AssWrWb, Wah, kepemimpinan Irwan, Gub Sumbar di didiskusikan, belum sampai serumur jagung sdh di 'ketuk pintunya", Gebu Minang belum sempat meng ekpos program2 nya secara keseluruhan, mass media sdh memberitakan,Pemda menolak KKM,...makanya Gebu Minang minta audiensi dgnn Gub dlm suratnya bbrp hari yl. Seorang di harian Singgalang juga berusaha mengetuk pintu Irwan dgn gaya kepemimpinannya, tentu dengan kriteria dan parameter yg di milikinya. Sayangnya kita tak mengetahui apa2 kreteria dan parameter yg digunakannya. Tentu ada yg berpendapat masa tugas nya masih panjang , mari kita lihat dulu lah. Tp yg jelas hal ini mengingatkan kita : bhw diMinang, Pemimpin itu di tinggi kanseranting".
Wass Muzirman Tanjung ----------------------------------------------------- http://www.hariansinggalang.co.id/sgl.php?module=detailberita&id=899 Rabu, 29 September 2010 Mengetuk Pintu IrwanALWI KARMENA Akan ihwalnya Irwan Prayitno, Gubernur Sumbar yang baru, dengan langkah awalnya, ada beberapa hal yang terasa, tapi rumit untuk dikatakan secara fulgar. Khawatir, nanti �awak� akan dikatakan �Don Kisot�, si pahlawan kesiangan yang malu karena hangus dibakar matahari. Akan tetapi, kalau didiamkan, walaupun kecil, ianya bisa jadi agak mengganggu, bagai kerikil dalam sepatu. Selang lebih kurang dua bulan pasangan Irwan Prayitno dan Muslim Kasim menjalankan �kegubernurannya� di Sumatra Barat, jujur saya katakan, belum terasa benar gereget �buang tangannya� oleh masyarakat. Mulanya saya berpikir - Barangkali hal ini lebih dikarenakan perbedaan �gaya�, dibanding gubernur sebelumnya, yang kebetulan memang agak atraktif. Ya. Sebutlah, Harus Zain, Azwar Anas, Hasan Basri Durin dan Gamawan Fauzi. Rasanya, kalau diibaratkan mesin, Irwan seperti �diesel� baru, agak lama panasnya. Dari beberapa upaya �tampil� di beberapa forum, Irwan terkesan agak canggung dengan apa yang dilakukannya. Ekspresinya tipis. Sungguh. Padahal, bahwa dia pintar, (kalau berlebihan disebut cerdas), dilihat dari gelar dan latar belakang kariernya, itu tak bisa didustakan. Sayang, entah kenapa, di awal-awal penampilannya, terkesan dia seperti salah memilih irama. Padahal, lagunya mungkin bagus. Kalau di dunia nyanyi menyanyi, dia bagai penyanyi yang salah memilih � nada dasar �. Mestinya di main di C minor, jadinya main di A. Rendah sekali, sehingga ketika mengucapkan syair, kerendahan nada dasar tersebut dapat menghilangkan artikulasi. Akibatnya, penonton hanya melihat si penyanyi komat kamit. Apa lagunya...ndak jelas.... Maaf. Irwan, secara karakteristik tampilan, memang berbeda jauh dari Harun Zain, Azwar atau Gamawan. Dia kalem. Dalam berpidato saja, suara beliau ini terdengar agak menekan ke dalam. Powernya tidak full. Tapi, hal ini bukan sebuah halangan untuk berekspresi. Banyak kiat untuk menyampaikan ekspresi lewat improvisasi. Misalnya saja, punya formula �joke� atau sains of humor. Cuma, sebagai gubernur yang bijak memilih pasangan, dalam �gaya�, dia sekali kali tidak boleh tenggelam di balik bayangan Muslim Kasim. Gaek yang satu itu, kalau dalam hal �kirai mangirai�... nomor satu di �duya�...?! Menyampaikan hal ini, saya tidaklah punya pretensi apa-apa. Saya tak kenal Irwan sedikitpun juga. Jangankan bicara beriya iya, berhadapan muka lebih dari lima detik saja saya belum pernah. Padahal, kesempatan untuk itu ada, baik itu di Padang maupun di Jakarta. Bahkan, kalau dipikir pikir, kantor gubernur nyaris merupakan �posko� bagi saya dan kawan-kawan seprofesi. Mendekati ruang kerja Irwan maupun Muslim, belum berselera saya... Tapi, menyampaikan hal seperti ini, yang mudah mudahan ada gunanya, saya suka. Diterima tak diterima, saya tidak akan rugi apa apa. Soalnya, kita mau tak mau harus menerima dan menempatkan Irwan � seorang yang tadinya tokoh partai tidak lagi hanya sebagai orang partai tapi gubernur, orang yang kita hormati dan kita percaya mengayomi semua sentra. Betapa tidak, kadang siapa lagi kita berharap, kalau tidak pada pemimpin kita ? Kiranya, karena keikhlasannya, mereka bisa membuat provinsi beserta rakyat yang berdiam di sini, betul betul merasakan sedikit perobahan. Perbaikan yang nyata hari ke hari, walau sesenti demi sesenti. Itulah soalnya. Gubernur tidak boleh dibiarkan sendiri. Bak pepatah orang Minang. Pemimpin itu dekat dengan rakyat. Dianya ditinggikan seranting- dahulukan selangkah. Tidak jauh. Hingga ianya masih bisa dijangkau, diimbau, tidak sekadar disilau yang membuat mata kita silau. Tulisan ini mungkin hanya sampai taraf diimbau. Judulnya saja �Mengetuk Pintu Irwan�, bukan mengetuk Irwan di pintu. (*) -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta r...@ntaunet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.
