http://www.indrapiliang.com/2010/10/01/ceritalah-indonesia/
Judul : “Ceritalah Indonesia”
Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia.
Penulis : Karim Raslan.
Tahun Terbit : 2010.
Halaman : xxii & 136.
Ceritalah Indonesia
Saya membaca buku ini dengan takjub. Judulnya: “Ceritalah Indonesia”.
Penulisnya: Karim Raslan, seorang teman yang diperkenalkan oleh Rizal Sukma
yang kini memimpin Centre for Strategic and International Studies (CSIS). Dulu,
Karim suka sekali bicara politik dengan saya, termasuk politik lokal secara
bergairah. Kini, Karim barangkali agak khawatir betapa politik di Indonesia itu
kurang baik bagi saya, sehingga agak jarang berkomunikasi. Tidak apa.
Ketika rencana buku ini disampaikan Karim, saya menyambut dengan baik. Apalagi
ada editor yang saya kenal handal sejak kuliah di UI: Linda Christanty. Benar
saja, Linda ternyata berlatar-belakang Melayu juga, berasal dari Bangka. Saya
baru tahu atau tepatnya sadari itu, ketika membaca pengantar Linda di buku ini.
Bayangan radio transistor juga ada dalam masa kecil saya, sebagaimana Linda,
sebagai pengisi hari-hari kami. Radio yang berisikan siaran-siaran nasional,
internasional dan tentu Malaysia. Itu tahun 1970-an sampai 1980-an.
Kini, apakah rasa kemelayuan itu masih ada? Saya tak begitu tahu lagi. Perlu
riset yang agak lama tentang rasa Melayu atau Malaysia di kalangan anak-anak
usia sekolah dasar dan menengah, sebagaimana Linda dan saya mengalami dulu di
Sumatera. Tapi, apakah itu penting? Pentingkah rasa kemelayuan itu bagi
anak-anak sekarang? Pentingkah Upin-Ipin itu? Karim Raslan dengan keahliannya,
telah membeber secara tak langsung sisi kemelayuan itu dengan caranya menulis:
bercerita.
Kalau kemudian Karim banyak mengurai soal kemelayuan itu, saya kira bukan
karena tema-tema yang dituliskan, tetapi lebih dari sisi cara menulisnya. Dan
yang diceritakan Karim bukanlah Melayu, tetapi Indonesia! Indonesia dengan
beragam warna. Karim bisa menulis sebuah pameran seni-rupa dengan hidup dan
kita baru memahami arti dari susunan patung-patung, misalnya, dari
kata-katanya. Karim menghidupkan sebuah lukisan lewat kata-kata. Dengan kata
yang menjadi cerita, Karim menghidupkan keindonesiaan itu.
29 artikel atau cerita yang dikumpulkan dalam buku ini dibagi ke dalam tiga
tema: seni, politik-ekonomi dan hubungan dua negeri. Tema yang luas. Tetapi
bingkai yang bisa diberi untuk buku ini satu: budaya. Tentu saya tak ingin
menyebut Karim adalah seorang budayawan, sesuatu yang tentu ia tak sukai.
Budayawan, untuk banyak hal di masa lalu, mirip dengan sebutan empu atau resi,
seseorang yang seolah tahu segalanya tapi sebetulnya hanya mengurai sisi-sisi
yang ia ketahui.
Indonesia yang sudah dan sedang berubah dengan menempuh jalur demokrasi, bukan
tak memiliki “budayawan” di masa kini, tetapi status itu telah turut punah
sebagai sesuatu yang istimewa. Maka, saya juga curiga bahwa budayawan di masa
lalu, Orde Baru maksud saya, adalah sosok yang barangkali menikmati juga
kediktatoran itu yang menempatkan dirinya (atau mereka) pada status terhormat
itu. Ketika mereka mengutuknya hari ini, saya kira sikap itu lebih sebagai
bentuk pencucian atas dosa-dosa sejarah mereka juga. Pembaca boleh setuju atau
tidak dengan pandangan dan kecurigaan ini.
Dan, aha, ini sisi yang paling menarik: ternyata membaca buku ini memberi
dampak yang sangat optimistik atas Indonesia. “Ceritalah Indonesia” adalah
gaung Indonesia di sebuah kedai kopi di pedalaman sana, kisah seseorang, satu
keluarga, atau benda-benda yang disentuh oleh seorang Karim Raslan. Karim
dengan caranya menulis menunjukan kecintaan yang berlebih atas Indonesia dan
sebaliknya agak sinis kepada pemerintah negaranya. Sikap yang lagi-lagi
membedakan Karim dengan kita sebut saja “kalangan intelektual” Indonesia yang
begitu sinis pada Indonesia, lalu sibuk menghamba-hambakan diri dan memuji-muji
negara lain di luar sana yang hanya sempat mereka singgahi beberapa saat saja.
Uhuiii...
Karim dengan buku ini menunjukkan sosok seorang pencerita yang terlanjur sayang
kepada apa yang diceritakan. Seseorang yang berpendidikan Universitas Cambridge
Inggris, pernah menjadi pengacara ternama, darah campuran Inggris-Malaysia
mengalir di dalam dirinya, ternyata hanya seorang pencerita yang penuh empati.
Cerita yang terus-menerus ditulisnya, biasanya seusai subuh, menjelang matahari
terbit.
Jakarta, 1 Oktober 2010
--
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta r...@ntaunet
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
1. E-mail besar dari 200KB;
2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi;
3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.