Satu malam di penghujung bulan Ramadan di tahun dua ribu enam, pada kegiatan  
tarawih berkeliling dari rumah ke rumah Ikatan Kekeluargaan Minangkabau (IKM)  
Blok 7 Depok Tengah, sehari lagi menjelang Idulfitri.

Setelah imam shalat mengakhiri do'a sehabis melaksanakan shalat witir, 
masing-masing jemaah mengambil Al-Qur'an dari tempatnya,  lalu merapat ke 
dinding dan membukanya dan bersiap untuk mulai  bertadarus. Seperti biasa, tuan 
rumah mulai mengedarkan penganan. Tetapi  ada yang tidak biasa, malam itu kami  
akan menyelesaikan juz terakhir dari rangkaian 30 juz kandungan Al-Qur'an yang 
kami baca secara bergantian sehingga selesai  satu juz satu malam  sejak 
tarawih hari pertama. Suasana terasa hening dan bening  Seorang Ibu mulai 
membaca, kemudian diteruskan oleh Ibu yang duduk di sebelahnya dan seterusnya. 
Lalu pindah ke bapak-bapak dan seterusnya. Saya mendapat giliran membaca sebuah 
surah pendek. Begitu  menyelesaikan bacaan, saya mengangkat Al-Qur'an ke wajah 
seakan-akan hendak menciumnya, tetapi saya sebenarnya hendak menutup muka saya 
agar tidak terlihat dari jemaah lain, karena saat itu air mata mulai mengambang 
di kelopak mata. Perasaan tidak menentu  setelah menyelesaikan shalat Arbain di 
Masjid Nabawi kembali menyusup ke dalam sanubari, keengganan yang sangat untuk 
bangkit dan pergi guna melanjutkan perjalanan dan kehidupan,  sesuatu yang 
niscaya, karena jarum jam tidak mungkin diputar mundur.

Esok malamnya kami akan meliwati malam terakhir Ramadan bersama keluarga 
masing-masing di rumah, menunggu datangnya pagi di hari yang fitri.

Dan seperti pada ujung-ujung Ramadan, sebuah pertanyaan berulangpun muncul: 
Masih akan bertemukah diri ini dengan Ramadan tahun berikutnya? 

Kegiatan shalat tarawih berjamaah yang bergilir dari rumah ke rumah yang 
dilanjutkan dengan tadarus Al-Qur'an dari rumah ke rumah yang diselengarakan 
oleh IKM VII Perumnas Depok Tengah sudah berlangsung sejak kompleks tersebut 
dihuni pada tahun 1979 tanpa terputus. Pesertanya pun relatif  konstan, 
berkisar antara 10 dan 15 keluarga. Namun berbeda dengan shalat tarawih yang 
diselenggarakan di kebanyakan  masjid yang semakin dekat ke penghujung Ramadan 
jumlahnya peserta semakin berkurang,  jemaah tarawih bergilir ini kadang-kadang 
malah bertambah. Malah ada yang datang hanya untuk bertadarus saja.

Karena kewajiban mencari nafkah, hampir seluruh hari-hari di bulan Ramadan 
tahun 2007 saya lewatkan di Banda Aceh dan Ramadan di tahun 2008 saya lewatkan 
di Semarang. Saya selalu merindukan suasana Ramadan dengan kegiatan tarawih dan 
tadarus dari rumah ke rumah tersebut---kegiatan yang dalam sebuah thread  di 
Apakabar dalam tahun 2006--- saya gambarkan "menyebabkan malam-malam Ramadan 
saya seperti penuh cahaya".  Saya juga sangat merindukan saat-saat kami berdua 
berjalan bergandengan tangan di keremangan fajar selepas sahur untuk shalat 
subuh berjamaah di masjid Ar-Riyadh. 

Saya masih sempat mengikuti satu dua hari di akhir Ramadan di kedua Ramadan   
walaupun dalam Ramadan di tahun 2008 tidak lagi bersama sang belahan jiwa, dan 
karena kesehatan yang mulai menurun dengan cepat mengikuti usia yang semakin 
menua, dan pada  Ramadan di tahun 2008 jumlah jemaah mulai menyusut.

Karena itu saya tidak begitu terkejut  ketika pak Haji Rusli pengurus IKM Blok 
7 mendatangi rumah kami, menjelang Ramadan tahun 2009, untuk pertama kalinya 
Kur tidak mengambil jatah untuk ketempatan sebagai tuan rumah  tarawih dan 
tadarus dari rumah ke rumah. Penyakit degeneratif pada  usia tua yang 
dideritanya, menyebabkan hampir setahun terakhir ini Kur hanya mampu shalat 
dengan menjuntaikan kaki di antar, karena duduk dengan melipat kaki sangat 
menyakitkan baginya.  Tetapi tidak hanya Kur, beberapa keluarga juga tidak lagi 
bersedia dengan alasan yang hampir sama. Bu Haji Nasran yang hanya tinggal 
berdua dengan suami setelah anak-anaknya menikah mengeluhkan kerepotan 
mengangkat perbotan dari ruang tamu. "Kalau jemaahnya banyak tidak apa-apalah," 
 jelasnya. Ada yang hanya bersedia ketempatan tetapi tidak menjamin untuk dapat 
hadir pada giliran di rumah yang lain.  Malah ada yang mengusulkan agar 
kegiatan tersebut disudahi saja. Namun Ketua Pengurus Pak Haji Jusni Bahar 
memutuskan masih akan melanjutkan seperti apapapun keadaannya. Sebanyak 10 
keluarga menyatakan bersedia ketempatan. Saya ikut mendukung dan mencoba untuk 
hadir di setiap kesempatan, namun hanya dapat mengikuti kegiatan tarawih saja 
karena kesehatan saya pun mulai menurun. Seperti diduga semula, jumlah jemaah 
menurun drastis, adakalanya hanya tinggal empat orang, termasuk tuan rumah.

Pada Ramadan tahun ini akhirnya Pengurus memutuskan untuk menghentikan kegiatan 
tarawih dan tadarus dari rumah ke rumah ini . Kami semua akhirnya sadar, 
walaupun semangat tinggi, usia tua---kami semua ssudah berumur di atas 60 
tahun---tidak mungkin dilawan. Dengan demikian kegiatan yang sudah berlangsung 
secara terus menerus selama 30 tahun sudah tidak akan ada lagi. 

Pertanyaan saya, apa sih perekat kegiatan tersebut, sehingga kegiatan tersebut 
bisa  berlangsung begitu `solid' dan `sustainable'?  Hanya karena faktor 
keminangan, atau latar belakang etnis dan sosiobudaya  saja kah?  Apalagi 
acaranya biasa-biasa saja, tarawih dan witir total 11 rakaat. Ketika bertadarus 
seorang membaca sebanyak satu a'in, yang lain menyimak, dan memberitahu  kalau  
ada salah baca atau melafalkan mahrajnya, dan tidak jarang pula diselingi 
gurauan-gurauan khas Minang. Dan satu hal kecil yang cukup menarik, tidak 
seorang jemaah pun yang tidak melakukan kesalahan baca atau pelafalan ketika 
kena giliran, termasuk bapak-bapak yang menjadi imam shalat yang hafal di luar 
kepala sejumlah surah-surah pendek dan panjang.   

Tetapi pertanyaan tersebut menjadi tidak penting, karena apapun  jawabannya, 
kegiatan tersebut sudah memberikan kepada kami keriaan,  kehangatan dan 
kekhidmatan dalam beribadah sunah Ramadan, mempererat silaturakhmi  sesama 
warga Minang tanpa jatuh ke ekslusivisme, karena kegiatan itu juga terbuka 
lebar bagi jemaah-jemaah keluarga non-Minang di blok kami.  

Perjalanan hidup---meminjam sobat saya owner Apakabar Elceem---adalah ibarat 
perjalanan pajang sebuah kereta api jarak jauh. Pada setiap setasiun 
perbehentian ada yang sudah turun dan ada pula yang masih bersama kita.  

Malam-malam Ramadan tahun ini seluruhnya saya lewati di rumah. Asma yang sejak 
awal tahun ini sudah dua kali mengirim saya ke rumah sakit, kembali menyerang 
di pertengahan Ramadan, yang menyebabkan keinginan untuk berpuasa penuh sampai 
di hari terakhir tidak kesampaian. Kata para ahli hikmah, orang tidak akan 
pernah merasa nikmatnya senang kalaulah tidak pernah merasakan sakit. Saya 
percaya itu.  Namun sering sakit di usia senja ini bagi saya membawa isyarat, 
bahwa kereta kehidupan saya akan segera tiba di setasiun terakhir; untuk 
kemudian  melanjutkan perjalanan dengan kendaraan lain menuju keabadian, 
sendirian.

Menoleh ke belakang, saat kereta kehidupan berhenti di setiap Ramadan yang 
diisi dengan tarawih dan tadarus berkeliling dari rumah ke rumah, saya seperti 
meliwati sebuah persinggahan yang  penuh cahaya, yang masih menyinari saya 
sampai saat ini, dan perjalanan ke depan. 

Malam terus mengalir pelan, di luar langit penuh gemintang, dan alunan takbir 
dan tahmid terus  berkumadang menyusuri bukit-bukit, gunung dan lembah di 
penghujung Ramadan tahun ini.    


Taqaballahu Minna Wa minkum
Taqaballahu Ya Karim
Selamat Idulfitri, Mohon maaf lahir dan batin


Wassalam.
Darwin Bahar 
Depok, 10 September 2010 


-- 
.
Posting yang berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan di tempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini dan kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur dan Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer dan seluruh bagian tidak perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat e-mail baru, tidak me-reply e-mail lama dan 
mengganti subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin mengubah konfigurasi/setting-an 
keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.

Kirim email ke