Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh,
Mulah mbo sambuang carito nangko, nak sanang kiro-kiro ambo buliah lansai utang hehe… Pasar kecil di dalam komplek ruko dan perumahan ini sangatlah complete, ini menurutku sih. Disini kita bisa menemukan apa saja yang kita inginkan, jangankan untuk keperluan masak-memasak, warnet, bank, tempat les sampai perguruan tinggipun ada. Makanya kubilang sangat komplit. Jangankan kita ingin berbelanja di jam-jam yang seharusnya ayam udah mau masuk kandang kalo di kampung. Masalahnya tukang ayamnya di pasar ini menempatkan kandang-kandang ayam yang bertingkat-tingkat di dinding belakang toko ayam potong dan daging potong ini. Mereka menyediakan segala macam jenis daging ayam, mulai dari yang beku sampai yang masih bernyawa yang lagi matuk-matuk jagung. Bocoran sedikit untuk para ibu-ibu yang ingin mendapatkan bagian ayam yang paling strategis yaitu paha ayam. Ayam-ayam itu biasanya dibelah empat untuk ayam ukuran kira-kira 1,5 kg seekor. Maka pilihlah pahanya saja, selain lebih enak dagingnya di bagian itu, kitapun juga tidak rugi. Ini sih bocoran dari si penjual sendiri, sebab jika beli satu ekor, maka utuh ayam tersebut ditimbang, namun setelah dibersihkan akan kurang beratnya 1 sampai 2 ons. Lumayan bukan? Jika beli 5 kg masing-masing ayamnya 1 kg, maka akan terbuang percuma 1 kg sebagai sampah dari ayam potong itu. Nah makanya saya beli ayam yang sudah potong empat dan saya hanya pilih bagian pahanya saja. Takut akan tidak fresh, ho..ho..ho.. don’t worry.. di tempat ini semuanya transparent . Kita bisa lihat semua proses mulai dari ayam itu di sembelih dengan sedikit gerakan Basmalah di mulut si abang, sampai ayam itu diputar mesin pembersih bulu. Sehingga ayam potong ini ketika sampai di nampan besar tempat ayam sudah dipotong masih dalam kondisi sedikit hangat. Akhirnya ku beli ayam ini sebanyak 3,5 kg. Nah, dilemma datang ketika nak membeli daging, sebab pilihan daging agak susah kupilih. Kenapa ya? Harganya itu mak..oi.. selangit… Bayangkan saudara-saudaraku…daging dibandrol 90,000 sekilonya yang baru disembeleh itu....pengsan dah. Sebab rendang untuk ukuran hari lebaran di rumahku yang orang pada tau, istrinya yang punya rumah orang padang, so pasti ada rendang..ya gitu deh.. harus bikin yang banyak. Akhirnya aku menyerah untuk membeli daging has yang beku dengan harga Rp. 45,000 per kg sebab aku udah diingetin ama si Mas, bikin agak banyakan dari tahun kemaren..ya.. kalo tahun kemaren aku bikin 2,5 kg maka sekarang aku pikir 4 kg cukuplah. Lagian rasanya ga terlalu jauh berbeda, hanya manisnya dalam bentuk kalio saja agak sedikit nampak, ketika sudah kering menjadi rendang akan susah dibedakan apakah dia aslinya daging beku atau fresh. Hahaha… pembelaan diri yang benar-benar tidak dapat dipertanggung jawabkan. Daging has ini sudah berbentuk bulatan beku daging yang dibungkus plastik transparent, dimana dari warnanya saja nampak jika daging ini benar-benar disisihkan dari bagian has sebab warnanya merah bagus. Dari frezer si mbak tukang daging yang berjilbab dalam ini, diambilnya beberapa bongkah daging has beku ini, dan kuputuskan mengambil 6 keping yang ketika ditimbang beratnya 4,2 kg, okelah angkat. Ketika mbak ini membuka frezernya itu sekilas aku melihat dia mengangkat kantong plastik trasparant yang sepertinya itu usus sapi. Ketika kutanyakan apakah masih ada usus sapi dai sapi yang baru disembelih itu, ternyata itulah ususnya. Mereka simpan karena ga tahan baunya kalo ditaruh terbuka di atas meja saji toko itu. Usus ini kalo belum mateng Mbak, aduh…ampun baunya. Makanya si Mbak itu simpan setelah dicuci anak buahnya di dalam frezer. Langsung kubeli ½ kg saja, sebab ½ kg saja kira-kira udah 2,5 meter panjangnya. Cukuplah untuk experientku nanti malam. Kulirik di tempat penjualan bumbu giling yang lagi sibuk-sibuknya mencurah potongan-potongan bumbu yang telah dicuci ke mesin giling mereka yang terletak di bagian belakang toko bumbu tersebut. Uniang dengan Ajo adalah pasangan suami istri yang berhasil menjadi panggaleh bumbu nomor satu diseputaran kawasan ini, kalo boleh bilang sih, mungkin se-batam. Kenapa aku sampai mencap seperti itu? Karena aku dah survey beli bumbu-bumbu dari beberapa pasar yang ada di batam ini, hampir semuanya ga ada yang fresh. Artinya bumbu tersebut sudah beberapa hari atau entah beberapa minggu telah digiling tetapi masih juga disajikan untuk orang yang beli bumbu, sehingga bumbu itu terasa telah terpermentasi menjadi asam dan bau yang tidak enak. Sedangkan Uniang dan Ajo ini selalu menggiling bumbu-bumbu yang akan dijualnya ini di setiap harinya. Ondeh.. Ni…lah jadi rumah kadai kami ko…kadang lalok se disiko dek kalatiahan. Itulah sedikit percakapanku dengan sang Uniang di tahun-tahun lalu, ketika dia baru dikenal sebagai penjual bumbu yang oke punya. Sekarang hasil keringat mereka yang nyata kulihat adalah sebuah Avanza hijau pucuk parkir tidak jauh dari depan toko bumbunya dengan plastik jok masih ada yang belum dibuka. Begitulah salah satu si padang di pasar itu yang berhasil dengan modal kejujurannya. Kenapa kubilang jujur, sebab apapun kondisi bumbu, dia katakana dengan jujur sehingga orang yakin untuk membeli sebab hasilnya yakin tidak meleset. Coba saudaraku bayangkan, ketika bumbu rendang yang sudah sangat asam dikatakan masih baru, terus yang masaknya pembantu pula. Bayangkan berapa kerugian baik materil maupun moral yang timbul? Mengerikan bukan?. Nah saudaraku…penjual bumbu yang jujur adalah orang pilihan dan pujaan bagi ibu-ibu yang sibuk seperti halnya aku hehe… Maka berpindahlah beberapa bungkus bumbu yang telah digiling halus dengan langkok daun ke dalam kantong plastik asoy belanjaanku. Jam 6 petang itu aku bersama si Mas sudah dalam perjalanan pulang ke rumah, yang sebenarnya lumayan melelahkan, apalagi tadi di salon aku sempat ngantuk luar biasa, sebab ibu-ibu di samping kiri kananku juga kelelahan terakuk-akuk. Sesampainya di rumah, ayamlah yang pertama kucuci, setelah dicuci langsung masuk periuk dan kucampur dengan bumbu dan daun-daun opor untuk diungkap saja sampai empuk. Setelah itu langsung kusimpan dengan Tupperware di bawah frezer di dalam kulkas. Besok malam barulah ku kasih santan supaya pagi di hari lebarannya pas untuk disajikan. Ohya kawan..taukah dirimu membuat opor ini terkadang sangat memilukan hati? Opor yang bukan masakan nenek moyangku itu, gampang-gampang susah. Dia tertampil mesti dengan santan yang seperti baru saja dimasukkan ke dalam gulai, sehingga warna putih santan tidak terlalu padu dengan lemak ayam yang tersisa-sisa di periuknya. Untuk mempertahankan itu kita perlu persediaan santan yang fresh. Jika terlalu di rebus-rebus terus, akan timbul minyak dari santan. Ketika itu terjadi, dia bukan opor lagi tetapi gulai ayam. Namun jika tidak dipanaskan maka dengan sangat mudah dia akan menjadi berbuih dan ayam menjadi kemerahan dan asam. Oporpun tamat riwayatnya, ga bisa disajikan lagi. Seperti tetanggaku yang lebaran ke rumah, mereka bercerita tentang opornya yang satu periuk besar yang ga bisa dinikmati lagi sebab sudah berbuih-buih ketika sore ketika berbalik ke rumah setelah berlebaran ke rumah sodaranya. Aduh… Mama Zaki.. ketupat saya terpaksa dimakan dengan lauk yang lain..Menyedihkan dan merepotkan bukan??? To be continued.. Wassalam Rina, 33, batam -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta r...@ntaunet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.
