*
27 September 2010
Gempa Padang
Penantian di 'Kandang Jawi'
RUMAH Nurcahya, 70 tahun, kini tinggal satu kamar tidur. Din-dingnya kayu
bekas, atapnya seng. Padahal tepat di lokasi itu dulu berdiri rumah dengan tiga
kamar tidur, yang terban akibat gempa berkekuatan 7,9 skala Richter, pada 30
September tahun lalu. "Mirip kandang jawi," kata Sumardi, anak lelaki Nurcahya.
"Jawi" adalah cara orang Minang menyebut sapi.
Sumardi bercerita keluarganya tak punya cukup uang untuk membangun
kembali rumah yang terletak di Jalan Ampang, Padang, itu. Rumah tersebut pernah
ditempeli kertas merah, pertanda rusak berat, dan akan diberi bantuan
rehabilitasi Rp 15 juta. "Tapi sampai sekarang tak ada bantuan itu," kata
Sumardi.
Total rumah rusak akibat gempa tahun lalu itu hampir 250 ribu unit,
meliputi rusak berat, rusak sedang, dan rusak ringan. Sebagian memang menerima
bantuan, tapi banyak yang mengaku dipotong. "Katanya untuk biaya pengurusan
administrasi," kata Harnayati, warga Buluh Kasok, Padang. Untuk bantuan tahap
satu rumah orang tuanya yang rusak sedang, mestinya ia menerima Rp 5 juta. Tapi
bantuan itu dipotong Rp 150 ribu.
Tak hanya rumah penduduk, bangunan milik pemerintah dan fasilitas umum
pun banyak yang terbengkalai. Di se-pan-jang jalan protokol, seperti Jalan
Sudirman atau Jalan Khatib Sulaiman, gedung-gedung pemerintah yang rusak berat
belum dirobohkan. Puing bangunan masih teronggok. Baru kantor Badan Perencanaan
Pembangunan Daerah dan Dinas Pendidikan yang mulai dibersihkan dengan alat
berat, awal bulan ini.
Kantor gubernur yang berlantai empat hanya digunakan dua lantai. Gubernur
Irwan Prayitno menggunakan bekas kantor Dharma Wanita di sam-ping gedung utama
kantor gubernur. Bahkan, pada pelantikan gubernur, Agustus lalu, acara digelar
di bekas garasi Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Sumatera Barat yang telah
disulap menjadi ruang sidang paripurna.
Banyak pula sekolah yang ambruk belum tersentuh pembangunan. Siswa
Sekolah Menengah Pertama Negeri 25 dan SMP Negeri 7 Padang harus belajar di
kelas darurat yang sempit dan panas. Ada juga yang dititipkan di taman
pendidikan Al-Quran di sebuah masjid.
Ketua Tim Pelaksana Teknis Rehabilitasi dan Rekonstruksi Sumatera Barat
Sugimin Pranoto mengakui lambannya bantuan untuk korban gempa dan keseluruhan
rehabilitasi dan rekonstruksi. Ia mencontohkan, untuk dana rehabilitasi dan
rekonstruksi tahap satu, yang sudah dikucurkan pemerintah pusat pada Desember
tahun lalu Rp 313,9 miliar, baru cair sekitar 17,83 persen pada Mei lalu.
"Lambatnya pencairan dana karena prosedurnya yang panjang," katanya pekan
lalu. "Dari pusat masuk dulu ke APBD Sumatera Barat melalui Peraturan Gubernur,
dibahas lagi di DPRD, lalu nanti ke kabupaten dan kota." Karena itu, bantuan
tahap kedua Rp 2 triliun, menurut Sugimin, akan langsung ditangani Badan
Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
Untuk infrastruktur seperti bangunan pemerintah, rumah sakit, dan
sekolah, baru dialokasikan pada 2011, Rp 3,6 triliun. "Tapi dananya masih
dicari," kata Sugimin. Ia mengaku diberi tahu dana rekonstruksi dan
rehabilitasi sudah dialokasikan ke kementerian. "Nah, ini yang perlu dicek."
Gubernur Irwan Prayitno membenarkan problem dana untuk rehabilitasi dan
rekonstruksi itu. Dia berharap dana tersebut tidak melalui anggaran pendapatan
dan belanja daerah, agar proses penggunaannya bisa lebih cepat. "Kami sudah
menyurati Presiden, supaya tidak melalui kementerian dan lembaga, tapi langsung
ke BNPB," katanya. "Kalau lewat kementerian, nanti tidak berfokus ke Sumatera
Barat."
Purwani Diyah Prabandari, Febriyanti (Padang)
--
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta r...@ntaunet
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
1. E-mail besar dari 200KB;
2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi;
3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.