Assalamualaikum ww Sanak Ryan di Ipoh nan dirahmati Allah Suai ambo tu sanak Ryan, bukankah ulama itu waratsatul anbiyaa sang pewaris para nabi, tentu saja sepanjang ulama tersebut masih berpegang teguh jo Alquran dan Sunnah Rasulullah aratinyo ulama tersebut “PAS” dalam memahami dan menafsirkan ayat2 Alquran dan indak ber-main2 dengan hadist2 lemah Yang kita khawatirkan kalaulah ulama tersebut dalam memahami ayat2 Alquran lepas kendali sehingga ulama tersebut menurut Allah dalam surat Ali Imran ayat 7 sebagai Zaighun atau orang2 yang hatinya cendrung pada kesesatan, yaitu mereka2 yang memahami ayat2 Alquran yang bisa multitafsir (samara), dimana ayat2 yang multitafsir itu di-olah fakir atau direkayasa alias dikutak katik sedemikian rupa sesuai selera atau fikiran dan perasaannya, dari sinilah awalnya ulama tersebut jadi sesat dan menyesatkan orang banyak makanya tidak heran yang akan duluan masuk neraka adalah ulama2 sekaliber ini karena tidak sedikit orang yang telah turut jadi sesat oleh jalan fikirannya itu
Itu baru soal ayat, ada pula ulama2 yang getol main2 dengan hadis, jangankan hadis dhoif sedangkan hadis shohih aja dikutak katiknya juga, lalu membentuk kelompok/sekte tertentu atau aliran atau apalah namanya, inilah membuat Islam jadi warna warni apalagi jadi 73 golongan pada hal Islam itu kan cuma satu dari dulu Bisa jadi ulama itu semasa hidupnya tidak ada niat membuat kelompok tetapi setelah dia wafat ada saja murid atau pengikut atau pengaggumnya membuat kelompok dengan menisbahkan nama ulama tersebut, contoh yang bukan aliran agamo dinagari awak ado pulo sasudah Bung Karno wafat istilah Sukarnoisme Setelah Rasulullah SAW wafat, hanya para sahabat beliau yang dapat kita pedomani sesudah itu para tabi’in dan satu generasi sesudah itu, lalu bagaimana dengan ulama2 terkemudian apa lagi setelah ratusan tahun munculnya, tentu harus kita cermati dong, selagi tidak melenceng dari Sunnah Rasulullah, it is ok2 saja namun kalau udah lain dari itu yaa di-delete aja deh, tidak peduli apakah dia professor, doktor, shekh, kiyai, shuffi, mursyid, buya, wali(yullah), kalipah, tuangku, guru, malin, imam, katik, labai, bilai dan tukang doa atau apapun predikat yang disandangya Meng-kagumi seorang ulama yaa sah2 saja asal tidak melebihi kegaguman kita terhadap Rasulullah dan para sahabat, kan kurang etis kalau kita lebih memanuti shekh ini shekh itu, kiyai kiyai itu, mursyid ini mursyid itu Kok urang kampuang ambo labiah parah lo lai, dipuja bana ungku saliah seolah2 labiah santiang lo ungku saliah dari Rasulullah bahkan pandai tabang pandai mangirok, pai ka Makkah baliak hari dalam satangah hari, sumbayang jumaik di tigo musajik sakaligus bahkan ado nan manyabuik “sabalun puaso pai juo awak nyeh batobaik ka (kuburan) ungku saliah, gile nggak tuh! Bagaimana dengan Imam Alghazali? Pada awalnya Alghazali muda telah mendalami ilmu2 ushuluddin, mantiq, usual fiqih bahkan filsafat, beliau juga mendalami pendapat Imam Empat Mahzab, beliaupun telah bertandang menggali ilmu Imam2 Makkah, Madinah dan Mesir hingga dengan ketinggian ilmunya itu beliau dipercaya sebagai mahaguru (professor) di madrasah (universitas) Nizhamiyah Baghdad bahkan kemudian beliau diangkat sebagai Naib Kanselor Terlepas dari kekaguman kita terhadap beliau, yaa sama aja juga harus teliti terlebih Imam Alghazali sendiri juga mengakui bahwa dia sendiri tidak begitu menguasai hadist, ini terlihat dalam olah fikirnya beliau banyak menuangkan beberapa hadist2 dhoif dalam buku2nya, bahkan dalam perjalanan sipiritualnya beliau tergelincir terutama setelah memasuki dunia tasauf (ke-sufi-an) Banyak kok peneliti yang menerawangi pemikran Alghazali diantaranya adalah Imam Aas Shubuki dalam kitabnya Thabqat Asy Syafi’iyah menemukan 943 hadist yang tidak jelas sanad-nya dalam kitab Alghazali Shekh DR Abdurrahman bin Shalih Ali Mahmud yang meneliti pemikiran Alghazali mengatakan bahwa TASAUF Alghazali banyak dilandasi oleh filsafat Isyraqi yaitu mahzab Isyraqi yang mengawinkan pemikiran ajaran agama2 kuno Yunani dan Parsi dengan filsafat Yunani kuno dan Neo Platonisme Ibnu Taimiyah mengatakan bahwa Alghazali memasukan filsafat asing pada hal filsafat itu tidak bisa dijadikan patokan sebagai ilmu dan keyakinan, dan masih banyak kok –para ahli yang telah meneliti pemikiran Imam yang legendaris ini Syukurlah akhirnya Imam Alghazali menyadari kesalahan2nya dan akhirnya menjelang akhir hayatnya beliau bertobat dan kembali kepangkuan Islam dengan menyibuk-kan diri meneliti dan menekuni shahih Bukhari dan Muslim “sepasang pendekar dengan pedang terhunus menghadapi hujjah para ahli bid’ah wasalam abp58 ________________________________ Dari: Ryan Firdaus <[email protected]> Kepada: [email protected] Terkirim: Kam, 2 September, 2010 12:18:36 Judul: Re: Bls: [...@ntau-net] Bicara Minangkabau tak Terlepas ... assalamualaikum wr.wb pak Arman Bahar nan di hormati, satolo kamanakan maningkah stek tulipsan apak ko, bukan berang do hanyo sekadar batanyo atau saketek mangaluakan pandapek..mudah2an ado berkat nyo Di paragraf nan ka sapuluah,"Tharekat dan suffysme bukan ajaran islam..dst..walaupun sacaro sistematik nyo lahia ratusan tahun setelah zaman Rasulullah, tapi ulama nan mempopularkannyo bukan mengahasilkan pemikiran sendiri..tapi berdasarkan percontohan amalan dari para sahabat yg banyak...semisalnya Imam Al Ghazali, walaupun indak khatam keseluruhan buku nan di tulihnyo, banyak manfaat nan bisa di cungkil kalau bisa beramal, bahkan walau berdasarkan kitab yg paling rendah...Penawar Bagi Hati (terjemahan).... Tapikia lo dek kamanakan, kalau ulama nan ratusan tahun sesudah zaman Rasulullah ndak bisa dijadikan panduan, ba'a lo kito bisa fanatik jo ulama nan muncul dan popular setelah ribuan tahun??..ngaku atau tidak, kito2 sabananyo fanatik dengan tafsiran ulamak2 kebelakangan yang membahas hadist Shahih bukhari dan Muslim sajo, atau yang Muktabar sajo...tapi kalau ikhlas, dalam ibadah Sholat kito sajo cubo nilai sendiri sagalo rukun, perbuatan ataupun bacaan..buliah ndak di hadirkan dalil yng hanya berasal dari nash yg Qat'i??? itu sen dulu pak..kok ado nan ndak setuju, silakan, sebab ilmu agamo ko sabana luas dan dalam...bukan sedalam nan kito tau sajo...itupun lah banyak nan hilang kutiko tantara Mongol menguasai Iraq jaman doeole, sahingggo hitam sungai Tigris dek tinta buku2 nyo.. wallahu a'lam ryan 43 Ipoh ________________________________ From: Arman Bahar <[email protected]> To: [email protected] Sent: Thu, September 2, 2010 9:29:45 AM Subject: Bls: [...@ntau-net] Bicara Minangkabau tak Terlepas ... Assalamualaikum ww Sabano go eh, kaji tantang nan ampek go akan banyak kito tamui dalam lingkungan kebatian di nagari awak Minangkabau bahkan kito tamukan juo dimasyarakat lain dinusantara ko bahkan dunia ko bagai mah Apokah kaji ko datang dari Islam? -- . Posting yang berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini dan kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur dan Lokasi pada setiap posting - Hapus footer dan seluruh bagian tidak perlu dalam melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat e-mail baru, tidak me-reply e-mail lama dan mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali serta ingin mengubah konfigurasi/setting-an keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.
