Pak Saaf, bukannya pedoman ABSSBK itu AlQuran ??
Apa bakal ada pedoman yang lain?

Mohon penjelasan ya pak 

Salam

Hanifah

--- On Mon, 9/13/10, Dr Saafroedin Bahar <[email protected]> wrote:

From: Dr Saafroedin Bahar <[email protected]>
Subject: Re: Fw: [...@ntau-net] Kegagalan KKM atau Belum? ---> Aaa Juo 
Lai....????
To: "Rantau Net" <[email protected]>
Date: Monday, September 13, 2010, 9:50 AM

Sanak Anzori, KKM sedang ditata dan dibenahi, sesuai jo dinamika situasi.
Soal Musyawarah Masyarakat Minangkabau nan Sanak usulkan, itu terserah kpd 
LKAAM dan baliau-baliau nan lain.
Sasudah ko Gebu Minang mamusekkan paratian pd tindaklanjut ampek tema KKM, 
yaitu pedoman pengamalan ABS SBK, pembangunan nagari dan kesejahteraan petani; 
pendayagunaan potensi maritim dan kesejahteraan masyarakat pesisir; dan 
mitigasi kebencanaan. 
Wassalam,
Saafroedin Bahar. Taqdir di tangan Allah swt, nasib di tangan kita.From:  
Anzori <[email protected]>
Sender:  [email protected]
Date: Sun, 12 Sep 2010 18:52:38 -0700 (PDT)To: 
<[email protected]>ReplyTo:  [email protected]
Subject: Re: Fw: [...@ntau-net] Kegagalan KKM atau Belum? ---> Aaa Juo 
Lai....????
Kalau KKM gagal, sebaiknya Gebu Minang mambuek 3M, Musyawarah Masyarakat 
Minangkabau nan scopenyo labiah gadang melibatkan semua tokoh di kampuang dan 
di rantau. Jadi indak usah manyabuik kato "Kebudayaan "lai. 
 Zorion_Anas 
(54+)
http://minangmaimbau.blogspot.com
http://zorionanas.blogspot.com
http://www.visitpadang.com
[email protected], [email protected], 
Cel./HP No. :081384611336

From: Abraham Ilyas <[email protected]>
To: [email protected]
Sent: Mon, September 13, 2010 8:26:16 AM
Subject: Re: Fw: [...@ntau-net] Kegagalan KKM atau Belum? ---> Aaa Juo 
Lai....????


Dunsanak di palanta nan ambo hormati.

Artikel di bawah iko nan ditulih oleh anak mudo mungkin rancak dibaco oleh 
Dunsanak yang pro maupun nan kontra KKMK di kutip dari 
http://www.padangmedia.com/index.php?mod=artikel&j=4&id=323


RANTAU TAK USAH PIKIRKAN RANAH: 
Refleksi Atas “Pembatalan” Kongres Kebudayaan Minang
oleh: Anggun Gunawan

Budaya | Rabu, 08/09/2010 23:48 WIB

Rapat antara utusan Rantau (Gebu Minang) dengan kalangan budayawan,
LKAAM, MUI, pers Sumatera Barat Jumat siang (3 September 2010) di
gubernuran akhirnya menghasilkan suara bulat: menolak dilaksanakannya
Kongres Kebudayaan Minang (KKM) yang dibesut oleh Gebu Minang. (Padang
Media, Sabtu 4 September 2010)…



Begitulah perkembangan terakhir yang penulis peroleh dari salah
satu media online terkemuka di Sumatera Barat, Padang Media, 2 hari
yang lalu. 
Rencana para perantau Minang yang tergabung dalam Gebu
Minang untuk mengadakan Kongres Kebudayaan Minang 23-24 September 2010
yang akan datang besar kemungkinan akan dibatalkan.



Aku sebagai anak muda Minang yang telah bersiap-siap membeli tiket
pesawat selepas lebaran nanti demi menyaksikan Kongres Kebudayaan
Minang Kedua (yang konon merupakan peristiwa bersejarah kedua setelah
Kongres Kebudayaan I yang diadakan 39 tahun lalu, dimana masih ada Buya
Hamka dan Bung Hatta sebagai pembicara – Cerita di balik ringan seputar
KKM I itu bisa dibaca pada buku Kenang-Kenangan 70 tahun Buya Hamka) ,
mungkin termasuk yang kecewa jika memang akhirnya memang harus
dibatalkan.



Terus terang aku adalah generasi yang tak mengenal adat. Aku tak
mengenal peran mamak kecuali beberapa kali mamak-ku yang tak pernah
kuliah harus kehilangan akal berdebat dengan Ayahku, seorang
doktorakdus IAIN. Sementara mamak-mamak-ku yang lain, lebih sibuk di
rantau karena di kampung hidup melarat. 

Ayah lebih mementingkan
pendidikan formalku dibandingkan menerangkan masalah-masalah adat,
meskipun aku tahu sedikit banyak beliau mengerti tentang hal itu.
Buku-buku tentang adat di rumahku hanyalah buku “Budaya Alam
Minangkabau” dan “Kesenian Alam Minangkabau”, buku wajib yang
dianjurkan dibeli oleh guru di SMP saat kedua pelajaran itu menjadi
Muatan Lokal di sekolah. Mungkin karena bujukan Buk May, Guru
Geografi-ku saat SMA, yang kala itu merekrut beberapa siswa untuk
bergabung di Group Randai SMA 1 Kota Solok, akupun bisa berkenalan
dengan sedikit pepatah-petitih Minang yang dibawakan lewat drama
teaktrikal Randai.



Ketika “terdampar” di Jogja, sebuah kota kecil majemuk tempat
pertemuan berbagai suku bangsa di Indonesia, aku tersadar dengan sebuah
identitas budayaku, ORANG MINANG. Suku bangsa yang begitu dihormati
karena sejarah intelektual dan keIslamannya. Ketika mengenalkan diri
sebagai Orang Minang, sontak saja warna suara teman bicaraku berubah.
Ada aura penghormatan, ada kekaguman, yang kemudian diikuti antusias
untuk menanyakan lebih jauh tentang MINANG. Pada titik diskusi inilah,
aku merasa kehilangan informasi untuk mendeskripsikan Minang kepada
mereka, hingga mulai saat itulah aku mulai rajin mencari buku-buku
Minang baik di Perpustakaan Kampus ataupun minta tolong dibelikan
kepada teman-teman yang stay di Padang. Lewat buku-buku yang terbatas
itulah aku memberikan penjelasan kepada “the others” dan membuat
makalah-makalah berbau filsafat tentang Minang di kelas-kelas kuliah
Fakultas Filsafat UGM yang beberapa tahun ini memang senang dengan
tema-tema Lokal Wisdom. Beberapa minggu yang lalu, aku terlibat dalam
pengeditan Disertasi dosen Filsafat UGM yang mengulas tentang Falsafah
Minangkabau, “Menjadi Orang dalam Filsafat Alam Takambang Jadi Guru
Minangkabau”.



Kembali pada perbincangan “Kegagalan KKM”, paling tidak ada
beberapa argumentasi yang dilontarkan oleh Kubu Kontra KKM (LKAAM
Sumbar, Dewan Kesenian Sumatera Barat (DKSB) dan ninik-mamak,
anak-kemenakan urang Minang yang tergabung dalam Gerakan Menolak
Kongres Kebudayaan Minangkabau -GM-KKM-):



1. KKM Ingin Mengembalikan Orang ke Titik Nol



“Ikrar tersebut jelas sebuah tindakan yang kurang ber-adab karena
ingin memposisikan Minangkabau kembali pada titik nol. Padahal orang
Minang di setiap nagari sudah meyakini, sepakat dan menjalankan ABS,
SBK sejak empat abad silam. Kita memaknai mereka, melalui KKM yang
diprakarsai bukan oleh orang Minang yang ada di ranah-minang, ingin
me-Minang-kan orang Minang, “



2. Berpotensi Menciptakan Konflik Vertikal dan Horizontal



Kongres Kebudayaan Minangkabau 2010 mengagendakan pembentukan Forum
Adat dan Syara’ (awalnya konseptor KKM ingin membentuk Majelis Adat dan
Syara’). Lembaga baru ini sebagaimana AD/ART yang sudah disiapkan, akan
dibentuk secara hirarkis mulai tingkat propinsi, kota/kabupaten,
kecamatan sampai ke nagari-nagari. Pranata adat Minangkabau yang ada di
setiap nagari seperti Karapatan Adat Nagari dan Majelis Ulama Nagari,
akan terganggu dengan munculnya Forum Adat dan Syara’.



“Jadi, Forum yang dibuat melalui kongres nanti sangat potensial
menciptakan konflik internal dan horizontal di wilayah kebudayaan
Minangkabau. Selain itu, membaca misi dan fungsi, Forum Adat dan Syara’
ini bisa dimanfaatkan untuk kepentingan politik kekuasaan.”



3. Penyeragaman Nilai-Nilai Adat Salingka Nagari dan Peserta Tidak Representatif



Konsep pikiran penggagas kongres menyeragamkan nilai-nilai adat dan
budaya Minangkabau tanpa mempertimbangkan Adat Salingka Nagari, Pusako
Salingka Kaum. KKM juga mencampurbaurkan antara wilayah adat/kebudayaan
Minangkabau dengan wilayah administrasi Provinsi Sumatera Barat.



“Lanjutan dari cara pikir yang tidak memahami karakter
adat/nilai/tatanan Minangkabau, kongres yang potensi diarahkan untuk
mengubah Minangkabau secara revolutif, pesertanya tidak mencerminkan
representasi ninik mamak dan perwakilan masyarakat adat dari
nagari-nagari yang ada. 

Justru yang akan diundang adalah aparatur
pemerintah mulai dari Gubernur, Walikota/Bupati, anggota DPRD
kota/kabupaten di Sumbar dan dari nagari akan dihadirkan 2 orang wakil
dari unsur tungku tigo sajarangan, bundo kanduang dan generasi muda.”



Selain ketiga alasan itu, saya juga mendapati beberapa testimoni yang 
menguatkan penolakan terhadap terselenggaranya KKM:



Wisran Hadi (Budayan Terkemuka Minang) dengan tegas mengatakan
bahwa kongres yang akan dilaksanakan itu tidak relevan dengan apa yang
sesungguhnya dibutuhkan rakyat Sumatera Barat saat ini.



Seniman Senior Darman Moenir: “Justru menimbulkan kekisruhan dan
perpecahan yang memburukan citra Minangkabau. Itu dapat dilihat dari
berbagai caci maki yang dialamatkan ke pemangku adat maupun kepada
kalangan perantau sendiri di internet.”



Wartawan senior Khairul Jasmi: Orang rantau terlalu over estimet
dalam melihat persoalan di kampung halaman. Kekhawatiran mereka akan
pelaksanaan ABS-SBK terlalu berlebihan. Soal adat kan sudah ada
fatsoennya bahwa itu berlaku untuk selingkar nagari. Lain nagari lain
adatnya. “Jadi bagaimana mungkin kongres akan menggeneralisir menjadi
satu ketentuan yang bersifat Sumatera Barat atau bahkan Minangkabau.”



Dibalik semua itu, saya berpikiran bahwa alasan utama penolakan
bukanlah terletak kepada semangat perbaikan untuk kampung yang diusung
oleh Gebu Minang sebagai orang rantau penggagas KKM, tapi 2 motif
psikologis:


Indikasi “Misi Politis” Gebu Minang yang berujung pada pelengseran
dominasi kekuasaan kaum adat yang mendominasi pranata-pranata sosial
saat ini di Minangkabau. Gelombang ini kentara terlihat pada niniak
mamak pemangku adat yang saat ini begitu diistimewakan lewat
Undang-Undang Otonomi Daerah. 

Ketakutan tanpa alasan, karena gejala ini
sudah tampak jelas ketika perhelatan Pilkada digelar di Sumatera Barat.


Dimana orang-orang sukses Rantau kembali ke kampung, turut bertarung
memperebutkan posisi-posisi strategis pemerintahan. 

Tapi apakah misi
politis serupa juga dimiliki oleh bapak-bapak sepuh di Gebu Minang?
Yang umurnya saja (maaf) tinggal menghitung hari??



Akumulasi kemarahan atas apatisme orang Rantau selama ini larut
gelimang kekayaan baru dan status baru di Rantau hingga mengabaikan
kondisi kampung halaman (bukan pengabaian dari sisi ekonomi tapi secara
religi-sosio-kultural) yang telah berlangsung beberapa dekade. 

Fenomena
ini akan tampak jelas pada lingkaran intelektual, budayawan, dan
seniman yang terengah-engah, bahkan hampir kehilangan nafas berjuang
“sendirian” tanpa dipedulikan orang Rantau demi mempertahankan
eksistensi adat dan falsafah Minangkabau yang didera perubahan
revolutif zaman. 

Tentu mereka akan bertanya-tanya, “Ketika masa sulit
dulu, kemana perginya orang Rantau? Saat jalan untuk membangkitkan
“batang tarandam” sudah terbuka lebar, kenapa pula orang Rantau
terlihat lebih sibuk dari kami yang dulu telah susah payah berjuang?”



Sebenarnya, kalau dikaji secara akademis-intelektual tidak ada
masalah dengan tema-tema yang telah dirumuskan oleh panitia KKM. 

Semua
kajian bisa didiskusikan dan diperdebatan lewat “basilek lidah”,
keterampilan alamiah yang dimiliki oleh setiap orang Minang. 

Bahkan
mungkin Orang Ranah lebih berpeluang memenangkan perdebatan karena
“pemahaman natural” mereka akan adat lebih kuat dibandingkan Orang
Rantau. 

Tapi kenapa sesuatu yang sebenarnya konstruktif untuk perbaikan
Minangkabau harus digagalkan oleh sesuatu substantif? 
Kenapa pula Orang
Ranah begitu reaktif pada acara yang sebenarnya bisa dikatakan sebagai
“ceremony” belaka karena begitu banyak seminar dan kongres yang
hasilnya terbang berlalu begitu saja seiring penutupan yang meriah?



Maka, atas dasar analisis itu penulis berpendapat bahwa MOTIF
PSIKOLOGIS-lah yang menjadi “pangkabala” semua itu. 

Jika sudah
berkelibat dengan perasaan, maka alamat kusut akan susah diurai.

Apalagi melihat kuatnya budaya egaliterian orang Minang yang tidak
ingin kalah satu langkahpun. 

Tak ingin diinjak-injak selunak apapun,
tak ingin dilecehkan sedikitpun. Harga diri orang Minang terlalu kuat,
hingga lebih baik badan melarat daripada muka tercoreng arang.



Luka di tubuh bisa diobati, tapi luka di hati entah kemana obat
dicari. Apabila rekonsilisasi perasaan tidak segera dilakukan maka
hubungan Kampung dan Ranah akan semakin memburuk. Orang-orang Kampung
akan terus merasa pintar mengurus Ranah tanpa bantuan orang Rantau.
Orang-orang Rantaupun akan semakin enggan memikirkan kampung karena tak
pemikiran mereka tak terpakai di kampung. 

Jika sudah begini yang
kasihan adalah anak-anak muda generasi penerus Minangkabau. Masih
beruntung jika mereka masih mau berusaha mencari identitas diri. Tapi,
jika merekapun sudah tak mau bersusah-susah memikirkan jati diri
etnisitas, alamat Minang hanya tinggal nama saja.



Sedikit saya hanya ingin mengajak kita merenung bersama. Cubalah
lihatlah makam-makam orang-orang besar Minang yang telah tertulis
namanya dengan tinta emas sejarah. Nama-nama yang begitu
dibangga-banggakan namanya saat ini. Menjadikan kita sebagai suku
bangsa yang dihormati sebagai suku bangsa di wilayah nusantara ini.
Sebutlah Buya Hamka, Tan Malaka, Hatta, Syahrir, Agus Salim, Syaikh
Ahmad Khatib Al Minangkabawi, Mohammad Natsir, apakah mereka di kubur
di ranah Minang? Apakah mereka menghabiskan hari tuanya di ranah
Minang? Ternyata tidak. Mereka “terluntang-lantung” di rantau. Sampai
akhirnya menghembuskan nafas di rantau. Bukan karena tak sayang
kampung, tapi hidup mereka telah diabdikan untuk sesuatu yang lebih
besar. Demi bangsa dan agama. Tapi, meskipun demikian, MEREKA TETAP
MINANG. Masih tersurat kata-kata Minang dalam tulisan-tulisan abadi
yang mereka tuliskan.



Bagiku Minang adalah darah. Yang tak akan terputus sampai generasi
terakhir sampai kiamat datang menjelang. Ia akan tetap hidup meski
harus bertarung dengan perubahan. Ia akan tetap harum oleh
generasi-generasi terbaiknya yang terus hadir sepanjang zaman. 


Oleh karena itu, MARILAH BERSATU MINANGKU. LEBURLAH SEKAT RANAH DAN RANTAU… 
KARENA KITA HANYA SATU, ORANG MINANGKABAU…



*) penulis adalah putra Minang alumni Fak Filsafat UGM Yogya


Catatan: tambahan image dan bold dari AI




-- 

.

Posting yang berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan di tempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~

===========================================================

UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:

- DILARANG:

  1. E-mail besar dari 200KB;

  2. E-mail attachment, tawarkan di sini dan kirim melalui jalur pribadi; 

  3. One Liner.

- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet

- Tulis Nama, Umur dan Lokasi pada setiap posting

- Hapus footer dan seluruh bagian tidak perlu dalam melakukan reply

- Untuk topik/subjek baru buat e-mail baru, tidak me-reply e-mail lama dan 
mengganti subjeknya.

===========================================================

Berhenti, bergabung kembali serta ingin mengubah konfigurasi/setting-an 
keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.







      

-- 

.

Posting yang berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan di tempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~

===========================================================

UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:

- DILARANG:

  1. E-mail besar dari 200KB;

  2. E-mail attachment, tawarkan di sini dan kirim melalui jalur pribadi; 

  3. One Liner.

- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet

- Tulis Nama, Umur dan Lokasi pada setiap posting

- Hapus footer dan seluruh bagian tidak perlu dalam melakukan reply

- Untuk topik/subjek baru buat e-mail baru, tidak me-reply e-mail lama dan 
mengganti subjeknya.

===========================================================

Berhenti, bergabung kembali serta ingin mengubah konfigurasi/setting-an 
keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.




-- 

.

Posting yang berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan di tempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~

===========================================================

UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:

- DILARANG:

  1. E-mail besar dari 200KB;

  2. E-mail attachment, tawarkan di sini dan kirim melalui jalur pribadi; 

  3. One Liner.

- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet

- Tulis Nama, Umur dan Lokasi pada setiap posting

- Hapus footer dan seluruh bagian tidak perlu dalam melakukan reply

- Untuk topik/subjek baru buat e-mail baru, tidak me-reply e-mail lama dan 
mengganti subjeknya.

===========================================================

Berhenti, bergabung kembali serta ingin mengubah konfigurasi/setting-an 
keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.




      

-- 
.
Posting yang berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan di tempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini dan kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur dan Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer dan seluruh bagian tidak perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat e-mail baru, tidak me-reply e-mail lama dan 
mengganti subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin mengubah konfigurasi/setting-an 
keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.

Kirim email ke