(sebuah referensi untuk nakan Ramadhanil plus catatan kecil bahwa sebagai gerakan pembaharu pendiri Muhammadiyah KH. Ahmad Dahlan terinspirasi oleh tokoh reformis Mesir Muhammad `Abduh. Wallahualam, Wassalam, SBK)
Jumat, 06 Juni 2008 Oleh Musriadi Musanif (Ketua Bidang Politik dan Kebijakan PublikPimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah Pabasko) http://www.hariansinggalang.co.id/index.php?option=com_content&task=view&id=293&Itemid=314 PERSYARIKATAN Muhammadiyah yang didirikan KH. Ahmad Dahlan pada 18 November 1912, ternyata kini telah subur dan berkembang. Tidak hanya di Indonesia, tetapi juga menyebar ke mancanegara. Setidaknya, Muhammadiyah dan perwakilan Muhammadiyah kini telah eksis di Singapura, Malaysia, Thailand, Kamboja, Jepang, Australia, Amerika Serikat dan Mesir. Khusus untuk kawasan Asia Tenggara, Persyarikatan Muhammadiyah bergabung dalam satu sekretariat yang dinamakan dengan Sekretariat Jendral Muhammadiyah Asean, berkedudukan di Batam. Saat ini, ketuanya adalah H. Rusydi Hamka dari Muhammadiyah Indonesia dengan sekretaris jendral Djamal Tukimin dari Muhammadiyah Singapura. Dalam suatu kesempatan, penulis berbincang-bincang dengan Sekjen Muhammadiyah Asean, Djamal Tukimin. Lewat perbincangan tersebut diketahui, sesungguhnya sebagai organisasi pembaharuan (tajdid), Muhammadiyah telah menyebar ke kawasan Asean sejak 1930, hanya 18 tahun setelah didirikan di Yogyakarta. Menariknya, di Singapura, Malaysia, Thailand dan Kamboja, pada awal-awal pergerakan, KH. Ahmad Dahlan selaku pendiri Muhammadiyah justru tidak terlalu populer, tapi Muhammadiyah mendapat tempat di tengah-tengah masyarakat Islam pelopor pembaharuan di negara itu. Sementara itu, Hasan Bandung justru sangat populer di sana karena pemikirannya, sementara organisasi yang didirikannya, Persis, hampir tidak dikenal oleh masyarakat setempat. Menurut cerita Djamal, salah seorang cucu KH. Ahmad Dahlan, Dr. Winai Dahlan yang sehari-harinya menjabat Direktur Halal Center Bangkok, menjadi seorang pelopor dan penggerak organisasi ini di Thailand. Selain di Bangkok, Muhammadiyah juga cukup berpengaruh dan eksis di Pattani, Yala, Thailand Selatan. Di Malaysia, menurut Djamal Tukimin, Muhammadiyah eksis dan sangat berpengaruh di Pulau Penang. Dari sini pulalah konsep pembentukan Sekjen Muhammadiyah Asean dimatangkan lewat pertemuan yang digelar pada tahun 2004. Dari Indonesia, waktu itu Muhammadiyah diwakili oleh H. Rusydi Hamka dan Goodwill Zubeir, dua tokoh Muhammadiyah asal Sumatra Barat. Selain pimpinan tingkat nasional, rombongan Muhammadiyah Indonesia waktu itu juga mengikutsertakan Pimpinan Daerah Muhammadiyah Batam dan Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Provinsi Riau. Kini, setelah berusia empat tahun, Sekretariat Jendral Muhammadiyah Asean yang berkedudukan di Batam itu, memang, belum terasa eksistensinya, terutama di tengah-tengah masyarakat Indonesia. Sementara bagi Muhammadiyah dan masyarakat Islam di Singapura, Malaysia, Thailand dan Kamboja, kehadiran sekretariat jendral itu justru terasa kian diperlukan. Menurut Djamal Tukimin, pihaknya selalu aktif memberi motivasi dan membantu menyelesaikan banyak persoalan keumatan di keempat negara tersebut di atas. Bahkan, dalam kondisi-kondisi tertentu, tim dari Muhammadiyah Asean langsung turun ke lapangan memberi penyuluhan-penyuluhan keagamaan, sehingga terjadi pemurnian pelaksanaan ibadah dan muamalah umat. Salah satun prinsip utama yang diusung Muhammadiyah, menunut Djamal, adalah memberangus tahyul, bid'ah dan churafat (TBC) dalam ibadah. Persoalan itu, katanya, selalu menjadi perhatian utama Muhammadiyah Asean dalam beragam kegiatannya di lapangan. Ibadah umat yang terhindar dari TBC, tambahnya, menjadi satu ciri khas perjuangan Muhammadiyah sejak zaman KH. Ahmad Dahlan hingga kini. Itu pulalah sebabnya, semboyan `kembali kepada Alquran dan Sunnah yang Shahih' menjadi referensi utama warga Muhammadiyah di mana pun dia berdakwah. Peran Sumbar Sejak didirikan di Yogyakarta, Muhammadiyah boleh dikatakan dibesarkan dan dimekarkan oleh orang-orang Sumatra Barat. Tidak sedikit tokoh-tokoh Muhammadiyah yang berasal dari Sumbar. Nama-nama seperti Prof. Dr. Hamka, AR St. Mansoer, Drs. H. Lukman Haroen, Prof. Dr. HA. Syafi'i Ma'arif, Drs. H. Rusydi Hamka, dan banyak nama lainnya, jelas tidak bisa dilepaskan dari perannya dalam membesarkan Muhammadiyah di mata internasional. Dalam pengembangan Muhammadiyah ke nusantara dan kawasan Asean, peran tokoh-tokoh dan saudagar asal Minangkabau (dhi Sumbar) jelas sangat besar. Muhammadiyah berkembaang di Sumatra Utara, Riau, Kepulauan Riau, Aceh, Sumatra Selatan, Bengkulu, Makassar, Manado, Banjarmasin dan Samarinda, berkat kerja keras ulama dan saudagar Sumbar. Selain itu, ribuan kader Muhammadiyah yang berasal dari hampir seluruh wilayah Indonesia dan kawasan Asean, mendapat pendidikan formal dan pelatihan kepemimpinan dari perguruan-perguruan Muhammadiyah di Sumbar, terutama tamatan Kulliyatul Muballighien Muhammadiyah (KMM) Kauman, Padang Panjang yang didirikan oleh Prof. Dr. Hamka pada tahun 1936. Saking besarnya peran orang-orang Sumbar, di beberapa kawasan di Indonesia Timur dan Kepulauan Riau, organisasi Muhammadiyah itu kerap diidentikkan orang dengan organisasi warga Minangkabau. Kendati Muhammadiyah lebih melebarkan sayapnya ke tengah-tengah masyarakat setempat. Akan tetapi satu hal yang hampir dapat dipastikan, orang Minang di kawasan-kawasan tersebut di atas hampir dapat dipastikan adalah juga pimpinan, anggota dan simpatisan Muhammadiyah di daerah yang bersangkutan. Saat diadakan pertemuan-pertemuan Muhammadiyah tingkat nasional dan Asean, rona Sumatra Barat itu amat terasa. Banyak pimpinan-pimpinan Muhammadiyah yang hadir pada pertemuan tersebut justru mengaku keturunan Sumbar, atau setidak-tidaknya pernah mengikuti pendidikan di Sumbar. Menilik kepada sejarahnya pun, Sekretariat Jendral Muhammadiyah Asean, ternyata juga turut dibidani oleh tokoh-tokoh nasional asal Sumbar, dalam hal ini adalah Rusydi Hamka dan Goodwill Zubeir. Lantaran demikian besarnya peran Sumbar dalam perkembangan Muhammadiyah, semestinya organisasi ini eksis dalam arti yang sesungguhnya di tengah-tengah masyarakat. Akan tetapi, kenyataan justru bertolak belakang dari kenyataan. Orang-orang Sumbar `hebat' mengembangkan amal usaha Muhammadiyah di luar Sumbar, akan tetapi `lemah' untuk daerahnya sendiri. Cobalah perhatikan betapa memprihatinkannya kondisi Universitas Muhammadiyah Sumatra Barat (UMSB), padahal Universitas Muhammadiyah Hamka, Universitas Muhammadiyah Sumatra Utara, Universitas Muhammadiyah Bengkulu, Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan danh Universitas Muhammadiyah Palembang yang eksistensinya sangat diperhitungkan itu, justru banyak dikembakan oleh orang-orang yang pernah mengecap pendidikan di UMSB. Kondisinya bisa lebih memiriskan lagi bila kita menyebut Rumah Sakit Muhammadiyah, Panti Asuhan Aisyiyah, radio Muhammadiyah dan lembaga-lembaga amal lainnya. Harapan kita, seiring dengan besarnya kiprah warga asal Sumbar mengembangkan Muhammadiyah di luar daerah, bisa memotivasi tokoh-tokoh Muhammadiyah di Sumbar untuk lebih mengembangkan organisasinya, sehingga bisa tegak sama tinggi dan duduk sama rendah dengan Muhammadiyah dari daerah-daerah lainnya di Indonesia dan kawasan Asean.*** -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta r...@ntaunet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.
