Adidunsanak di palanta

 

Iko ambo lewakan ka palanta saketek kisah antaro sejarah Mandailing ("bukan"
Mandailiang) dengan sejarah Pagaruyuang dari sebuah blog.

Kutipannyo sbb:

Di pertengah abad ke-14, terdapat legenda tiga anak Yang Dipertuan Pagar
Ruyung yang bernama Betara Sinomba, Putri Langgoni dan yang bungsunya Betara
Gorga Pinanyungan yang mendirikan dua buah kerajaan baru. Betara Sinomba
telah di usir oleh Yang Dipertuan dari Pagar Ruyung karena kesalahan bermula
dengan adiknya Putri Langgoni.

 

Ado namo2 nan mirip jo namo nan biaso kita kenal dalam kaba. Misalnyo Putri
Langgoni-namo ko mirip jo namo Puti Lenggogeni (anak dari Tuan Titah Datuk
Bandaharo di Sungai Tarab. Putri Rumandang Bulan-mirip jo namo Sutan
Rumanduang (Dang Tuanku).

Jadi memang alah banyak keturunan Pagaruyung ko nan manjadi cikal bakal
rajo2 kerajaan di lua Minangkabau misalnyo kerajaan Kota Pinang ko.

Sabalumnyo kapatang alah dilewakan ttg hubungan Pagaruyuang jo Lampuang.

 

Kini molah kito baco salangkoknyo sbb:


Sejarah Mandailing 

By. Muhammad Sadat Husein Pulungan.
(Petikan dari Buku Cenderamata Lembaga Adat Mandailing Malaysia).

Orang Mandailing diriwayatkan berasal dari Munda yaitu sebuah daerah di
India Tengah. Mereka telah berpindah-pindah pada abad-ke 6, karena terpukul
dengan serangan bangsa Arayan dari Irak yang meluaskan pengaruh mereka.
Setelah melintasi Gunung Himalaya mereka menetap sebentar di Mandalay, yaitu
ibu negara Burma purba. Besar kemungkinan nama Mandalay itu sendiri
datangnya dari perkataan Mandailing yang mengikuti logat Burma. Sekali lagi
mereka terpaksa bepindah karena pergolakan suku kaum di Burma yang sering
berperang.Pada waktu itu mereka melintasi Selat Malaka , yang pada masa itu
bukan merupakan suatu lautan yang besar, sangat dimaklumi bahwa pada masa
itu dibagian tertentu Semenanjung Tanah Melayu dan Sumatera hanya di
pisahkan oleh selat kecil saja. Kaum Munda telah berjaya menyeberangi laut
kecil tersebut dan mendirikan sebuah kerajaan di Batang Pane, Portibi,
diduga peristiwa ini terjadi di akhir abad ke - 6. Kerajaan Munda Holing di
Portibi ini telah menjadi mashur dan meluaskan wilayah taklukannya hingga
kesebahagian besar pantai Sumatera dan Tanah Melayu.

Keadaan ini menimbulkan kemarahan kepada Maharaja Rajenderacola lalu beliau
menyerang kerajaan Munda Holing dan negara pantai lainnyadi abad ke-9.
Tenteara kerajaan Munda Holing yang di pimpin oleh Raja Odap-Odap telah
ditewaskan oleh Rajenderacola dan berkuasa di seluruh daerah Batang Pane.
Tunangannya Borudeakparujar telah melintasi Dolok Maela (sempena Himalaya
yang didaki oleh nenek moyangnya) dengan menggenggam segumpal tanah di
Portibi untuk menempah satu kerajaan baru (Menempah banua).

Kerajaan kedua di Sumatera di didirikan di Pidoli Dolok di kenali sebagai
kerajaan Mandala Holing artinya kawasan orang-orang Keling.  Pada masa itu
mereka masih beragama Hindu memuja Dewa Siva. Di abad ke 13, Kerajaan
Majapahit telah menyerang ke Lamuri, Padang Pariaman dan Mandailing. Sekali
lagi kerajaan Mandala Holing ini telah di bumi hangus dan hancur. Penduduk
yang tidak dapat di tawan telah lari kehutan dan bercampur-gaul dengan
penduduk asli. Lalu terbentuklah Marga Pulungan artinya yang di kutip-kutip.

Di abad ke-14 dan ke 15, Marga Pulungan telah mendirikan tiga buah Bagas
Godang di atas tiga puncak Bukit namun kerajaan tersebut bukan lagi sebuah
kerajaan yang besar, hanya merupakan kerajaan kampung. Di pertengah abad
ke-14, terdapat legenda tiga anak Yang Dipertuan Pagar Ruyung yang bernama
Betara Sinomba, Putri Langgoni dan yang bungsunya Betara Gorga Pinanyungan
yang mendirikan dua buah kerajaan baru. Betara Sinomba telah di usir oleh
Yang Dipertuan dari Pagar Ruyung karena kesalahan bermula dengan adiknya
Putri Langgoni.

Kedua beradik tersebut berserta pengikutnya telah merantau dan mendirikan
kerajaan di Kota Pinang. Yang di Pertuan Kota Pinang inilah yang menurunkan
raja-raja ke Kota Raja, Bilah, Kampung Raja dan Jambi. Adiknya Betara Gorga
Pinanyungan di dapati bersalah belaku adil dengan sepupu sebelah ibunya
yaitu Putri Rumandang Bulan. Oleh kerana tidak ada lagi pewaris takhta
makanya putri tersebut ditunangkan dengan Raja Gayo. Sewaktu Putri Rumandang
Bulan di bawa pergi ke Gayo beliau telah membawa satu tandan pinang masak
lalu ditanamnya sebiji pinang tersebut pada setiap kali rombongan tersebut
behenti hinggalah sampai di tebing sebatang sungai.

Di tebing sungei itu baginda telah melahirkan seorang anak laki-laki yang
gagah dan perkasa. Ketika rombongan tersebut ingin meneruskan perjalanannya
ke Gayo maka datanglah petir dan guntur yang amat dasyat hingga kemah mereka
tidak dapat di buka. Begitulah keadaannya sehingga tujuh kali percobaan.
Akhirnya seorang Datu telah memberitahu bahawa anak tersebut hendaklah
ditinggalkan di atas batu di bawah pohon sena tempat ia dilahirkan kerana
putera tersebut akan menjadi seorang raja yang besar di situ. Putri
Rumandang Bulan enggan puteranya ditinggalkan karena dia ingin mati bersama
anaknya, apabila Raja Gayo kelak mendapati bahwa dia bukan lagi perawan.

Di dalam keadaan tersebut tepancarlah pelangi maka menitilah tujuh orang
bunian di ikuti oleh Dewa Mangala Bulan dari Kayangan. Puteri tersebut di
simpan kedalam sungai berdekatan lalu bermandikan dengan bunga-bunga sena
yang sedang berkembang. Apabila keluar dari sungai tersebut di dapati
perut-perut yang menandakan baginda telah melahirkan tidak lagi kelihatan.
Maka nama sungai tersebut di kenali sebagai "Aek Batang Gadis" artinya, air
sungai yang memulihkan gadis/perawan. Anak yang ditinggalkan di bawah pohon
sena tersebut telah di temui oleh rombongan Sultan Pulungan yang sedang
memburu, lalu dipunggutnya.

Anak yang dibesarkan di dalam kandang di bawah rumah tersebut akhirnya telah
berhasil melarikan diri dan mendirikan sebuah kerajaan dan kemudiannya
mengalahkan Sultan Pulungan. Anak tersebut yang di kenali sebagai Sibaroar
yaitu kandang di bawah rumah akhirnya menjadi raja besar di Penyabungan.
Oleh karena raja di Penyabungan yang tersembunyi diketahui orang akan ibunya
maka dipanggilah kerajaannya sebagai kerajaan "MANDE NAN HILANG", pendeknya
Mandailing atau pun Mandehilang. Beliau juga adalah pengasas/penegak Marga
Nasution., artinya orang sakti. Ketika cerita kebesaran Sibaroar yang di
gelar Sutan Diaru tersebar jauh ke Pagar Ruyung maka Yang Dipertuan Pagar
Ruyung pun terkenang akan Putri Rumandang Bulan yang hamil di bawa ke Gayo.

Baginda dan pengiringnya pun berangkatlah mengikuti pohon-pohon pinang yang
telah di tanam oleh bekas kekasihnya itu hingga sampailah di tepi sungei
yang di namakan "Aek Batang Gadis" lalu di bawa mengadap kepada Sutan Diaru
di penyabungan. Setelah panjang lebar bercerita lalu pengasuh yang bernama
Sisauwa telah menunjukkan kain sutera kuning pinang masak yang membalut
Sutan Diaru sewaktu baginda dijumpai di bawah pohon sena di Aik Batang Gadis
berserta aguk yang dikalungkan oleh ibunya Putri Rumandang Bulan. Maka
ketahuanlah akan Yang Di Pertuan Pagar Ruyung, bahwa Raja Sutan Penyabungan
tersebut adalah anaknya.

Seluruh isi negeri bersukaria dan Sutan Diaru pun di tabalkan secara rasmi
sebagai Raja Penyabungan. Pada masa yang sama juga utusan dari Kota Pinang
telah datang ke Penyabungan untuk mengundang Yang Dipertuan Pagar Ruyung
kesana untuk bertemu kekandanya yang telah lama tidak berjumpa. Lalu kata
Yang Dipertuan, "Beta tetap akan mengunjungi kekanda beta di Kota Pinang."
Maka itu pada hari ini Kota Pinang di kenali sebagai Tanah Abang, dan
Penyabungan di kenali sebagai Tanah Adik, sempena peristiwa Betara Sinomba
mengundang adiknya Betara Gorga Pinanyungan di Penyabungan supaya baginda
datang ke Kota Pinang walaupun adiknya mempunyai kerajaan yang lebih besar
di Pagar Ruyung.

Kerajaan Sibaroar @ Sutan Diaru di Penuyabungan akhirnya bekembang luas
menguasai seluruh Mandailing Godang yang sangat subur tanahnya. Diabad ke-19
yaitu sekitar 1916, Tentera Paderi di bawah pimpinan Tuanku Imam Bonjol
telah mengutuskan Raja Gadumbang Porang atau lebih di kenali sebagai Tuanku
Mandailing untuk mengislamkan Tanah Mandailing. Tentera Paderi telah masuk
ke Mandailing melalui Muara Sipongi dan menakluki Penyambungan pada awal
1816. Kemudiannya Belanda pula memasuki Mandailing sekitar 1835, ini telah
mengakibatkan banyak dari raja-raja Mandailing yang menentang dan terpaksa
mundur dan menyeberangi Selat Melaka dan terus menetap di Tanah Melayu.
Orang-orang Mandailing bekas panglima tentera paderi telah memainkan peranan
penting di dalam perjalanan sejarah di Tanah Melayu iaitu Tanah Pelarian.

Nama seperti Tuanku Tambusai, Raja Asal, Raja Laut dan Sutan Naposo tercatat
di dalam sejarah pergolakan perang saudara di Pahang dan Selangor.
Perpindahan orang Mandailing bermula sejak lama, diantaranya adalah
disebabkan perselisihan faham keluarga, menjae atau merajuk, kalah perang
atau pelarian atau buruan kerana berbagai kesalahan adat atau hukum.
Kejatuhan Penyabungan ketangan Tentera Paderi 1816 dan gerakan mengislamkan
Tanah Mandailing berikutnya. Ada diantaranya di hantar ke Semenanjung.

Namun perpindahan yang paling ketara bermula sejak beramai-ramai sebagai
budak/abdi dan ada di antaranya melarikan diri bersama keluarga mereka untuk
mencari tempat tinggal yang lebih aman. Serangan Raja Gadumbang Porang atau
Tuanku Mandailing dengan tentera paderi tidaklah begitu menekan tetapi
apabila Tuanku Lelo bertubi-tubi menyerang Penyabungan dan memburu yang
Dipertuan Huta Siantar bersama pengikutnya; pembunuhan beramai-ramai telah
memaksa sebahagian besar penduduk Mandailing melarikan diri ke Tanah Melayu,
sekitar tahun 1816 - 1832.

Ada pula di antara raja-raja Mandailing yang mengikut tentera Paderi seperti
Patuan Maga, Baginda Sidursat dan lain-lainnya telah menentang Tuanku Lelo.
Di bawah pimpinan Tuanku Mandailing beberapa orang panglima perang paderi
akhirnya menyerang Kubu Tuanku Lelo di Padang Sidempuan dan menewaskannya.
Salah seorang anak raja Mandailing bernama Jahurlang yang bergelar Tuanku
Bosi yaitu anak kepada Patuan Maga telah menyertai Tuanku Imam Bonjol
sebelum jatuhnya benteng Padang Sidempuan.

Beliau diamanahkan oleh Tuanku Imam Bonjol untuk menjaga Bentang Bonjol pada
tahun 1837 - sewaktu beliau berunding dengan Belanda. Jahurlang atau Tuanku
Bosi diberikan pedang Al-malik kepunyaan Tuanku Rao yang terkurban di Air
Bagis sebagai tanda mengambil alih pimpinan di Bonjol. Malang sekali Bentang
Bonjol tidak dapat dipertahankan kerana kekuatan tentera Belanda, akhirnya
Tuanku Bosi dengan pengikutnya tepaksa mundur ke Benteng Dalu Dalu.

Melihat pedang Al-Malik di tangan Tuanku Bosi, maka Tuanku Tambusai telah
merencanakan pengunduran beliau bersama pengikutnya dan Benteng Dalu Dalu
diserahkan kepada Tuanku Bosi. Tuanku Tambusai dengan diiringi oleh Tuanku
Raja Asal, Abdullah Zawawi (anak kepada Tuanku Bosi) yang kemudiannya di
kenali sebagai Raja Laut berundur bersama pengikut mereka ke Tanah Melayu.
Benteng Dalu-Dalu jatuh ketangan Belanda pada 1838. Tuanku Bosi turut
terkurban setelah mendapat luka-luka parah di dalam pertempuran tersebut.
Tuanku Tambusai, Raja Asal dan Raja Laut mendarat di Melaka dan pergi ke
Lukut mencari tempat tinggal.

Tidak lama kemudian Raja Laut diperintahkan kembali ke Sumatera untuk
mencari saki baki tentera paderi bagi mengatur serangan balas terhadap
Belanda. Raja Asal meninggalkan Lukut kerana terdapat sedikit kekecuhan di
sana, beliau pergi ke Kelang membuka Lombong Bijih Timah sekitar tahun 1843.
Tuanku Tambusai mencari tempat tinggal yang terpencil di Negeri Sembilan dan
menetap di sana. Raja laut berulang alik antara Sumatera dan Tanah Melayu
sambil menyerang kapal-kapal dagang Belanda, Inggeris, Cina dan India yang
melintasi Selat melaka. Maka itu beliau di sebut Raja Laut. Sekitar tahun
1850, Raja Asal telah meinggalkan Kelang dan berjijrah ke Pahang
bersama-sama pengikutnya.

Di Pahang Raja Asal telah melibatkan diri di dalam perusahaan melombong
bijih timah dan berjual beli bijih timah. Raja Asal telah dapat menembusi
istana Bendahara Tun Ali dan bersahabat baik dengan keluarga pembesar di
Pahang. Beliau bersahabat baik dengan Tun Mutahir anak Tun Ali. Tun Ali
mangkat pada tahun 1857. Raja Asal telah berkahwin dengan Wan Putih atau
dalam bahasa Mandailing di panggil Siputeh. Perang saudara di Pahang belaku
pada tahun 1857 - 1863, Raja Asal terlibat di dalam perang tersebut kerana
berkahwin dengan keluarga Tun Mutahir yang menjadi Bendahara Pahang yang
baru.

Perang saudara tersebut di menangi oleh Wan Ahmad iaitu adik kepada Tun
Mutahir. Sewaktu luka parah Tun Mutahir telah berundur bersama anak-anaknya
Wa Da dan Wan Aman serta Raja Asal kesempadan Negeri Selangor. Wan Putih
telah di jemput oleh hamba Raja Asal bernama 'Sipuntung', lalu di bawa ke
Selangor. Di Selangor Raja Asal kembali menjalankan usaha membeli dan
menjual bijih timah. Dana Paderi yang diamanahkan kepadanya dilaburkan
sekali lagi untuk membiayai saki-baki tentera Paderi yang menjadi
pengikutnya. Oleh itu beliau sentiasa berhubung dengan Raja Laut yang
diutuskan untuk mengumpulkan saki-baki tentera Paderi di Sumatera.

Tuanku Tambusai yang sudah uzur tidak lagi memainkan peranan penting untuk
memulihkan semula kekuatan Paderi di Sumatera. Apabila Tuanku Raja Asal
mengambil keputusan untuk menyokong Raja Mahadi di dalam Perang Kelang untuk
menentang Raja Abdullah (dalam tahun 1866) maka beliau telah menghubungi
Raja Laut untuk mendapat bantuan bekas tentera Paderi di dalam peperangan
tersebut. Sewaktu Kelang jatuh dan kemudiannya Kuala Lumpur turut jatuh
kerangan orang-orang Mandailing, Raja Asal telah memerintahkan hambanya
Sipuntung untuk membunuh Dato' Bandar Yassih yang berketurunan Bugis kerana
banyak menindas dan menyeksa orang-oranag Mandailing. Campurtangan Tengku
Kudin sebagai wakil Sultan Abdul Samad yang memerintah Selangor mulai 26hb.
June, 1868, telah mengubahkan suasana politik di Selangor.

Tengku Kudin mendapat bantuan dan sokongan dari nggeris. Walaupun pada
mulanya Raja Asal, Sutan Na Poso dan kapitan Yap Ah Loy bersahabat baik
tetapi pada tahun 1871 mereka berselisih faham dengan Yap Ah Loy atas urusan
perniagaan bijih timah. Pada bulan Mei 1872, Raja Asal bersama Raja Laut
telah membawa angkatan perang mereka untuk menyerang Kuala Lumpur. Mereka
telah berkubu di Petaling Batu, iaitu di Jalan Cheras sekarang, bersama
lebih kurang 2,000 orang bekas tentera Paderi dari Sumatera. Satu
pertempuran telah berlaku diantara pasukan Raja Asal/Raja Laut dengan
pasukan Kapitan Yap ah Loy yang di bantu oleh Kapten Van Hagen dan Kapten
Cavalier yang akhirnya mengalami kekalahan teruk di mana seramai 730 tentera
mereka telah terkurban.

Kejayaan Raja Asal dan Raja Laut merebut Kuala Lumpur dari Kapitan Yap Ah
Loy dan sekutunya telah mendesak Tengku Kudin meminta bantuan tentera dari
Pahang dan Pulau Pinang. Pada pertengahan tahun 1872 Pahang telah bersubahat
dengan Tengku Kudin untuk mengalahkan Raja Asal yang di sokong oleh
orang-orang Mandailing, Rawa (Rao), Batubara dan orang Minangkabau yang
merupakan saki-baki tentera Paderi, Raja Asal tersebut bergelar Tuanku Raja
Asal - bukanlah bererti beliau itu Raja yang memerintah tanah Mandailing,
gelaran Tuanku itu adalah gelaran Panglima Tetera Paderi.

Raja di Tanah Mandailing dipanggil Baginda, bukannya Tuanku. Pada akhir
1872, tentera Pahang telah menyerang kubu Raja Asal di Ulu Kelang. Tentera
Pahang yang di pimpin oleh Imam Perang Raja Rosu (Tok Gajah) telah
ditewaskan oleh tentera Raja Asal yang di pimpin oleh Panglima dari
Mandailing bernama Jabarumun, yang berkubu di Ulu Kelang. Isteri Raja Asal
yang benama Wan Putih (Siputih), bersama orang-orang Telu gigih pula
mempertahankan satu lagi kubu Raja Asal yang kini tempatnya dikenali sebagai
Siputeh, sempena nama beliau yang dikagumi oleh orang-orang Mandailing.

Pada bulan Mac, 1873, sekali lagi Raja Rosu bersama tentera dari Pahang
menyerang Ulu Kelang dengan kelengkapan yang lebih hebat, oleh kerana
bantuan yang dinantikan dari Raja Laut tidak dapat mendarat di Kelang maka
mereka telah mendarat di Teluk Mak Intan, maka kubu Raja Asal pun jatuhlan
ketangan orang Pahang. Raja Laut bersama lebih kurang 1,000 orang Batak yang
baru di Islamkan telah mendarat di satu kawasan yang kini di kenali sebagai
Batak Rabit kerana telinga dan hidung mereka menggunakan subang yang besar
hingga terjuntai lubang telinga dan hidung mereka. Raja Laut telah melintasi
sebatang sungai yang mengalir di tengah-tengah lalu di panggil mereka Aik
Batang Padang ataupun di kenali sebagai Sungei Batang Padang, sedangkan
batang dalam bahasa Mandailing itu adalah sungei.

Didalam perjalanan mereka ke Ulu Selangor, mereka telah menerima berita
kekalahan Raja Asal di Bukit Nenas lalu mereka bekemah di Ulu Bernam/Slim
menanti Raja Asal yang sedang menuju ke Negeri Perak. Sebelum bertemu dengan
Raja Asal di Slim/Ulu Bernam maka satu persetujuan telah diadakan supaya
Jabarumun/Raja Barumun di hantar mendapatkan Sutan Na poso (Sutan Puasa)
yang bekubu di Ulu Langat bagi mengatur satu serangan balas ke atas Tengku
Kudin dan Raja Bosu. Berikutnya Sutan N Poso tidak begitu yakin keraja Raja
Asal tidak menyertai pasukan perang yang hanya di pimpin oleh Jabarumun/Raja
Barumun.

Pasukan perang tersebut telah pulang tetapi di tengah jalan mereka sempat
juga menyerang orang-orang Cina di Pudu dan juga Ulu Kelang. Kedai mereka di
bakar dan pembunuhan pun berlaku di kedua-dua kawasan tersebut. Raja Laut
dan pengikutnya tidak mengikut Raja Asal ke Changkat Piatu, mereka telah
berkampung di Air Kuning dan Banir di negeri Perak. Raja Laut meninggalkan
anaknya yang sulung benama Basir Nasution atau pun lebih di kenali sebagai
Syeh Basir guru agama di Air Kuning. Raja Laut telah kembali kepada cara
hidup lamanya berulang alik di Selat Melaka sehinggalah beliau terkorban di
dalam salah satu perempuran laut dengan angkatan perang Belanda di Labuahan
Bilik.

Anaknya Syeh Basir Nasution telah kembali ke Sumatera untuk mengumpulkan
semula kaum keluarganya tetapi beliau tidak lagi kembali menetap di Air
Kuning. Anaknya yang tua benama Ja Akob atau di kenali sebagai Jakub tinggal
di Banir dan Air Kuning. Raja Asal telah di terima mengadap Raja Idris iaitu
putera Mahrum Teja yang berkuasa di kawasan Teja, lalu diberikan satu
kawasan melombong yang luas di Changkat Piatu. Raja Asal juga telah
diberikan kuasa mengutip cukai bijih timah di muara pertemuan Sungai Pinji
dan Sungai Kinta.

Sebuah Pengkalan mengutip cukai yang teguh telah di bina oleh Raja Asal.
Oleh kerana ia sebuah pengkalan yang teguh akhirnya mengikut "telor" orang
Perak lalu disebut Pengkalan Pegoh. Raja Asal juga telah membina sebuah
perkampungan orang-orang Mandailing di Changkat Piatu, lalu berkumpullah
sebahagian besar orang Mandailing di Changkat Piatu. Orang-orang Rawa pula
di tempatkan di Gopeng di bawah pimpinan Panglima Jabarumun atau lebih di
kenali sebagai Imam Perang Jabarumun. Isteri Raja Asal yang mengikutinya
setelah tinggal di Bukit Nenas di tawan oleh tentera Pahang telah berjalan
kaki mencari suaminya hingga sampai kesuatu tempat berhampiran Pusing, di
sana beliau bersama pengikutnya telah berkampung sementara menanti utusan
Raja Asal menjemput mereka . Kampung tersebut sehingga hari ini di kenali
sebagai Siputeh.

Itulah sebabnya terdapat dua tempat yang dinamakan Siputeh, masing-masing di
Selangor dan di Perak. Adalah diberitakan bahawa dalam tahun 1874, apabila
perjanjian Pangkor termeteri maka banyaklah pembesa-pembesar Negeri Perak
yang tidak puashati. Memandangkan Raja Asal ini seorang yang gagah berani
dan banyak pengalamannya di dalam peperangan maka datanglah beberapa orang
di antara mereka meminta campurtangan beliau (Raja Asal) untuk mengusir
Inggeris dari negeri Perak. Raja Asal menolak permintaan mereka untuk
campurtangan dalam pergolakan di Perak kerana beliau telah uzur dan letih
untuk berperang sepanjang usia remaja dan dewasanya.

Paktan untuk membunuh J.W.W Birch tidaklah disertainya tetapi Raja Asal
telah meminjamkan hambanya Sipuntung yang sangat dipercayai sebagai tanda
penyertaannya untuk membersihkan bumi ini dari campurtangan orang-orang
kafir yang ditentangnya sejak beliau memeluk agama Islam. Raja Asal tidak
pernah menjadi Penghulu di Mukim Belanja, Penghulu Belanja yang pertama
adalah Raja Bilah, iaitu anak saudara kepada Raja Asal. Sewaktu J.W.W Birch
di bunuh pada tahun 1875 Mukim Belanja belum lagi diujudkan.

Sila lihat perlantikan Raja Bilah sebagai penghulu Belanja yang pertama.
Semasa J.W.W . Birch di bunuh Raja Asal sudah mula gering dan tidak mampu
lagi mengendalikan urusan melombong ataupun mengutip cukai bagi pihak Raja
Idris (Sultan Perak). Akibatnya beliau terhutang $3,000.00 kepada pihak yang
berkuasa. Sepanjang keadaannya gering itu Raja Bilahlah yang menguruskan
semua urusan Raja Asal. Akhirnya Raja Bilah telah meminta Raja Asal
menyerahkan kuasa sepenuhnya kepadanya supaya dapat beliau membayar semua
hutang tersebut. Setelah enam bulan kuasa diserahkan kepada Raja Bilah
barulah segala hutang piutang tersebut dapat diselesaikan.

Raja Asal dalam usia yang agak lanjut dan kesan dari kekalahan serta
kegagalannya tidak lagi merupakan seorang yang aktif di dalam urusan maka
itu semua urusan dikendalikan oleh Raja Bilah. Tuanku Raja Asal telah
meninggal dunia pada 1878 dan di semadikan di Changkat Piatu di antara
pertemuan Sungai Pinji dengan Sungei Kinta. Sehingga hari ini makam beliau
masih tertegak megah di atas tanah perkuburn Changkat Piatu.

sumber :  gunungbaranimadina.wordpress.com
<http://gunungbaranimadina.wordpress.com/2009/11/03/sejarah-mandailing/>  /
http://nst.web.id/2010/01/news/asal-usul-mandailing/ 

 

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.

Kirim email ke