Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh,

Adidunsanak lapau yang mulia, ambo cubo taruihan bangkalai tulisan nan
kapatang tu,

Minta maaf ambo jiko ado nan kurang bakenan atau ado salah jangganyo.

 

Samba Rirayo 4 (Tambunsu)

By : Ritrina

 

 

Mengisi usus sapi menjadi bahan gulai yang disebut tambunsu ini memang
pekerjaan yang melelahkan juga. Bagaimana tidak, aku harus berjuang dengan
baunya yang bikin hidung kewer-kewer.  Walaupun usus sapi ini benar-benar
fresh baru dipotong siang harinya. Ohya saudaraku.kuingatkan lagi jika saat
yang kuceritakan ini jam lagi menunjukkan angka 8.30 pm. Nah akhirnya adonan
telahpun habis namun sang usus masih ada yang belum kebagian diisi. Gak
apa-apalah kupikir, inipun udah terlalu banyak untuk ukuran 20 porsi orang
makan secara normal, gak jamin kalo ternyata nantinya mereka yang makan
meliarkan nafsu makannya di Hari Lebaran besok lusa itu. Setelah ku teliti
lagi ikatan-ikatan simpul ujung si sosis usus itu, dengan hati-hati
kumasukkan mereka ke dalam panci presto untuk kurebus. Dengan panci presto
biar usus yang alot jadi lembut akan halnya seperti telur bertahu di
dalamnya itu. Gampang untuk disendok nantinya.

 

Setelah beberapa saat sang panci bersenandung dengan peluitnya itu,
kumatikan api kompornya. Setelah panci agak mendingin barulah terdengar
bunyi klik halus sebagai tanda dari si panci kalo yang punya gawe boleh
ngintip hasil experimentnya. Tahukah dirimu wahai saudara-saudaraku, jika
dirimu ingin mendapatkan kikil, babat baik itu yang handuk atau kitab
sebaiknya dirimu manfaatkan kelihaian sang panci presto ini, sebab dengan
waktu singkat dan menghemat energy gas atau minyak bumi, dirimu telah
mendapatkan babat dan kikil yang empuk dan lembut, toh tulang ikan aja bisa
dibikinnya lembut. Jangan khawatir juga, diriku ini bukanlah seorang sales
dari salah satu merk produk peralatan masak lho. Ini hanya berbagi ikhlash
dengan sesama penderita kecanduan experiment memasak yang ingin membuktikan
diri bisa memasak..haha..lebay ya.

 

Hasil yang kudapatkan dari periuk ini lumayan menyenangkan hatiku yang
sangat antusiasnya. Hanya dua potong sosis sepanjang sejengkal saja yang
meletus kulitnya sehingga isinya jadi seperti sosis ikan kebesaran gitu,
nampak gurat-gurat telur dan tahunya yang memutih padat. Mungkin diriku
terlalu semangat mengisinya sehingga mereka terlalu padat, dimana sang usus
tidak sanggup menahan sesakan massa dari isinya yang memadat dan sedikit
menggembung. Namun kawan-kawannya yang lain cantik-cantik dan rapi-rapi,
agaknya mereka sudah bersiap diri untuk kupotong-potong nantinya berenang di
dalam kuah gulai tambunsu yang akan kubikin besok sore, setelah rendang
sewajan raksasa gila bener ini selesai menjadi yang namanya rendang si
padang. Jadi mereka kutidurkan dulu di dalam taperware di dalam kulkas
menemani sekotak besar ayam bahan untuk opor yang juga telah setengah jadi. 

 

Sekarang tinggal bagian yang paling tidak menyenangkan, ya bersih-bersih,
tahukah dirimu sobatku. menghadapi kekotoran ini, dirimu harus siap pula
larut dengan kekotoran itu dan basah-basah dihadapan keangkuhan wastafel
tempat cuci piring yang suka usil muncrat sana sini dengan air bersabun atau
sekedar air dari kran yang mengalir itu. Malam-malam dengan kondisi  angin
mulai agak kencang berhembus melewati pintu dapur yang terbuka setengah dan
jendela tinggi membuat hati mendingin juga bersama bersihnya setumpuk panci,
wajan  dan peralatan makan lainnya yang sudah tertumpuk bersih di sisi
wastafel ini. Kulihat jam di dinding telahpun menunjukkan angka 10.30 pm,
sepertinya sudah waktunya bergabung dengan mereka yang sudah pulas di kamar
depan. Ohya, mereka yang kumaksud itu adalah rombongan para jagoanku yang
telah menyusup kembali ke rumah untuk tidur mendahului Mamanya yang masih
berkutat di dapur. 

 

Allahu akbar..Allahu Akbar.. Allahu Akbar. Laailahaillahuwallahu
Akbar..Allahu Akbar Walillahilhamd..

Akhirnya berakhir sudah sang bulan penuh perkah dan kenangan mulia yang tak
terlupakan itu, dia telah dengan pasti beranjak meninggalkan semua yang
mencintainya. Hari Raya atau Lebaran ini keluarga kecil yang tinggal di
sebuah bukit yang oleh developer perumahan ini dipotong saparo untuk
dijadikan perumahan itu, mulai pulang dari sembahyang sunah Hari Raya dari
Mesjid yang berada di puncaknya itu, dari halaman mesjid yang menyajikan
pemandangan cantik seputaran laut Sekupang, Marina dan danau Sungai Harapan
ini, tampak hampir semua yang hadir saling bermaaf-maafan menyucikan hati. 

 

Setelah acara saling bermaafan di antara anggota keluarga kecil yang masih
ada si kecil yang belum terlalu mengerti makna maaf-maafan itu sendiri,
mulailah datang rombongan pertama pasukan anti huru hara eh bukan.pasukan
nambang. Mereka menciptakan sendiri arti silaturahim di Hari Raya ini dengan
caranya sendiri. Cepat-cepat minum minuman kalengnya, buru-buru menyantap
kuenya, diam-diam menyimpan permen di saku dan dengan sangat siap sedia
untuk bersalaman pamitan dengan harapan besar ada tempelannya. Begitulah
dari tahun ke tahun semenjak diriku kecil sampai udah punya anak kecil juga,
sama aja, dimana-mana, di negeriku ini.  Mereka akan menandai rumah-rumah
sasaran tembak untuk manambang ini, informasi dari mulut ke mulut kecil
mereka melesat bagai panah sehingga rumah-rumah sasaran itu harus siap sedia
dengan tukaran "pitih karateh kareh" sebagai tempelan bagi pasukan tambang
ini. Mereka biasanya membentuk rombongan-rombongan kecil sehingga dengan
tertib akan berganti-ganti masuk ke rumah-rumah sasaran seperti telah
direncanakan saja.  Dunia anak yang penuh keceriaan yang tidak tergantikan
dengan fase kehidupan di depannya.

 

Saudaraku.. kuyakin dirimu ingin sekali mengetahui bagaimanakah tampilan isi
yang tertata di meja makan di rumah kecil ini. Menu hari itu sungguh menu
berat-berat yang full protein. Opor ayam dengan santan encernya bersanding
dengan tahu potongan segitiga bertabur bawang goreng yang mewangi. Rendang
si padang yang berwarga "galok" berteman beberapa butir kentang meronainya,
full wangi rempah. Sang maestro si gulai Tambunsu full protein yang
menggiurkan sebab lekuk-lekuk bulatan yang terpotong-potong itu seperti
berbicara..ayo..ayo.inilah diriku...sedap nian untuk kawan makan ketupat
itu.. Sungguh menggoda tampilannya dengan kuah yang agak pekat full kunyit
sehingga hampir mendekati warna jamunya si mbak jamu gendong itu. Memberikan
warna kuning kunyit yang semlohai bagi sang usus yang telah menjelma menjadi
tambunsu di atas mangkok saji di meja kecil itu. Emping belinjo yang sangat
narsis bagi penderita asam urat itupun bercokol dengan angkuhnya member
sentuhan magic di dalam wadah Tupperware yang tertutup rapat itu.
Sepertinya hari ini nasi tidak lagi diperhatikan, perhatian ke dia itu
beralih ke ketupat-ketupat yang telah dipotong-potong di sebuah mangkok
besar. Begini urutannya ; ketupat sebagai alas dasar piring, sepotong paha
ayam opor, sepotong rendang si padang dengan sebutir kentang berlumur
dedaknya, sang maestro tambunsu menghias dengan apik, onggokan memaksa di
sudut kerupuk melinjo dan terakhir wangian taburan si bawang goreng.
Begitulah piring full yang kulihat hari itu.

 

Takukah dirimu kawan-kawanku. diriku sangat menikmati suapan demi suapan
dari piring penuh "balanjuang" yang disuap para tetamu di rumah kami yang
kecil ini. Dengan sangat menyesal kukabarkan kawan. sang maestro tambunsu
itu menjelang sore hari, dengan sukses menamatkan riwayatnya di atas piring
si Masku yang ketagihan. Haha. setelah ku hitung-hitung, dia telah makan
sebanyak 6 kali dalam satu hari ini, dengan alasan klise ; menghormati sang
tamu dengan menemani mereka makan. Anak-anakku tercinta hanya si kecil yang
menikmati opor dan tambunsunya sebab dia udah mulai ompong. Sedangkan sang
abang tetap ke menu tunggal kegemarannya, mau gimanapun Mamanya merayu,
tetap tempe goreng atau telur omlet dadar jadi menu top markotop dia.
Sampai-sampai harus menyembunyikan telur dari penglihatannya, jika tidak dia
akan dengan senang hati menyiapkan diri untuk jadi assisten koki di dapur
dengan memulai dengan memecahkan telur di mangkok. Dengan begitu dia yakin
Mamanya akan dengan cepat akan menggorengkan untuk santapannya. 

 

Tamat

 

Batam Island

September 28th,2010

 

Alhamdulillah berakhir juga kisah samba rirayo ini dengan sang maestro si
gulai tambunsu ini. Banyak maaf jika ada keanehan disana-sini. Sebab itu
memang disengaja.

 

Wassalam

Rina, 33, batam

 

 

 

 

 

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.

Kirim email ke