Metro Siang / Nusantara / Selasa, 31 Agustus 2010 12:00 WIB
Metrotvnews.com, Pasaman Barat: Puluhan ibu-ibu mendatangi Markas Kepolisian 
Resor Pasaman Barat, Sumatra Barat, baru-baru ini. Mereka meminta belas kasihan 
Kepala Polres Pasaman Barat agar membebaskan tiga kaum bapak yang ditahan 
polisi 
sejak beberapa waktu silam. Ketiga warga itu ditahan terkait sengketa tanah.

Semula puluhan ibu-ibu itu menjalankan aksi mereka dengan lancar. Mereka 
meminta 
Polres Pasaman Barat berbesar hati membebaskan 3 warga Ayia Gadang, Pasaman 
Barat, yang ditahan karena dituduh menyerobot lahan milik salah satu perusahaan 
kelapa sawit.

Unjuk rasa berubah menjadi hujan tangis saat permohonan kaum ibu tersebut 
ditolak polisi. Bahkan 2 orang ibu pingsan. Mereka tak kuasa menahan rasa sedih.

Menurut Suryani, salah satu warga Ayia Gadang, lahan yang mereka garap selama 
ini sebenarnya lahan kosong. Sebelumnya lahan tersebut adalah tanah ulayat yang 
diserahkan kepada sebuah perusahaan untuk dikelola, dan warga mendapatkan 
plasma 
sebagai imbalannya. Namun kenyataannya lahan tersebut ditinggalkan, sehingga 
akhirnya dikelola sendiri oleh warga. Sedangkan, menurut polisi, tanah yang 
digarap warga masih menjadi hak guna usaha PT Anam Koto, sehingga warga 
dilarang 
berladang di tanah tersebut.(DSY)

31/08/2010 11:49
Liputan6.com, Pasaman Barat: Puluhan ibu-ibu petani warga Ai Gadang di Pasaman 
Barat, Sumatera Barat, Selasa (31/8) pagi, berunjuk rasa di depan kantor polisi 
setempat. 

Aksi tersebut dilakukan untuk memohon pembebasan ketiga orang suami dan anak 
mereka yang ditahan karena dituduh telah menyerobot lahan perkebunan sawit 
milik 
PT Anam Koto. Menurut warga, perkebunan tersebut merupakan tanah ulayat mereka.

Menurut pihak kepolisian tanah, seluas 2.000 hektare yang ditanami warga 
tersebut masih menjadi hak guna usaha (HGU) PT Anam Koto dan warga tidak berhak 
berladang di lahan tersebut.

Aksi yang awalnya tertib ini berakhir dengan isak tangis dan histeria para 
ibu-ibu, bahkan ada pula yang pingsan karena tak kuat menahan emosi. Pasalnya, 
aksi mereka tidak ditanggapi baik oleh pihak kepolisian, bahkan mereka disuruh 
menjauh dari kantor polisi tersebut. Setelah aksi ricuh baru pihak kepolisian 
mau mempertemukan mereka dengan Kapolres.
Usai bertemu Kapolres, warga kemudian membubarkan diri. Mereka mengancam bila 
dalam waktu beberapa hari tuntutannya tidak dipenuhi, mereka akan melakukan 

aksi serupa. (APY/YUS)

-- 
.
Posting yang berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan di tempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini dan kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur dan Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer dan seluruh bagian tidak perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat e-mail baru, tidak me-reply e-mail lama dan 
mengganti subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin mengubah konfigurasi/setting-an 
keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.

Kirim email ke