JET LAG - KORMA NABI - BULAN - PULKAM - KAMPIUN

JET LAG, kondisi ini sering menghampiri setiap saya turun pesawat.
Syukurlah saya tidak menjadi trauma, apalagi saya juga bukan seorang
CEO yang mengharuskan saya terbang setiap saat. Dalam salah satu buku
yang pernah saya baca, tapi lupa judulnya, tertulis bahwa JET LAG
salah satunya dipengaruhi oleh arah rotasi bumi. Karena itu menurut
buku tersebut, untuk mengurangi kemungkinan diserang jet lag,
(walaupun tidak total menghilangkan bagi orang yang sering
menderitanya), adalah dengan mensiasati arah kita terbang. Jadi jika
kita terbang dari arah barat menuju timur, maka disarankan lebih
banyak tidur selama dalam penerbangan. Sebaliknya jika kita terbang
dari arah timur ke arat, usahakan lebih banyak terjaga alias tidurnya
usahakan sesedikit mungkin.

Walaupun saya belum menemukan bukti literatur tentang hal ini secara
ilmiah, saya sering mencoba mempraktekkannya ketika ada kesempatan
untuk suatu penerbangan. Minimal membantu saya secara psikologis,
walaupun mungkin bersifat sugesti belaka.

Sadar diri dengan kelemahan pribadi itulah, sejak awal menaiki burung
besi di Rajiv Gandhi Airport - Hyderabad minggu pagi yang lalu, saya
langsung berencana tidur nyenyak selama di udara. Rencana yang
ternyata tinggal rencana, karena sejak awak take off, pesawat langsung
berada di kepungan awan, sehingga terhempas ke sana kemari, membuat
semua penumpang senatiasa waspada. Dalam hati saya juga hanya bisa
berserah diri terhadap Allah yang Rabbi.

Begitu roda pesawat merapat di KLIA minggu menjelang sore, bersama
teman-teman dari Penang dan Selangor, kami menggelar rapat-rapat
mancit sambil menunggu waktu berbuka. Pilihannya adalah sebuah buffet
mini yang menyediakan menu 'nasi lemak spesial'. Agak menggelitik juga
ketika karyawan restorannya cuma tersenyum simpul saat saya tanya
spesialnya yang bagian mana..  :)

Tanpa tahu waktu berbuka yang tepat, membuat kami memesan makanan
lebih cepat satu jam dari seharusnya. Jadilah kami semua lama
memanto-mantokan apa yang ada di atas meja menunggu isyarat shaum
berakhir. Kejadian yang mungkin menimbulkan rasa iba orang sekitar
yang melihatnya. Secara tak disangka, orang yang duduk di deretan
bangku sebelah kami tiba-tiba bangkit berdiri. Sambil tersenyum
bersahabat, mereka menawarkan Korma Nabi yang baru mereka bawa dari
Medinah, dan mengajak kami mencicipinya bersama.

Olala... Alhamdulillah... ini mah namanya rezeki yang tak disangka-sangka Euy...
Berbukalah kami dengan korma nabi yang begitu manis dan lezat, sambil
sedikit galak nabi mengingat keberuntungan yang menghampiri.

Waktu terus menggeliat..., dan apa boleh buat..., delay pesawat,
kumpul dengan sahabat, silaturrahmi dengan jabat erat, membuat
penerbangan lanjutan saya ke Jakarta menjadi telat...

Ternyata semua itu lagi-lagi ada hikmah dibaliknya. Pengalaman unik
kembali saya alami. Terbang di bawah terangnya sinar rembulan membuat
saya dan teman-teman betul-betul menikmati suasana penerbangan. Cahaya
bulan yang terang menembus jendela kaca pesawat di samping saya
membuat saya benar-benar terpesona, pemandangan ke bawah di tengah
malam itu demikian jelas dan indah, membuat kita takjub akan kebesaran
sang Pencipta.

Perasaan bahagia dan haru juga menyelimuti diri saya karena kembali
bertemu dengan ibunda tercinta. Sudah dua minggu lebih beliau saya
titipkan kepada kakak-kakak dan adik-adik di Jakarta, hanya karena
saya ada tugas ke India. Tangan kiri beliau yang patah dengan balutan
gips ketika saya tinggalkan di awal puasa, sudah mulai berangsur bisa
digerakkan. Keceriaan beliau ketika pagi harinya kembali kumandikan
dengan penuh sayang, juga membuat saya begitu senang.

Ibu tak berhenti tersenyum sambil berkata, "Asyik, besok kita kembali
pulang, Ibu ingin segera Shalat Tarawih di Mushala Kukuban", dan saya
mengangguk mengiyakan. Sebenarnya Ibu adalah orang yang ceria, dan
selalu tak bisa diam atau berhenti bekerja. Saya sedikit termangu
ketika mendengar beliau berkata kepada tetangga, bahwa saya terpaksa
pulang cepat hanya karena dia. Tidak Bu, saya tidak pernah merasa
terpaksa kalau itu demi Ibu. Ibu merasa bersalah karena jadwal saya
berantakan..., padahal saya memangkas sebagian kegiatan saya tanpa ada
rasa beban. Ibu merasa bersalah dan sayang karena tiket pesawat saya
banyak yang hangus tak digunakan, sehingga saya yakinkan bahwa itu
bukanlah masalah yang harus dipikirkan.

Hari ini ibu kelihatan begitu riang, maklum dia sudah kembali berada
di rumah kesayangannya di Kukuban. Tak heran kebiasaannya kembali
bertandang. Sambil menggoda Ibu pun bilang: "Biarpun mandi Ibu
dimandikan, makan kadang disuapkan, pakai baju kalian yang pasangkan,
itu kan karena tangan Ibu sedang ndak berperan. Kalau mau pacu
jalan... Ibu belum tentu kalahkan...?"  hehehe... Ibu... Ibu. Ingat
ndak garah-garah Almarhum Bapak dulu... Kareh kapalo kalian turunnya
dari siapa. hayo...!!!.

Saya pun terpaksa kembali sedikit rewel dan nyinyir melihat Ibu sudah
kembali sibuk ma awai ini dan itu, padahal tangan kirinya masih dalam
balutan dan dipangku sayang. Isirahatlah Bu, biar saya yang bekerja
membereskan rumah yang memang berantakan karena sudah 2 minggu lebih
kita tinggalkan.

Oh iya... Kalau Ibu ingin berbuka dengan cindua pandan atau cindua
sagu, mungkin saya masih punya waktu untuk memasaknya dulu. Tadi gulai
kacang panjang yang ibu tanyakan juga sudah sempat saya siapkan.
Tinggal kita panaskan lagi ketika menjelang makan.

Tapi tadi di pakan juga kebetulan saya sempatkan mambali kampiun
kesenangan Ibu. Maaf, saya memang membeli kampiun yang sudah matang
saja dulu ya Bu, takut nanti memasaknya tak keburu.

Salamaik manunggu babuko...

Wassalam,

Maninjau, 1 September 2010.


Rita D. Lukman

-- 
.
Posting yang berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan di tempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini dan kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur dan Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer dan seluruh bagian tidak perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat e-mail baru, tidak me-reply e-mail lama dan 
mengganti subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin mengubah konfigurasi/setting-an 
keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.

<<attachment: Kampiun.jpg>>

Kirim email ke