(bagian kedua dari dua tulisan)

Hasratku kepada Sang Kekasih telah membawaku terbang melintasi samudera ilmu 
dan keluasan Al Quran. Aku menjadi mabuk

Kutelusuri bentangan sajadah dan masjid dengan segenap hasrat dan kekhusukan. 
Kukenakan pakaian pertapa untuk untuk memperkaya kebajikan

Cinta menghampiriku, dan berkata, "Wahai Sang Guru, lepaskanlah dirimu dari 
sajadah? Tidakkah kah ingin hatimu tergetar dihadapan-Ku. tidak kah kau ingin 
melampaui pengetahuan dan penglihatan? Maka tundukkanlah kepalamu.   

(Dari kumpulan Diwan,  Maulana Rumi)

Puisi-pusi cinta parenial Sufi besar Maulana Jalaluddin Muhammad Rumiyang indah 
dan bergelora, seperti ditulis Charles Haviland (BBC News, 30/09/2007), dalam 
beberapa tahun terakhir ini merupakan  "the most popular poet in America".   

Sejak akhir milenium ke-2 ini, memang terdapat kecenderungan untuk 
menggandrungi penyair sekaligus sufi abad ke-13, Maulana Jalaluddin Rumi---yang 
ulang tahun kelahirannya ke 800 diperingati di berbagai tempat di dunia pada 
tanggal 30 September 2007 yang lalu--- menjadi fenomena menarik di Amerika 
Serikat dan Eropa. Tak kurang bintang-bintang Hollywood semisal: pop-star 
Madonna, aktris Demi Moore, dan Goldie Hawn, pernah ikut meramaikan beberapa 
festival pembacaan syair-syair cinta ciptaan pujangga dari Konya di Turki ini.

Dia seorang penyair. Tapi bukan sembarang penyair. Senjatanya, tentu saja, 
adalah susunan kata-kata

Karya-karya terhimpun dalam Matsnawi, berupa 250 ribu untaian bait bersajak dan 
merupakan karyanya yang paling agung;  Muqallat Syamsi Tabriz, berisi 
dialog-diolog mistik antara Syamsi selaku mentor dan Rumi sebagai murid;  
Majlis Sabah, berisi catatan dan rekaman pidato-pidato dan konseling Rumi dalam 
bentuk prosa; Diwan Syamsi Tabriz, karya yang memukau yang dipersembahkan Rumi 
untuk guru tercinta; Fihi Ma Fihi, berisi ucapan-ucapan dan percakapan Rumi 
dalam bentuk prosa yang ditulis oleh putra tertuanya Sultan Walad; Rubayat, 
berisi sekitar 1.600 kuatrain dengan topik yang luas: iman, akal, cinta, 
ikhlas, tawakal dan lain-lain, dan; Maktubat, kumpulan surat-surat yang banyak 
ditujukan kepada para bangsawan dan pangeran di Konya.  

Kesemarakan pesona sastrawan yang lahir di Balkh, yang sekarang merupakan 
bagian dari  Afganistan  ini juga dapat dijumpai di Amazon.com. Kita bisa 
terheran-heran ketika, hanya dalam hitungan bulan, didapati lebih dari 100 
judul buku tentang Rumi di toko buku online terbesar itu

Jalaludin Rumi memang  pesona yang menaklukkan.
Menurut Phyllis Tickle, redaktur majalah Publisher's Weekily, popularitas Rumi 
di Amerika berkembang pesat "berkaitan dengan dahaga spiritual kami yang luar 
biasa".
Satu asumsi menyebutkan bahwa interes yang begitu besar terhadap Rumi merupakan 
wujud keinginan masyarakat Barat untuk menemukan lifestyle alternatif sebagai 
ganti dari gerakan New Age yang sudah saturated. Masyarakat Amerika dan Eropa, 
seperti laporan BBC.com(12/7/99), dalam beberapa tahun terakhir ini mulai muak 
dengan guru-guru New Age dan khotbah-khotbahnya (Burhani, Kompas 4 September 
2000).

Tetapi tentu saja, sebagian pengagum Rumi hanya menginginkan hidup mereka punya 
cukup arti  tanpa harus melakukan apa pun untuk meraih hidup yang punya arti 
tersebut. Mereka menginginkan cinta dan keindahan tanpa menjalankan sesuatu 
beserta tanggung jawabnya. Sebagian tertarik pada Tasawuf, Islam, atau kembali 
kepada akar Kristennya, karena Rumi adalah panggilan untuk kembali kepada Tuhan.

Tarekat Maulawiyah yang mengikuti jalan Rumi, yang bermarkas di Amerika Utara 
merupakan ordo tasauf yang berkembang pesat di Barat. Tarekat ini dipimpin oleh 
Shaikh Kabir Helminski yang bersama isterinya Cammile Helminski  membentuk 
organisasi dalam pelajaran spritual The Treshold Society yang menyedot 
perhatian ratusan ribu orang.

Di Amerika, selain menjadi bagian dari gerakan memotivasi diri sendiri yang 
mendominasi budaya sepanjang dasawarsa terakhir, Rumi ikut membantu mewujudkan 
jembatan untuk saling memahami di antara warga keturunan Arab dan tetangga 
mereka yang kebetulan membaca Rumi. "Melalui Rumi, warga muslim merasa telah 
diterima kembali di Amerika," kata Shahram Shiva, yang bertahun-tahun 
menerjemahkan dan membacakan karya-karya Rumi.

Sejak serangan 11 September 2001, sejumlah komentator juga telah menyatakan 
bahwa Rumi berperan sebagai jembatan yang penting antara warga Amerika dan 
Islam. Banyak yang setuju dengan Hans Meinke, penyair Jerman, yang mengatakan 
bahwa puisi Rumi adalah "harapan satu-satunya bagi zaman gelap yang kini kita 
hidup di dalamnya"

Barat pun semakin paham, bahwa Islam adalah ajaran yang indah, yang sama sekali 
tidak identik dengan Taliban atau Al-Qaedah, yang hanya mengamalkan secara 
rigid kulit-kulit Islam, bukan isinya.

Cinta adalah sifat Tuhan, dan takut adalah sifat hamba yang menderita karena 
nafsu dan kerakusan

Karena kau telah membaca Al Quran bahwa mereka mencintai-Nya, ditempatkan dalam 
satu ayat dengan Dia mencintai mereka.

Ketahuilah bahwa Ar-Rahman Ar-Rahim adalah Sifat-Sifat Tuhan, dan takut oh 
kawan, bukan Sifat Tuhan!

(Matsnawi)

Tetapi apakah Tasawuf itu? apakah Tasawuf hanya sebuah gejala agama, atau 
sebuah antitesis dari syariah yang oleh para Ulama Tasawuf sering dikategorikan 
sebagai "kulit" Islam?

Dalam buku kecilnya  "The Sufi Path of Knowledge", pakar pakar Tasawuf yang 
juga merupakan pakar mengenai Rumi yang sangat terkemuka Prof William C. 
Chittick  mengutip sebuah hadis Nabi s.a.w. yang masyhur tentang tiga dimensi 
Islam: Islam, Iman dan Ikhsan. Dalam ilmu-ilmu keislaman, Islam berkembang 
menjadi Ilmu Fikih, Iman menjadi  Ilmu Kalam  dan Ikhsan menjadi Ilmu Tasawuf, 
dan berbicara mengenai Tasawuf, adalah berbicara tentang tujuan atau hakekat 
dari agama, agama yang tidak behenti pada syariat,  sebagaimana ternukil dari 
Sabda Al Mustafa Rasulullah s.a.w yang dikutip Chittick dalam bukunya yang 
terkenal mengenai Rumi,  The Sufi Path of Love: Spritual Teaching of Rumi"  
(1983):

"Syriah adalah kata-kataku, Thariqah adalah amalanku,  Hakikat adalah maqamku". 

yang oleh Rumi dijabarkan dalam puisinya sebagai berikut   

Syariat sebagai pelita, ia menerangi jalan. Tanpa pelita kalian tak dapat 
berjalan. Ketika sedang menapaki jalan, kalian sedang menempuh Thariqat, dan 
ketika   

Dengan mengutip QS 33:21: "Sesungguhnya dalam diri Nabi terdapat teladan yang 
baik,  dst…" dan QS 3:31: "Katakanlah (wahai Muhammad)!, `jika kalian mencintai 
Tuhan,  ikutilah (sunah)ku, maka Tuhan akan mencintai kalian, dst…", "Untuk 
menapaki jalan Sufi, berarti harus menaati perintah dan larangan Tuhan sesuai 
dengan apa yang telah disunahkan Nabi," yang kemudian dilanjutkannya. Dan hal 
itu ditegaskannya kembali dalam wawancara Majalah TEMPO dengan Chittick yang 
dimuat  Majalah tersebut dalam Edisi 23 Desember 2007 (Selingan), "Tasawuf 
bagian inheren dari Islam."  

Dengan segenap pemikirannya, Rumi terus mencari sesuatu di balik penampakannya. 
Begitu juga pandangannya tentang agama-agama.  Rumi melukiskan bahwa dirinya 
sebutir debu di kaki Muhammad, dan juga menyatakan bahwa dirinya tidak pernah 
meninggalkan syariah Tetapi ia tidak membedakan antara kulit dengan isi. Di 
antara  agama yang berbeda, ia melihat kesatuan yang transedental. Dan 
keberagaman itu tak lain dari bentuk luar, dan bukan isi agama-agama tersebut. 
Dari pandangan ini  Rumi mengembangkan toleransi yang begitu besar terhadap 
agama-agama di luar Islam. 

Rumi wafat pada 17 Desember 1273. Pada saat jenazahnya hendak diberangkatkan ke 
tempat pemakaman, penduduk setempat berdesak-desakan ingin menyaksikan. Tidak 
mengherankan, jika para pemeluk agama lain pun ikut menangisi kepergiannya. 
Orang Yahudi dan Nasrani, misalnya, ikut membacakan Taurat dan Injil. Para 
penguasa negeri yang hadir dalam upacara pemakaman bertanya pada mereka, 
"Peduli apa kalian dengan suasana berkabung saat ini? Bukankah yang meninggal 
ini seorang muslim yang alim." Mereka menjawab, "Berkat dialah kami mengetahui 
kebenaran para nabi terdahulu. Dan pada dirinya kami memahami perilaku para 
wali yang sempurna."

Tetapi apakah Sufisme atau Tasawuf itu? bagaimana menyandingkan Tasawuf dengan 
kehidupan modern. Sementara modernitas, meminjam proposisi Dominiqe, "ditandai 
dengan ketidakpercayaan jika bukan penolakan terhadap tradisi; keutamaan 
diberikan kepada individu dan kepentingan yang tidak dapat diabaikan; keyakinan 
pada akal, kemajuan, dan sain".

Sain yang bersumber kepada rasionalisme, bahkan telah menerabas ke lokus-lokus 
yang berjarak jutaan tahun cahaya dari bumi tempat manusia hidup. Sedangkan 
sistem ekonomi kapitalistik yang membenarkan keserakahan,  ternyata telah 
berhasil memberikan tingkat kemakmuran yang sangat tinggi bagi sebagian negara 
yang berhasil menerapkannya

Dr HJ Witteveen mantan menteri keuangan Belanda dan Direktur Pelaksana IMF, 
yang merupakan pengikut Tasawuf Universal yang dikembangkan oleh Sufi dan 
Musikus besar India Hazrat Inayat Khan, dalam bukunya "Sufism in Action: 
Achievement, Inspiration and Integrity in a Tough World" (2003) menulis: "Dalam 
wawancara, seringkali saya ditanya oleh wartawan tentang bagaimana tasawuf 
dapat dikombinasikan dengan kehidupan seorang ekonom atau---lebih buruk 
lagi!---dengan kehidupan seorang menteri keuangan atau bankir," tulisnya. 
"Tetapi," lanjutnya,  "Hazrat Inayat Khan menunjukkan betapa kerja di dunia 
sangat berharga dari sudut pandang mistik atau metafisik".

Dan pada alinea lain ditulisnya: "Amalan Tasawuf saya telah membantu saya dalam 
mempertahankan keseimbangan spiritual saya ketika saya dirundung seabrek 
aktivitas dan tanggung jawab yang besar"

Esensinya, kemegahan dan kemilau kesenangan dan kenikmatan ragawi serta 
kehidupan hedonik yang menafikan apapun yang bersifat spiritualisme, mungkin 
mengenyangkan lahiriah, tetapi tidak menenteramkan jiwa.

Begitu sejumlah darwis Amerika berpusar di panggung ketika The Treshold Society 
diundang ke acara pertemuan antar-iman di Katedral Nasional tempat  ibadat 
Presiden Amerika Serikat, di awal tahun 2000-an yang lalu, sekitar 2.000 orang 
non-muslim ikut menyenandungkan zikir dan lailaahaillalah

Dan kalau masih ada yang bertanya, apakah Tasawuf itu, maka saya akan meminjam 
jawaban ulama-ulama Tasawuf klasik: 

Carilah, dan engkau akan menemukannya
Ketuklah, dan dia akan terbuka untukmu

Tapi apa pulalah awak ini? 

Wassalam,
Darwin Bahar 
Depok – Banda Aceh, Desember 2007 
dari berbagai sumber untuk Superkoran   


-- 
.
Posting yang berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan di tempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini dan kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur dan Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer dan seluruh bagian tidak perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat e-mail baru, tidak me-reply e-mail lama dan 
mengganti subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin mengubah konfigurasi/setting-an 
keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.

Kirim email ke