngejar tikus. Mata Si Opung terlihat kaget dan memerah berair. Duh... mimpi apa Si Opung ini semalam ya?, "pikirku penuh tanda tanya. Menurut perkiraanku Si Opung berusaha keras melawan kantuknya yang menyerang ke tubuh tambunnya itu. Atau mungkin Si Opung semalam ga bisa tidur memikirkan baju-baju lebaran anak-anaknya, sedangkan lebaran hanya tinggal menghitung hari. Atau anak-anak Opung udah pada besar ingin melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi tapi Opungnya tidak punya biaya. Atau jangan-jangan Si Opung hanya berlagak berpenampilan Muslim berhubung ini bulan Ramadhan trus semalam dia habis mabuk-mabukkan..Astaghfirullah..lets go wait and see.... Ketika kami sudah sama-sama berhenti, kulihat Si Opung dengan susah payah turun dari mobil yang seperti menelan tubuh tambunnya. Kacamata jadulnya sudah dia lepas dan dia turun dari mobil dengan susah payah. MasyaAllah...ketika Si Opung berjalan ke arah mobil kami, aku kaget dengan baju dan celana yang dipakai Opung itu. Celana berbahan dasar murahan itu sepertinya sudah dia pakai bertahun-tahun terlihat compang camping disana-sini. Baju kemeja bermotif kotak-kotak hitam putih kecil-kecil sepertinya sudah tidak sanggup menutupi badan tambunnya. Kerahnya sudah terlihat melusuh dan beberapa jahitan sudah mulai tidak memungsikan sebagaimana seharusnya. Kancing kemejanya hanya berfungsi dua biji saja di dekat dadanya yang menggembung. Sandal karet yang telah menipis di tupitnyapun juga sepertinya sudah susah untuk memungsikan diri bagi kenyamanan kaki Opung yang melebar. Tapi Kawan... wajahnya itu..wajah Opung yang bersahaja dan ada segurat rasa bersalah yang dalam mampu meredamkan hati kami yang merasa dia rugikan... Wajah Opung yang pastinya akan sangat ditakuti jika dia sedang emosi itu akan terlihat seperti garong jika ia mau. Tapi sapaan Anak kepada kami membuat hati kami luluh... Dengan sangat bertanggung jawab Opung langsung mencari orang bengkel yang kebetulan kami berhenti di depan deretan beberapa bengkel. Baretan putih cat mobil Opung yang tertinggal di sepanjang bodi mobil merah marun mobil trasport jatah kantor suamiku terlihat sangat jelek. Orang bengkel bilang tidak ada yang serius hanya perlu di hilangkan saja jejak baretan itu. Ketika Opung diberitahu biayanya limapuluh ribu, Si Opungpun langsung mengernyitkan kening lebih bersalah lagi. Nak..katanya, Aku belum dapat duit sebanyak itu sepagi ini, boleh tidak nanti agak siangan Opung kesini lagi baru Opung bayar?," katanya. Ya bolehlah kata suamiku, nanti saja aku kesini lagi, lagian kami mau buru-buru pergi kerja. Sehabis itupun Si Opung minta maaf dan berjanji akan kesitu lagi. Aku agak heran dengan perdamaian yang keluar dari mulut suamiku ini, sehingga aku sedikit bertanya-tanya. Di mobil suamiku cerita, kadang geram juga dengan sebagian besar sopir taxi ini jika kita yang salah, apalagi dari daerah X (sstt....rahasia umum). Semua kerusakan minta diganti, terkadang yang ga masuk akalpun ternyata dicek di bengkel juga dibetulin. Setoran selama mobil di bengkelpun minta diganti plus dengan rokok, makan dan lain sebagainya. Misalkan setoran hanya 80 ribu pernah kawannya diminta 200 ribu sehari, benar-benar menyebalkan kata suamiku. Yaa..itu kan sampel yang jelek dari sebuah potret kehidupan yang bisa dipilih oleh semua orang, nah..sekarang tergantung kitanya, apa kita pilih balas dendam yang ga jelas atau malah sebaliknya," kataku. Iya sih.. lihat aja Opung tadi itu, jadi inget Opung yang deket rumah kita. Kasihan juga udah tua gitupun masih harus susah payah begitu, apalagi lihat tadi penampilannya sungguh sangat menyedihkan. Papa ga sanggup untuk kembali kesitu mau nuntut, duit 50 ribu aja dia ga punya padahal dia punya resiko besar di jalanan seperti ini. Akupun jadi teringat pesan Mamaku yang selalu bilang jika kita berbuat baik atau bersedekah itu bukan hitung-hitungan matematika. Satu tambah satu jadi dua atau satu dikurang satu jadi nol alias impas. Tidak ada rumus disitu, apalagi Ramadhan dimana satu benih menghasilkan 7 tangkai dan ditiap-tiapnya ada seratus biji.. Kira-kira begitulah Mama menjelaskan ke kami dulu itu. Tapi aku tidak terpikirkan sampai kebiji-biji dan hitungan matematika itu ketika kulihat Opung itu keluar mobil dengan penampilan yang sungguh sangat menyedihkan itu. Dua orang penumpang dia yang berpakaian rapi seorang Bapak yang berbatik dan bertopi putih khas buruh di Mekah itu dan sang istri yang kurus berbaju kurung melayu dengan jilbabnya. Aku jadi teringat Mama dan Papa sewaktu masih usia baya semasa aku kecil dulu... Mereka berduapun terlihat sangat cemas dengan nasib si Opung yang jelas-jelas bersalah. Belum lagi pandangan orang-orang di kanan kiri belakang mobil kami tadi seperti Hakim yang menjatuhkan vonis mati ke Si Opung ini. Kawan... kuteringat sebuah kalimat yang sangat sering di ulang-ulang oleh seniorku dulu ketika ku aktif di sebuah Organisasi Mahasiswa di Padang sana. Kira-kira begini : YAKINLAH....... HIDUP INI PILIHAN KAWAN.... TIDAK MEMILIHPUN ADALAH SUATU PILIHAN......... Selamat menikmati makna hidup kawan.......dan...... Selamat berpuasa dan menjelang detik-detik berakhirnya Ramadhan ini... Batam, 31 Agustus 2010 Wassalam Rina, 33, batam -- . Posting yang berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini dan kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur dan Lokasi pada setiap posting - Hapus footer dan seluruh bagian tidak perlu dalam melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat e-mail baru, tidak me-reply e-mail lama dan mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali serta ingin mengubah konfigurasi/setting-an keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe. -- . Posting yang berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini dan kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur dan Lokasi pada setiap posting - Hapus footer dan seluruh bagian tidak perlu dalam melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat e-mail baru, tidak me-reply e-mail lama dan mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali serta ingin mengubah konfigurasi/setting-an keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.
mutiara.docx
Description: application/vnd.openxmlformats-officedocument.wordprocessingml.document
