---------- Forwarded message ---------- From: dutamardin umar <[email protected]> Date: Sun, 5 Sep 2010 07:24:13 -0400 Subject: [MinangUSA] Fwd: [IMAAMNet] Kisah Hikmah: Sandal Jepit Istriku To: minangusa <[email protected]>, ICMI NA <[email protected]>
---------- Forwarded message ---------- From: IMAAM Women's Affairs Dept <[email protected]> Date: 2010/9/5 Subject: [IMAAMNet] Kisah Hikmah: Sandal Jepit Istriku To: [email protected], [email protected] Kisah Hikmah: Kisah kesabaran seorang istri menghadapi suaminya. Sandal Jepit Istriku Selera makanku mendadak punah. Hanya da rasa kesal dan jengkel yang memenuhi kepala ini. Duh, betapa tidak gemas dalam keadaan lapar memuncak seperti ini makanan yang tersedia tada ada yang memuaskan lidah. Sayur sop ini rasanya masni bak kolak pisang, sedang perkedelnya asin enggak ketulungan. “Ummi, Ummi, kapan kau dapat memasak dengan benar? Selalu saja, kalau tak keasinan, kemanisan. Kalau tak keaseman, ya kepedasan! “Ya, aku tak bisa menahan emosi untuk tak menggerutu. “Sabar, Bi. Rasulullah juga sabar terhadap masakan Aisyah dan Khadidjah. Katanya mau kayak Rasul?” ucap istriku kalem. “Iya, tapi abi kan manusia biasa. Abi belum bisa sabar seperti Rasul. Abi tak tahan kalau makan terus menerus seperti ini”, jawabku dengan nada tinggi. Mendengar ucapanku yang bernada emosi, kulihat istriku menundukkan kepala dalam-dalam. Kalau sudah begitu, aku yakin pasti air matanya sudah merebak. Sepekan sudah aku keluar kota. Tentu, ketika pulang, benak ini penuh dengan jumput-jumput harapa untuk menemukan “Baiti jannati” (rumahku surgaku) di rumahku. Namun apa yang terjadi? Kenyataan tak sesuai dengan apa yang kuimpikan. Sesampainya di rumah, kepalaku malah mumet tujuh keliling. Bayangkan saja, rumah kontrakanku tak ubahnya laksana kapal burak (pecah). Pakaian bersih yang belum disetrika menggunung di sana sini. Piring-piring kotor berpesta pora di dapur. Cucian? Ouw! Berember-ember. Ditambah lagi aroma bau busuknya yang menyengat, karena berhari-hari diredam dengan deterjen tapi tak juga dicuci. Melihat keadaan seperti ini, aku Cuma bisa beristigfar sambil mengurut dada. “Ummi, ummi, bagaimana abi tak selalu kesal kalau keadaan terus menerus begini?” ucapku sambil menggeleng –gelengkan kepala. “ Ummi, istri salihah itu tak hanya pandai mengisi pengajian, tapi dia juga harus pandai mengatur setiap detail urusan rumah tangga. Harus bisa masak, nyeterika, nyuci, jahit baju, beresin rumah,” belum sempat kata-kataku habis, sudah terdengar ledakan tangis istriku yang kelihatan begitu pilu. *Ah wanita gampang sekali untuk menangis*, batinku berkata dalam hati.** “Sudah diam mi, tak boleh cengeng. Katanya mau jadi istri shalihah? Istri shalihah itu tidak cengeng,” bujukku hati-hati setelah melihat air matanya menganak sungai di pipinya. “Bagaimana tidak nangis! Baru juga pulang, sudah ngomel-ngomel terus. Rumah ini berantakan karena memang ummi tak bisa mengerjakan apa-apa. Jangankan untuk kerja, untuk jalan saja susah. Ummi kan muntah-muntah terus, ini badan rasanya tak bertenaga sama sekali,” ucap istriku diselingi isak tangis. “Abi enggak ngerasain sih bagaimana mualnya orang yang hamil muda,” ucap istriku lagi, sementara air matanya kulihat tetap merebak. “Bi, siang nanti antar Ummi ngaji, ya? Pinta istriku. “Aduh, mi! Abi kan sibuk sekali hari ini. Berangkat sendiri saja, ya?” Ucapku. “Ya sudah, kalau abi sibuk, Ummi naik bis umum saja, mudah-mudahan enggak pingsan di jalan,” jawab istriku. “Lho, kok bilang begitu? “Iya, dalam kondisi muntah-muntah seperti ini, kepala Ummi gampang pusing kalau mencium bau bensin. Apalagi, ditambah berdesak-desakan dalam kendaraan dengan suasana panas menyengat. Tapi, mudah-mudahan sih enggak kenapa-kenapa,” ucap istriku lagi. “Ya sudah, kalau begitu, naik bajaj saja,” jawabaku ringan. Pertemuan hari ini ternyata diundur pekan depan. Kesempatan waktu luang ini kugunakan untuk menjemput istriku. Entah, kenapa hati ini tiba-tiba saja menjadi rindu padanya. Motorku sudah sampai di tempat istriku mengaji. Di depan pintu, kulihat masih banyak sepatu berjajar, ini pertanda acara belum selesai. Kuperhatikan sepatu yang berjumlah delapan pasang itu satu persatu. Ah, semuanya indah-indah dan kelihatan harganya begitu mahal. *Wanita memang suka yang indah-indah, sampai bentu sepatu pun lucu-lucu*, aku membathin sendiri. Mataku tiba-tiba terantuk pandang pada sebuah sandal jepit yang diapit sepasang sepatu indah. Dug! Hati ini menjadi luruh.** *Oh, bukankah ini sandal jepit istriku?* Tanya hatiku. Lalu, segera kuambil sandal jepit kumal yang tertindih sepatu indah itu. Tes! Air mataku jatuh tanpa terasa. Perih nian rasanya hati ini,, kenapa baru sekarang sadar bahwa aku tak pernah memperhatikan istriku. Sampai-sampai, kemana ia pergi, harus bersandal jepit kumal. Sementara, teman-temannya bersepatu bagus. *Maafkan aku Maryam*,* *pinta hatiku. Krek! Suara pintu terdengar dibuka. Aku terlonjak, lantas menyelinap ke tembok samping. Kulihat dua wanita berjalan melintas sambil menggendong bocah mungil yang berjilbab indah dan cerah, secerah warna baju dan jilbab umminya. Beberapa menit setelah kepergian dua wanita itu, kembali melintas wanita-wanita yang lain. Namun, belum juga kutemukan Maryamku. Aku menghitung sudah delapan orang keluar dari rumah itu, tapi istriku belum juga keluar. Penantianku berakhir ketika sesosok tubuh berabaya gelap dan berjilbab hitam melintas. *Ini dia mujahidahku!* Pekik hatiku. Ia beda dengan yang lain, ia begitu bersahaja. Kalau yang lain memakai baju berbunga cerah indah, ia hanya memakai baju warna gelap yang sudah lusuh pula warnanya. Diam-diam, hatiku kembali dirayapi perasaan berdosa karena selama ini kurang memerhatikan istri. Ya, aku baru sadar bahwa semenjak menikah, aku belum pernah membelikan sepotong bajupun untuknya. Aku terlalu sibuk memerhatikan kekurangan-kekurangan istriku. Padahal, dibalik semua itu banyak kelebihanmu, wahai Maryamku. Aku benar-benar menjadi malu pada Allah dan Rasul-Nya. Selama ini, aku terlalu sibuk mengurus orang lain, sedang istriku tak pernah kuurusi. Padahal, Rasul telah bersabda,” *Yang terbaik di antara kamu adalah yang paling baik terhadap keluarganya.” *Sedang aku? Ah, kenapa pula aku lupa bahwa Allah menyuruh para suami agar menggauli istrinya dengan baik. Sedang aku? Terlalu sering ngomel dan menuntuk istri dengan suatu yang ia tak dapat melakukannya. Aku benar-benar merasa menjadi suami terzalim! “Maryam,” panggilku, ketika tubuh berabaya gelap itu melintas. Tubuh itu lantas berbalik ke arahku, pandangan matanya menunjukkan ketidak percayaan atas kehadiranku di tempat ini. Namun, kemudian terlihat perlahan bibirnya mengembangkan senyumnya. Senyum bahagia. “Abi!” bisiknya pelan dan girang. Sungguh, aku baru melihat istriku segirang in. *Ah, kenapa tidak dari dulu kulakukan menjemput istri? *Sesal hatiku. Esoknya, aku membelikan sepasang sepatu untuk istriku. Ketika tahu hal itu, senyum bahagia kembali mengembang dari bibirnya. “Alhamdulillah, jazakallahu,” ucapnya dengan suara tulus. Ah, Maryam, lagi-lagi hatiku terenyuh melihat polahmu. Lagi-lagi sesal menyerbu hatiku. Kenapa baru sekarang aku bisa bersyukur memperoleh istri zuhud dan ‘iffah sepertimu? Kenapa baru sekarang pula kutahu betapa nikmatnya *menyaksikan matamu yang berbinar-binar karena perhatianku?* Wassalam. Sumber: buku Dasyatnya sabar oleh Ahmad Hadi Yasin. -- Dutamardin Umar ----------------------------------------------------- "menjadi bagian dari sapu lidi, akan lebih bermanfaat dari pada menjadi sebatang lidi" -- Wassalaamu'alaikum Dutamardin Umar (aka. Ajo Duta), gelar Bagindo, suku Mandahiliang, lahir 17 Agustus 1947. Nagari Gasan Gadang, Kab. Pariaman. rantau: Deli, Jakarta, sekarang Sterling, Virginia-USA ------------------------------------------------------------ "menjadi bagian dari sapu lidi, akan lebih bermanfaat dari pada menjadi sebatang lidi" -- . Posting yang berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini dan kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur dan Lokasi pada setiap posting - Hapus footer dan seluruh bagian tidak perlu dalam melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat e-mail baru, tidak me-reply e-mail lama dan mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali serta ingin mengubah konfigurasi/setting-an keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.
