Assalammu'alaikum wrwb, pak Darwin sarato bpk/ibu/dunsanak 
talabiah dahulu ambo mengucapkan selamat Idul Fitri 1431H, mohon maaf lahir dan 
bathin, semoga ALLAH SWT menerima segala amalan ramadhan yang telah kita 
lakukan. Amin ya rabbal alamin...

Pak Darwin, alhamdulillah, ambo maraso terharu dan sangat berkesan dengan apa 
yang telah pak Darwin lakukan jo IKM Depok Tengah.. Semoga ALLAH menjadikan ini 
sebagai amalan bagi pak Darwin jo IKM nan telah melakukannya selama ini, 
meskipun dibeberapa stasiun sudah ada penumpang yang turun... Namun dengan 
tulisan yang telah disampaikan spt ini, mohon kiranya ambo diizinkan untuk 
menyimpan tulisan ini di fesbuk ambo... Mudah2an ini menjadi inspirasi ambo 
pribadi ataupun dunsanak2/sahabat2 nan mambaco nyo, tantu dengan harapan akan 
menjadi ILMU yang BERGUNA kelak, bila bisa dilanjutkan...

Demikian pak Darwin sarato Bapak/Ibu/adidunsanak palanta rantau net, sekalia 
lagi MOHON MAAF LAHIR DAN BATHIN, semoga KITA KEMBALI FITRI.. Amin ra rabbal 
alamin...
Wassalammu'alaikum wrwb

 
ARYANDI, 37th Ciledug Tangerang




________________________________
From: Darwin <[email protected]>
To: [email protected]
Sent: Fri, September 10, 2010 1:58:23 AM
Subject: [...@ntau-net] Ketika Jemaah Tarawih Tinggal Berempat

Satu malam di penghujung bulan Ramadan di tahun dua ribu enam, pada kegiatan  
tarawih berkeliling dari rumah ke rumah Ikatan Kekeluargaan Minangkabau (IKM)  
Blok 7 Depok Tengah, sehari lagi menjelang Idulfitri.

Setelah imam shalat mengakhiri do'a sehabis melaksanakan shalat witir, 
masing-masing jemaah mengambil Al-Qur'an dari tempatnya,  lalu merapat ke 
dinding dan membukanya dan bersiap untuk mulai  bertadarus. Seperti biasa, tuan 
rumah mulai mengedarkan penganan. Tetapi  ada yang tidak biasa, malam itu kami  
akan menyelesaikan juz terakhir dari rangkaian 30 juz kandungan Al-Qur'an yang 
kami baca secara bergantian sehingga selesai  satu juz satu malam  sejak 
tarawih 
hari pertama. Suasana terasa hening dan bening  Seorang Ibu mulai membaca, 
kemudian diteruskan oleh Ibu yang duduk di sebelahnya dan seterusnya. Lalu 
pindah ke bapak-bapak dan seterusnya. Saya mendapat giliran membaca sebuah 
surah 
pendek. Begitu  menyelesaikan bacaan, saya mengangkat Al-Qur'an ke wajah 
seakan-akan hendak menciumnya, tetapi saya sebenarnya hendak menutup muka saya 
agar tidak terlihat dari jemaah lain, karena saat itu air mata mulai mengambang 
di kelopak mata. Perasaan tidak menentu  setelah menyelesaikan shalat Arbain di 
Masjid Nabawi kembali menyusup ke dalam sanubari, keengganan yang sangat untuk 
bangkit dan pergi guna melanjutkan perjalanan dan kehidupan,  sesuatu yang 
niscaya, karena jarum jam tidak mungkin diputar mundur.

Esok malamnya kami akan meliwati malam terakhir Ramadan bersama keluarga 
masing-masing di rumah, menunggu datangnya pagi di hari yang fitri.

Dan seperti pada ujung-ujung Ramadan, sebuah pertanyaan berulangpun muncul: 
Masih akan bertemukah diri ini dengan Ramadan tahun berikutnya? 


Kegiatan shalat tarawih berjamaah yang bergilir dari rumah ke rumah yang 
dilanjutkan dengan tadarus Al-Qur'an dari rumah ke rumah yang diselengarakan 
oleh IKM VII Perumnas Depok Tengah sudah berlangsung sejak kompleks tersebut 
dihuni pada tahun 1979 tanpa terputus. Pesertanya pun relatif  konstan, 
berkisar 
antara 10 dan 15 keluarga. Namun berbeda dengan shalat tarawih yang 
diselenggarakan di kebanyakan  masjid yang semakin dekat ke penghujung Ramadan 
jumlahnya peserta semakin berkurang,  jemaah tarawih bergilir ini kadang-kadang 
malah bertambah. Malah ada yang datang hanya untuk bertadarus saja.

Karena kewajiban mencari nafkah, hampir seluruh hari-hari di bulan Ramadan 
tahun 
2007 saya lewatkan di Banda Aceh dan Ramadan di tahun 2008 saya lewatkan di 
Semarang. Saya selalu merindukan suasana Ramadan dengan kegiatan tarawih dan 
tadarus dari rumah ke rumah tersebut---kegiatan yang dalam sebuah thread  di 
Apakabar dalam tahun 2006--- saya gambarkan "menyebabkan malam-malam Ramadan 
saya seperti penuh cahaya".  Saya juga sangat merindukan saat-saat kami berdua 
berjalan bergandengan tangan di keremangan fajar selepas sahur untuk shalat 
subuh berjamaah di masjid Ar-Riyadh. 


Saya masih sempat mengikuti satu dua hari di akhir Ramadan di kedua Ramadan   
walaupun dalam Ramadan di tahun 2008 tidak lagi bersama sang belahan jiwa, dan 
karena kesehatan yang mulai menurun dengan cepat mengikuti usia yang semakin 
menua, dan pada  Ramadan di tahun 2008 jumlah jemaah mulai menyusut.

Karena itu saya tidak begitu terkejut  ketika pak Haji Rusli pengurus IKM Blok 
7 
mendatangi rumah kami, menjelang Ramadan tahun 2009, untuk pertama kalinya Kur 
tidak mengambil jatah untuk ketempatan sebagai tuan rumah  tarawih dan tadarus 
dari rumah ke rumah. Penyakit degeneratif pada  usia tua yang dideritanya, 
menyebabkan hampir setahun terakhir ini Kur hanya mampu shalat dengan 
menjuntaikan kaki di antar, karena duduk dengan melipat kaki sangat menyakitkan 
baginya.  Tetapi tidak hanya Kur, beberapa keluarga juga tidak lagi bersedia 
dengan alasan yang hampir sama. Bu Haji Nasran yang hanya tinggal berdua dengan 
suami setelah anak-anaknya menikah mengeluhkan kerepotan mengangkat perbotan 
dari ruang tamu. "Kalau jemaahnya banyak tidak apa-apalah,"  jelasnya. Ada yang 
hanya bersedia ketempatan tetapi tidak menjamin untuk dapat hadir pada giliran 
di rumah yang lain.  Malah ada yang mengusulkan agar kegiatan tersebut disudahi 
saja. Namun Ketua Pengurus Pak Haji Jusni Bahar memutuskan masih akan 
melanjutkan seperti apapapun keadaannya. Sebanyak 10 keluarga menyatakan 
bersedia ketempatan. Saya ikut mendukung dan mencoba untuk hadir di setiap 
kesempatan, namun hanya dapat mengikuti kegiatan tarawih saja karena kesehatan 
saya pun mulai menurun. Seperti diduga semula, jumlah jemaah menurun drastis, 
adakalanya hanya tinggal empat orang, termasuk tuan rumah.

Pada Ramadan tahun ini akhirnya Pengurus memutuskan untuk menghentikan kegiatan 
tarawih dan tadarus dari rumah ke rumah ini . Kami semua akhirnya sadar, 
walaupun semangat tinggi, usia tua---kami semua ssudah berumur di atas 60 
tahun---tidak mungkin dilawan. Dengan demikian kegiatan yang sudah berlangsung 
secara terus menerus selama 30 tahun sudah tidak akan ada lagi. 


Pertanyaan saya, apa sih perekat kegiatan tersebut, sehingga kegiatan tersebut 
bisa  berlangsung begitu `solid' dan `sustainable'?  Hanya karena faktor 
keminangan, atau latar belakang etnis dan sosiobudaya  saja kah?  Apalagi 
acaranya biasa-biasa saja, tarawih dan witir total 11 rakaat. Ketika bertadarus 
seorang membaca sebanyak satu a'in, yang lain menyimak, dan memberitahu  kalau  
ada salah baca atau melafalkan mahrajnya, dan tidak jarang pula diselingi 
gurauan-gurauan khas Minang. Dan satu hal kecil yang cukup menarik, tidak 
seorang jemaah pun yang tidak melakukan kesalahan baca atau pelafalan ketika 
kena giliran, termasuk bapak-bapak yang menjadi imam shalat yang hafal di luar 
kepala sejumlah surah-surah pendek dan panjang.  


Tetapi pertanyaan tersebut menjadi tidak penting, karena apapun  jawabannya, 
kegiatan tersebut sudah memberikan kepada kami keriaan,  kehangatan dan 
kekhidmatan dalam beribadah sunah Ramadan, mempererat silaturakhmi  sesama 
warga 
Minang tanpa jatuh ke ekslusivisme, karena kegiatan itu juga terbuka lebar bagi 
jemaah-jemaah keluarga non-Minang di blok kami.  


Perjalanan hidup---meminjam sobat saya owner Apakabar Elceem---adalah ibarat 
perjalanan pajang sebuah kereta api jarak jauh. Pada setiap setasiun 
perbehentian ada yang sudah turun dan ada pula yang masih bersama kita.  


Malam-malam Ramadan tahun ini seluruhnya saya lewati di rumah. Asma yang sejak 
awal tahun ini sudah dua kali mengirim saya ke rumah sakit, kembali menyerang 
di 
pertengahan Ramadan, yang menyebabkan keinginan untuk berpuasa penuh sampai di 
hari terakhir tidak kesampaian. Kata para ahli hikmah, orang tidak akan pernah 
merasa nikmatnya senang kalaulah tidak pernah merasakan sakit. Saya percaya 
itu.  Namun sering sakit di usia senja ini bagi saya membawa isyarat, bahwa 
kereta kehidupan saya akan segera tiba di setasiun terakhir; untuk kemudian  
melanjutkan perjalanan dengan kendaraan lain menuju keabadian, sendirian.

Menoleh ke belakang, saat kereta kehidupan berhenti di setiap Ramadan yang 
diisi 
dengan tarawih dan tadarus berkeliling dari rumah ke rumah, saya seperti 
meliwati sebuah persinggahan yang  penuh cahaya, yang masih menyinari saya 
sampai saat ini, dan perjalanan ke depan. 


Malam terus mengalir pelan, di luar langit penuh gemintang, dan alunan takbir 
dan tahmid terus  berkumadang menyusuri bukit-bukit, gunung dan lembah di 
penghujung Ramadan tahun ini.    



Taqaballahu Minna Wa minkum
Taqaballahu Ya Karim
Selamat Idulfitri, Mohon maaf lahir dan batin


Wassalam.
Darwin Bahar 
Depok, 10 September 2010 


-- 
.
Posting yang berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan di tempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini dan kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur dan Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer dan seluruh bagian tidak perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat e-mail baru, tidak me-reply e-mail lama dan 
mengganti subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin mengubah konfigurasi/setting-an 
keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.



      

-- 
.
Posting yang berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan di tempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini dan kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur dan Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer dan seluruh bagian tidak perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat e-mail baru, tidak me-reply e-mail lama dan 
mengganti subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin mengubah konfigurasi/setting-an 
keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.

Kirim email ke