"Pemerintah terlalu asyik membangun kota. Alhasil, daerah pelosok ketinggalan tak tersentuh pembangunan….Akibatnya warga desa mengadu nasib ke Kota, dan sebagian besar sampai kota mereka terkapar, tidak punya skill."
(Buya Syafii Maarif, pidato sambutan pada malam penganugerahan Maarif Award 2010 di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Kamis , 10/6/2010, "Indonesia, Kampung Tak Bertuan", detikNews, Kamis, 10/06/2010 *). Saya orang bodoh---tentu saja---kalau tidak, saya tentu bisa jadi Gubernur, atau minimal jadi wagub. Tetapi biar bodoh, tetap merasa santiang saja :). Dengan segala kebodohan dan rasa sok santieng, masyarakat Minang yang saya pahami adalah masyarakat sipil yang terbangun melalui perjalanan panjang sejarah oleh "republik-republik kecil" berkeswadayaan yang disebut nagari yang direkat oleh modal sosial (saling percaya, solidaritas dan partisipasi) dan sistem nilai (cq ABS-SBK) dengan keterikatan yang bersifat kesukarelaan Dengan segala kebodohan dan rasa sok santieng, saya tidak habis pikir, mengapa Pak Gub dan Wagub baru ini sama sekali tidak "terkesiap" terhadap salah satu agenda yang ditawarkan KKM: "pembangunan yang berwawasan nagari?", konsep yang seyogyanya menjadi visi dan misi pembangunan dan dituangkan dalam RPJP-D dan RPJM-D pemerintah provinsi/kabupaten/kota di Sumbar . Adakah konsep pembangunan yang lebih mangkus untuk merajut kembali `modal sosial' masyarakat Minang yang "terkoyak-koyak" akibat peristiwa PRRI dan pemberlakuan UU Nomor 5 Tahun 1979 tentang Pokok-pokok Pemerintahan Desa, ketika sebelas nagari dijadikan 2300 desa, yang menurut WS Rendra, menyebabkan "pertahanan lembaga adat dan hukum adat di Minangkabau jebol?"**]. Terkecuali tentu saja, jika dampak dari jebolnya pertahanan lembaga adat dan hukum adat sudah pulih kembali seperti sediakala dengan sudah dikembalikannya nama dan kelembagaan nagari pengganti desa pasca pemeberlakuan UU mengenai otonomi daerah, atau pendapat Rendra tersebut sama sekali salah. Adakah konsep pembangunan yang lebih mangkus untuk menghimpun partisipasi masyarakat---termasuk yang di rantau---di Sumbar selain "pembangunan yang berwawasan nagari?". Adakah konsep pembangunan yang lebih mangkus yang dapat secara fundamental dan berkelanjutan mengubah ketidakmerataan pendapatan di Sumbar selain "pembangunan yang berwawasan nagari?". Pembangunan yang berwawasan nagari, memang berarti pembangunan Sumbar akan berfokus pada sektor pertanian. Tetapi apa yang salah dengan sektor pertananian, yang menurut data tahun 2005, memberikan lapangan kerja bagi 60,8 persen penduduk Sumbar? Nakan Bot Piliang menyebut "pertanian tanaman pangan". Bot orang muda pintar dan terpelajar. Dia mengatakan itu tentunya berdasar analisis atas data dan fakta. Saya mengamini pendapatnya dengan cara yang sederhana saja. "Kalau ingin tahu kabupaten/kota yang paling makmur di Sulsel, lihat yang paling banyak jemaah hajinya," jelas seorang rekan di kantor regional kami di Sulsel ketika saya bekerja di program USAID PERFORM. Dan dia mengatakan kepada saya bahwa kabupaten yang paling banyak jemaah hajinya adalah Kabupaten Pinrang, lumbung beras di Sulsel, di mana petani bisa bertanam sepanjang tahun karena adanya pengairan yang disedikan oleh irigasi . Saya tahu Pinrang lumbung beras di Sulsel karena kami pernah memfasilitasi penyusunan Business Plan RSUD dengan pendekatan partisipatif Kabupaten tersebut. Dan tentu saja sistem perekonomian yang perlu dikembangan pada "pembangunan yang berwawasan nagari yang `historis', yang paling sesuai dengan karakter masyarakat Minang adalah `koperasi', bukan `korporasi' dengan membentuk BUM Nagari yang IMHO, belum ada `best practice'-nya', yang alih-alih, dapat membuka peluang bagi perilaku koruptif seperti yang banyak terjadi pada sebagian BUMD milik berbagai kabupaten/kota di Indonesia , serta dapat mematikan partisipasi anak nagari yang keterlibatan dalam pengelolaan BUM Nagari sangat minim kali tidak hendak dikatakan nihil. Adakah konsep pembangunan yang dapat mengurangi tekanan pada kota-kota sehingga kota seperti Bukittinggi bisa banjir dan macet selain "pembangunan yang berwawasan nagari?"? Sebenarnya masih banyak lagi adakah-adakah lain yang dapat dipertanyakan, termasuk dukungan pembangunan yang berwawasan nagari terhadap pengembangan parawisata yang berwawasan budaya dan bahari yang ramah lingkungan, serta "revolusi biru", terutama kalau terminologi yang terasa---maaf--- sangat "gagah" ini, dikaitkan dengan peningkatan kesejahteraan nelayan, perbaikan gizi melalui peningkatan konsumsi ikan perkapita anak nagari, dan bukan sekedar peningkatan ekspor ikan tuna ke Jepang. Tentu kota-kota pun perlu dibenahi dengan lebih mengambangkan kegiatan UKM, dan ini mungkin berarti moratorium pembangunan mal-mal atau mini-mini market yang padat modal dan nilai tamabhanya lebih banyak mengalir ke para pemilik modal. Bahwa konsep "pembangunan yang berwawasan nagari?" itu bukan sesuatu yang bersifat `sim salabim' sangat jelas tentu saja. Ini adalah perjalanan yang sangat kompleks, berkeringat tanpa akhir, an endless journey. Saya selalu berfikir kalau bangsa lain, seperti Jepang dapat mentranformasikan nilai-nilai kultural dan spritualnya menjadi etos dan budaya kerja yang kondusif bagi kemajuan iptek dan ekonomi, mengapa kita orang Melayu/Minang tidak? Dan saya percaya bahwa kondisi kita waktu ini bukanlah semata-mata takdir Illahi, tetapi karena kurangnya keinginan yang kuat untuk berjuang mengubah nasib. bukan begitu kanda Saaf? Mudah-mudahan saya salah, mudah-mudah pimpinan provinsi dan kabupaten/kota yang baru terpilih dan dilantik punya konsep pembangunan yang jauh lebih mukibat bagi peningkatan kesejahteraan anak nagari di kamoung halaman tercita.. Ya, apalah awak ini Wassalam, HDB-SBK (L, 67) Asal Padangpanjang, suku Panyalai, tinggal di Depok, Jawa Barat *] http://www.detiknews.com/read/2010/06/10/224752/1375947/10/syafii-maarif-indonesia-kampung-tak-bertuan?991101605 **] Pidato Kebudayaan W.S Rendra: "Tradisi dalam Kebudayaan" tanggal 03 Maret 2007 di UGM, yogya http://www.ugm.ac.id/warta/downloads/downloads/index.php?page=rilis&artikel=662 -- . Posting yang berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini dan kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur dan Lokasi pada setiap posting - Hapus footer dan seluruh bagian tidak perlu dalam melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat e-mail baru, tidak me-reply e-mail lama dan mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali serta ingin mengubah konfigurasi/setting-an keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.
