Mambaco postingan dan komentar-komentar dari sanak pambaco tentang topik iko 
agak tagalak-galak ibo ambo deknyo. Apo lai ado sanak nan dengan emosi dan nada 
tinggi maagiah komentar dan di-counter lo dengan caro nan indak babeda.

Kalau buliah ambo cubo pulo urun pandapek sajauh nan ambo tahu dan ado 
pengetahuan tantang itu, kebetulan pulo konsern dan penelitian ambo berkutat 
seputar peran perempuan Minang pulo salamo ko.

Sapangatahuan ambo ado beberapa studi yang bekaitan dengan perempuan di 
Minangkabau yang dipelopori oleh Nancy Tanner pada dekade 60-an kemudian 
diikuti oleh Ok Yung Pak, Lynn Thomas, Keebet Benda-Beckmann, Carol Davis, 
Peggy Reeves Sanday, Joke van Reenen dan Evelyn Blackwood dan beberapa yang 
lain. Salah satu yang menjadi sorotan para penulis perempuan iko  adolah 
tingginya male bias dalam penelitian dan studi-studi tentang Minangkabau 
sabalunnyo serta karancuan dalam mempelajari masyarakat Minangkabau itu 
sendiri. 

Studi-studi sabalunnyo tu cenderung menempatkan perempuan pado posisi yang 
tidak penting dan pasif, katiko membahas tentang adat dan budaya Minangkabau 
yang dibahas selalu aktor pria, utamonyo mamak dan ayah. Nan acok dibahas 
adolah perubahan peran mamak dan ayah dan ketika peran itu bergesar dan berubah 
maka dianggap pula telah terjadi pergeseran dan perubahan dalam masyarakat dan 
budaya Minangkabau. Sementara itu peran dan kontribusi perempuan apakah itu 
ibu, nenek, etek, saudara perempuan tidak pernah dilihat secara memadai.

Hal lain yang juga sangat berkontribusi terhadap kerancuan mengenai studi 
Minangkaau berkaitan dengan sistem Matrilineal itu sendiri. Dalam 
literatur-literatur antropologi sistem matrilineal hanyalah dianggap sebagai 
varian atau bahkan bentuk deviasi dari sistem patrilineal. Sehingga 
konsep-konsep yang dipakai dan dikembangkan dalam memahami masyarakat 
Matrilineal adalah konsep yang dipakai dalam sistem patrilineal yang tidak 
terlalu pas digunakan dalam memahami masyarakat matrilineal seperti di 
Minangkabau.

Rujukan utama yang dipakai dalam menjelaskan sistem Matrilineal adalah  
Schneider dan Gough yang berpendapat bahwa perbedaan utama antara sistem 
patrilineal dan matrilineal adalah pada otoritas (power) dan pemilikan 
(property). Pada masyarakat patrilineal otoritas dan properti berada pada satu 
tangan yakni laki-laki sementara pada masyarakat matrilineal terbagi yakni 
otoritas ditangan laki-laki sementara pemilikan di tangan perempuan. 

Menurut Tanner hal itu tidak terlalu pas untuk diterapkan pada masyarakat 
Minangkabau dikarenakan walupun kekuasaan formal berada ditangan laki-laki, 
akan tetapi perempuan memiliki akses terhadap pengambilan keputusan itu. 
Sabalun rundiangan dibaok kalua, dipaiyoan dulu jo awak sao awak dan tentu saja 
itu harus melibatkan urang padusi. Temuan Tanner ko dipertegas dek Joke yang 
menyatakan bahwa perempuan memiliki tiga posisi kunci dalam hubungannya dengan 
aktor laki-laki yang sekaligus menjadi kartu "truf" bagi perempuan, yakni 
posisinya sebagai istri dalam kaitannya dengan suami, saudara perempuan dalam 
kaitannya dengan saudara laki-laki dan mamak, serta ibu dan nenek dalam 
kaitannya dengan anak dan cucu. Buku Blackwood yang berjudul Web of Power juga 
menggambarkan bagaimana hebatnya perempuan dalam mempengaruhi dan "menguasai" 
kampungnya sehingga mampu  mengubah aturan dan tradisi yang berlaku di nagari 
tersebut.

Bagaimana kontribusi peran perempuan dalam keluarga, kerabat dan komunitas. 
Jawabnya adalah sangat besar. Penelitian yang pernah saya lakukan pada awal 
2000-an menunjukkan bahwa peran sosial dan ekonomi kerabat perempuan ternyata 
luar biasa. Yang menarik misalnya ditemukan ada saudara perempuan yang membantu 
saudara laki-lakinya (padahal mestinya lelaki yang membantu kerabat 
perempuan)untuk banyak hal, mulai dari biaya kuliah, mencarikan jodoh, 
mencarikan pekerjaan bahkan memberikan bantuan finansial untuk saudara dan anak 
saudara laki-lakinya itu.

Baa lo soal peran politik perempuan? Manuruik ambo mungkin dek salamo ko urang 
padusi memang indak dibari tampek dalam ranah politik tu manyabkan peran 
politik padusi Minang terpinggirkan. Buktinyo di era otonomi daerah kini ko 
sewaktu pemilihan wali nagari alah dipiliah secara langsuang dek masyarakat, 
ternyato ado padusi yang berani tampil menjadi calon wali nagari. Manuruik 
catatan ambo dalam periode pemilihan wali nagari dari tahun 2007-2009 ado 
paliang indak 11 nagari di 7 kabupaten (Lima puluh Kota, Tanah Datar, Solok, 
Sijunjung, Padang pariaman, Agam dan Pasaman Barat)dimano padusi menjadi 
kandidat wali nagari. Bahkan 4 urang dari nan sabaleh tu berhasil mamanangkan 
pilwana, menjadi BA 1 di nagarinyo. Masing-masiang sorang di Kab. Limo Puluah 
Kota, 2 di Solok dan 1 di Tanah Datar. Dan dibeberapa nagari juga ada perempuan 
yang terpilih menjadi ketua Badan Musyawarah (Bamus) atau BPRN.

Apo masih kurang partisipasi perempuan?


Jend, 41, Pdg

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.

Kirim email ke